Elephants

Kenapa jerawat tidak boleh dipencet? Ini 5 risikonya

September 19, 2026

Jakarta (ANTARA) - Jerawat yang muncul di wajah memang sering bikin gemas. Apalagi ketika sudah terlihat matang dan rasanya ingin sekali segera dipencet agar cepat hilang.

Namun, kebiasaan tersebut justru bisa membuat kondisi kulit semakin buruk. Memencet atau mengorek jerawat sendiri dapat meningkatkan peradangan, memperbesar risiko infeksi, hingga meninggalkan bekas yang sulit hilang.

American Academy of Dermatology (AAD) menyebut memencet jerawat dapat membuat jerawat menjadi lebih terlihat, terasa lebih sakit, serta meningkatkan risiko infeksi dan munculnya bekas luka permanen.

1. Memperparah peradangan

Ketika jerawat dipencet, isi jerawat tidak selalu keluar ke permukaan kulit. Tekanan dari jari justru dapat mendorong sebagian isinya lebih dalam ke kulit.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan peradangan sehingga jerawat menjadi lebih merah, bengkak dan terasa sakit. Alih-alih cepat hilang, jerawat justru bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

Risiko ini terutama perlu diperhatikan pada jerawat yang berada cukup dalam, seperti nodul dan kista. Jenis jerawat tersebut memang dapat terasa nyeri dan memiliki risiko lebih besar meninggalkan bekas.

Baca juga: Penyebab badan berjerawat dan cara mengatasinya agar kulit kembali bersih

2. Meningkatkan risiko infeksi

Tangan yang digunakan untuk memencet jerawat tidak selalu dalam kondisi bersih. Bakteri dari tangan atau lingkungan dapat masuk ke kulit yang mengalami luka akibat tekanan atau kuku.

AAD menjelaskan bahwa memencet jerawat sendiri dapat meningkatkan risiko infeksi karena bakteri yang terdapat pada tangan bisa masuk ke area tersebut.

Karena itu, memegang wajah terlalu sering, termasuk sekadar menyentuh atau mengorek jerawat, sebaiknya dihindari.

3. Bisa meninggalkan bekas jerawat

Salah satu alasan utama untuk tidak memencet jerawat adalah risiko munculnya bekas. Peradangan dan kerusakan kulit akibat kebiasaan mengorek atau memencet dapat meningkatkan kemungkinan terbentuknya jaringan parut.

NHS menyebut kebiasaan memencet atau mengorek jerawat dapat menyebabkan bekas luka permanen. Bekas tersebut dapat berupa cekungan pada kulit atau bentuk jaringan parut lainnya.

AAD juga menjelaskan bahwa memencet, mengorek atau memecahkan jerawat dapat meningkatkan peradangan yang kemudian meningkatkan risiko terbentuknya bekas jerawat.

4. Bisa membuat noda gelap lebih lama

Selain bekas luka, jerawat yang mengalami peradangan dapat meninggalkan perubahan warna pada kulit setelah jerawat mereda. Kondisi ini dikenal sebagai post-inflammatory hyperpigmentation atau hiperpigmentasi pascaperadangan.

Menurut AAD, kebiasaan menyentuh, mengorek atau memencet jerawat dapat membuat jerawat membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh dan meningkatkan risiko munculnya noda gelap.

Noda tersebut berbeda dengan jaringan parut karena biasanya berupa perubahan warna yang rata dengan permukaan kulit. Meski dapat memudar, prosesnya bisa membutuhkan waktu.

Baca juga: Cara Menghilangkan Bekas Jerawat yang Bisa Kamu Coba

5. Jerawat bisa semakin terlihat

Memencet jerawat bukan berarti membuatnya langsung menghilang. Tekanan yang diberikan justru dapat membuat area di sekitarnya semakin meradang.

Akibatnya, jerawat dapat terlihat lebih merah dan menonjol. Pada beberapa kasus, muncul pula jerawat lain di sekitar area yang mengalami peradangan. AAD menyebut kebiasaan memencet dapat memperburuk kondisi jerawat.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?

Daripada memencet jerawat, biarkan kulit menjalani proses penyembuhan dan gunakan perawatan yang sesuai dengan kondisi kulit. AAD menyarankan untuk tidak menyentuh, mengorek atau memencet jerawat serta menggunakan produk perawatan jerawat yang sesuai.

Untuk jerawat yang terasa dalam dan sakit, jangan mencoba memecahkannya sendiri. AAD menyarankan agar jerawat jenis tersebut tidak dipencet karena dapat meningkatkan risiko infeksi, perubahan warna kulit dan jaringan parut.

Jika jerawat tergolong berat, sering muncul, berupa benjolan dalam yang nyeri, atau mulai meninggalkan banyak bekas, sebaiknya konsultasikan dengan dokter kulit. Penanganan yang tepat dapat membantu mengendalikan jerawat sekaligus mengurangi risiko terbentuknya jaringan parut.

Jadi, meski memencet jerawat terasa seperti cara tercepat untuk menghilangkannya, kebiasaan tersebut justru bisa membuat masalah kulit menjadi lebih panjang. Daripada sibuk memencet, lebih baik beri waktu kulit untuk pulih dan gunakan perawatan yang tepat.

Baca juga: Manfaat chemical peeling untuk sejumlah masalah kulit

Baca juga: Tips merawat kulit remaja saat memasuki masa pubertas

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.