Elephants

Kemerdekaan ekonomi melalui hilirisasi mineral - ANTARA News Ambon, Maluku

August 24, 2026

Jakarta (ANTARA) - Ketika menelaah kembali konsep kemerdekaan ala Tan Malaka, yakni “Merdeka 100 Persen”, bangsa Indonesia seperti dihadapkan kembali pada arti menjadi bangsa yang merdeka seutuhnya setelah dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan  81 tahun lalu.

Cita-cita kemerdekaan yang bukan sekadar bebas dari kekuasaan fisik penjajah, tetapi kedaulatan penuh secara mandiri di bidang politik, ekonomi, pertahanan, budaya, dan mental tanpa ada kebergantungan pada pihak asing, kembali dipertanyakan apakah masih jauh panggang dari api atau sedekat gajah di pelupuk mata.

Sebab disadari kemudian, kemerdekaan yang hakiki bukan semata-mata berbicara tentang kemampuan mengatur pemerintahan sendiri. Namun juga tentang sejauh mana bangsa ini mampu menentukan nasib kekayaan alamnya, menguasai teknologi, membangun industri, menciptakan pekerjaan, dan memastikan nilai ekonomi sumber daya alam dinikmati sebesar-besarnya di dalam negeri.

Itu termasuk dalam hal pengelolaan sumber daya alam di tanah sendiri. Ketika negeri ini dianggap unggul karena kekayaan SDA-nya maka kemerdekaan dalam menghilirisasi semestinya menjadi keniscayaan.

Hilirisasi juga seharusnya dimaknai lebih luas, tidak dipandang sekadar sebagai pembangunan smelter atau peningkatan ekspor produk olahan.

Di baliknya terdapat sebuah ikhtiar untuk mengubah posisi Indonesia dalam rantai ekonomi dunia. Dari negara yang selama puluhan tahun memasok bahan mentah menjadi bangsa yang mampu mengolah sumber dayanya sendiri dan secara bertahap menghasilkan produk industri bernilai tambah tinggi.

Presiden Prabowo Subianto dalam pidato Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD dalam rangka HUT ke-81 RI memberikan perhatian besar terhadap perjalanan tersebut. Ia menyebut pemerintah telah meluncurkan 13 proyek hilirisasi pada 6 Februari 2026 dan 13 proyek lainnya pada 29 April 2026.

Proyek-proyek itu mencakup pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) untuk menggantikan LPG, hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, hingga pengolahan alumina menjadi aluminium. Menurut Presiden, proyek-proyek tersebut juga menghasilkan puluhan ribu lapangan pekerjaan.

Angka investasi, kapasitas produksi, dan jumlah proyek tentu penting. Namun, ukuran keberhasilan hilirisasi sesungguhnya perlu dilihat lebih jauh.

Hilirisasi mestinya dipastikan mampu menciptakan pekerjaan berkualitas, meningkatkan kemampuan teknologi nasional, melahirkan industri turunan, memperkuat pengusaha domestik, mengurangi ketergantungan impor, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu peran BUMN harus semakin strategis. Presiden Prabowo mengatakan keuntungan BUMN digunakan untuk memperkuat downstreaming sekaligus upstreaming.

Artinya, pembangunan industri tidak cukup hanya memperbesar kapasitas pengolahan di hilir. Indonesia juga perlu memperkuat penguasaan sumber daya, teknologi, pasokan energi, kemampuan produksi, hingga akses pasar.

Holding pertambangam

Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID berada dalam pusaran transformasi tersebut.

Melalui ANTAM, INALUM, PT Bukit Asam, PT Timah, PT Freeport Indonesia, dan PT Vale Indonesia, rantai mineral Indonesia mulai dihubungkan dari pertambangan menuju pengolahan dan manufaktur.

Gambaran paling konkret terlihat pada bauksit. Di Mempawah, Kalimantan Barat, ANTAM berperan dalam pengelolaan sumber daya dan tambang bauksit, sementara PT Borneo Alumina Indonesia, perusahaan patungan ANTAM dan INALUM, mengolah bauksit menjadi alumina. INALUM kemudian berada pada bagian pengembangan dan pengolahan aluminium.

PT Bukit Asam turut menopang ekosistem tersebut melalui penyediaan energi.

Fasilitas di Mempawah memiliki kapasitas sekitar satu juta ton smelter grade alumina per tahun. Ini penting karena memperlihatkan bagaimana sebuah mineral dapat memperoleh nilai ekonomi berlapis ketika proses produksinya tidak berhenti pada penambangan.

Proyek tersebut termasuk dalam groundbreaking hilirisasi tahap pertama pada 6 Februari 2026. Danantara mencatat 13 proyek pada fase pertama memiliki total investasi hingga 7 miliar dolar AS dan diperkirakan menyerap lebih dari 6.000 pekerja langsung.

Transformasi serupa berlangsung pada tembaga dan emas.

Melalui PT Freeport Indonesia, produk tembaga tidak lagi diarahkan hanya untuk berhenti pada tahap pemurnian. Dalam proyek yang diluncurkan 29 April 2026, MIND ID menggandeng Pindad untuk mengolah katoda tembaga menjadi brass cup berkapasitas 10.000 ton per tahun.

Rencana berikutnya bahkan bergerak lebih jauh menuju manufaktur melalui fasilitas batang dan kawat tembaga berkapasitas hingga 300 ribu ton per tahun serta pipa tembaga 100 ribu ton per tahun.

Sementara itu, ANTAM memperkuat pengolahan dan pemurnian logam mulia, termasuk melalui integrasi pasokan emas Freeport Indonesia dengan fasilitas pengolahan ANTAM.

Perubahan ini penting karena tantangan hilirisasi Indonesia berikutnya justru berada setelah smelter. Memurnikan mineral memang menghasilkan nilai tambah, tetapi nilai ekonomi yang lebih besar dapat muncul ketika tembaga menjadi kabel, komponen elektronik, peralatan industri, atau produk manufaktur lain.

Dengan kata lain, smelter seharusnya menjadi jembatan menuju industrialisasi, bukan tujuan akhir.

Nikel memberikan gambaran tentang peluang yang bahkan lebih besar. ANTAM terlibat dalam rantai nilai mulai dari pertambangan hingga pengembangan material dan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Jika ekosistem ini berkembang secara utuh, Indonesia tidak hanya menjual bijih atau produk antara, tetapi berpeluang menjadi bagian penting industri kendaraan listrik dan teknologi energi masa depan.

Batu bara menghadirkan tantangan berbeda. PT Bukit Asam terlibat dalam pengembangan DME di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, yang diarahkan sebagai substitusi LPG.

Dengan sekitar 80 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi dari impor, gagasan mengubah sumber daya domestik menjadi produk pengganti impor memiliki dimensi ketahanan energi.

MIND ID bersama Pertamina juga mengembangkan opsi produk lain, termasuk synthetic natural gas (SNG) dan metanol.

Namun, setiap pilihan hilirisasi tetap membutuhkan kalkulasi ekonomi, teknologi, dan keberlanjutan yang disiplin. Tidak setiap produk yang dapat dibuat di dalam negeri otomatis ekonomis untuk diproduksi.


Strategi industrialisasi

Hilirisasi yang sehat membutuhkan teknologi efisien, energi kompetitif, pasar yang jelas, tata kelola yang kuat, serta perhatian terhadap dampak lingkungan dan masyarakat sekitar.

Oleh karena itu, pernyataan Presiden Prabowo mengenai rencana memanfaatkan kekuatan BUMN untuk memperoleh teknologi, kekayaan intelektual, manajemen, pasar, dan pengalaman perusahaan terbaik dunia patut ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi industrialisasi.

Indonesia memang membutuhkan modal, tetapi kebutuhan yang lebih menentukan dalam jangka panjang adalah pengetahuan.

Teknologi tidak cukup hanya dibeli. Tapi perlu dipelajari, dialihkan, dikembangkan, dan akhirnya dikuasai oleh tenaga kerja, insinyur, peneliti, perguruan tinggi, serta perusahaan Indonesia.

Jika tidak, bangsa ini mungkin berhasil mengolah mineral di dalam negeri tetapi masih bergantung kepada bangsa lain untuk teknologi yang menggerakkan industrinya.

Dari sini kemerdekaan ekonomi dapat diwujudkan. Hilirisasi bukan perlombaan membangun sebanyak mungkin pabrik, melainkan perjalanan panjang membangun kemampuan bangsa.

Keberhasilannya kelak tidak hanya diukur dari berapa juta ton mineral yang diproses atau berapa miliar dolar investasi yang masuk, tetapi dari seberapa banyak pengetahuan yang tinggal di Indonesia, industri nasional yang tumbuh, pekerjaan berkualitas yang tercipta, impor yang dapat dikurangi, dan kesejahteraan masyarakat yang meningkat.

Pada usia 81 tahun kemerdekaan, Indonesia memiliki kesempatan mengubah kekayaan yang tersimpan di bawah tanah menjadi kemampuan yang tumbuh di tanah.

Mineral pada akhirnya akan habis ditambang. Tambang memiliki umur. Tetapi teknologi, keterampilan manusia, industri, dan pengetahuan dapat diwariskan lintas generasi.

Itulah sebabnya hilirisasi seharusnya ditempatkan bukan sekadar sebagai kebijakan komoditas, melainkan sebagai jalan menuju kedaulatan ekonomi.

Indonesia tidak cukup hanya kaya karena memiliki sumber daya alam. Indonesia harus menjadi kuat karena mampu mengolah kekayaan itu dengan pengetahuan dan tangannya sendiri, kemudian menjadikannya fondasi bagi kehidupan yang lebih baik.

Boleh jadi, inilah salah satu makna paling penting dari kemerdekaan pada era ini yakni kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan sendiri nilai dari kekayaan yang dimilikinya dan memastikan nilai itu bekerja bagi masa depan rakyatnya.

Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.