Kementan dorong peternak rakyat perkuat ekosistem perunggasan
Minggu, 20 September 2026 17:34 WIB
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda berbicara dalam Forum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) 2026 yang digelar di Tangerang Selatan, Banten. ANTARA/HO-Kementan
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong peternak rakyat menjadi bagian kuat ekosistem perunggasan nasional melalui penguatan rantai pasok, perluasan akses pasar, serta optimalisasi program makan bergizi gratis (MBG) bagi hasil produksi.
"Kementerian Pertanian mendorong penguatan ekosistem perunggasan nasional dengan menempatkan peternak rakyat sebagai bagian penting dalam rantai produksi hingga pasar," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda, dalam keterangannya yang terkonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Dia menyampaikan hal itu dalam Forum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) 2026 yang digelar di Tangerang Selatan, Banten.
Forum bertajuk "Breaking the Cycle" itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan ILDEX 2026, yang sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190.
Agung mengatakan peluang pengembangan industri perunggasan nasional masih terbuka.
Namun, tantangannya bagaimana produksi yang ada dapat semakin terhubung dengan kebutuhan pasar sehingga tercipta keseimbangan antara suplai dan permintaan.
"Kebutuhan per kapita kita juga masih bisa terus kita tingkatkan, tinggal bagaimana kita mensinergikan antara produksi dengan kebutuhan, antara suplai dengan demand, keseimbangan nilai yang memang harus terus kita dorong bersama," ujar Agung.
Menurutnya, keterhubungan antara produksi dan pasar menjadi semakin penting seiring berkembangnya program MBG.
Pemerintah tengah memfinalisasi kebijakan untuk mengoptimalkan penyerapan produk peternakan sehingga kebutuhan program dapat terhubung dengan peternak di sekitar lokasi dapur.
Agung menjelaskan keterhubungan tersebut juga perlu didukung oleh infrastruktur dan tata kelola rantai pasok.
Salah satunya melalui Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) yang dapat menjadi bagian dari jalur penyaluran produk unggas untuk kebutuhan MBG.
"RPHU inilah yang diharapkan bisa mensuplai karkas ayamnya untuk program MBG, salah satunya," ujar Agung.
Menurut dia, peluang tersebut perlu dimanfaatkan untuk membangun pola produksi yang semakin terhubung dengan kebutuhan pasar. Dengan demikian, peternak tidak hanya didorong untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memiliki akses yang lebih kuat dalam ekosistem usaha.
Agung menegaskan pula pemerintah terus berupaya menjaga keseimbangan kepentingan dalam ekosistem perunggasan.
Kebijakan yang ditempuh, kata dia, diarahkan untuk memberikan manfaat bagi petani dan peternak.
"Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, pada prinsipnya pemerintah ini sedang berupaya untuk menjaga keseimbangan semuanya," katanya.
Kementan terus berupaya memperkuat posisi peternak mandiri agar tidak hanya menjadi bagian dari produksi, tetapi juga memiliki peran kuat sebagai pelaku usaha perunggasan.
"Kita berjuang maksimal untuk terus mengangkat kesejahteraan para peternak kita. Khususnya para peternak mandiri, agar para peternak mandiri bisa menjadi tuan rumah, bisa menjadi pelaku usaha perunggasan, dan bisa menikmati usaha perunggasan kita dengan sebaik-baiknya," kata Agung.
Ketua Umum GOPAN yang juga Anggota Komisi IV DPR RI Herry Dermawan mengatakan kegiatan itu menjadi ruang pertemuan pemerintah, peternak, dunia usaha, BUMN, asosiasi, dan pemangku kepentingan perunggasan untuk membahas tantangan sekaligus peluang penguatan industri ayam nasional.
Momentum itu sekaligus memperkuat pesan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 bahwa pembangunan peternakan tidak hanya berbicara mengenai produksi, tetapi juga keberlanjutan usaha peternak, penguatan industri, dan pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat.
Pewarta : Muhammad Harianto
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026