Elephants

Kemenkeu sebut tantangan RI bukan volume investasi tapi produktivitas

September 9, 2026

Kemenkeu sebut tantangan RI bukan volume investasi tapi produktivitas

Rabu, 9 September 2026 15:37 WIB

Image Print

Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kemenkeu Noor Faisal Achmad memberikan pemaparan dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026). (ANTARA/Imamatul Silfia)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai tantangan Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bukan hanya meningkatkan volume investasi, tetapi juga memastikan investasi tersebut mampu mendorong produktivitas.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas dan Asian Development Bank Institute (ADBI) di Jakarta, Rabu, Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kemenkeu Noor Faisal Achmad mengatakan investasi tetap menjadi faktor penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak cukup untuk menghasilkan pertumbuhan tinggi secara berkelanjutan.

Menurut dia, Indonesia perlu lebih berfokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi investasi agar modal yang masuk dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian.

Ia memaparkan sejumlah persoalan struktural masih menjadi tantangan, antara lain kesenjangan keterampilan, tingkat informalitas yang tinggi, intermediasi keuangan yang relatif terbatas dan mahal, serta aturan terkait kemudahan berusaha dan pasar tenaga kerja yang perlu dibuat lebih dapat diprediksi.

Menurut dia, berbagai persoalan tersebut saling berkaitan. Kesenjangan keterampilan dapat menekan produktivitas perusahaan, sementara produktivitas yang rendah membatasi peningkatan upah formal dan basis penerimaan pajak.

Di sisi lain, pembiayaan yang belum optimal dapat menghambat peningkatan kapasitas usaha.

Dalam jangka panjang, ia menyebut Kementerian Keuangan juga mendorong penguatan sektor manufaktur sebagai salah satu mesin produktivitas, ekspor, pembelajaran teknologi dan penciptaan lapangan kerja formal.

“Manufaktur perlu kembali memperoleh momentum sebagai mesin produktivitas, ekspor, pembelajaran teknologi dan penciptaan lapangan kerja formal,” ujarnya.

Ia menekankan pengembangan manufaktur bukan sekadar meningkatkan aktivitas pengolahan, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah domestik yang lebih tinggi, memperkuat kemampuan teknologi dan mendiversifikasi pasar.

Menurut dia, kebijakan sektor prioritas perlu menghasilkan tiga capaian terukur, yakni peningkatan investasi dan ekspor, pengurangan ketergantungan pada impor strategis melalui penguatan kemampuan domestik yang kompetitif, serta penciptaan lebih banyak lapangan kerja yang layak.

Menutup paparannya, Noor menekankan pentingnya menjaga aturan fiskal sembari memperbaiki komposisi penerimaan dan belanja, mempertahankan kesinambungan kebijakan internasional, serta meningkatkan produktivitas faktor total (total factor productivity), dan efisiensi investasi.

Ia menegaskan fokus kebijakan tidak seharusnya hanya pada besarnya akumulasi modal, tetapi juga pada kemampuan investasi tersebut menghasilkan peningkatan produktivitas.

Pewarta : Shofi Ayudiana
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026