Kemenkes gandeng Noor Dubai Foundation untuk menangani katarak di Jawa Tengah
Jumat, 7 Agustus 2026 17:02 WIB
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono (kiri) bersama CEO Noor Dubai Foundation Manal Omran Taryam Al Shamsi (dua dari kiri) dan Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia Abdulla Salem Al Dhaheri (kanan) menyapa salah seorang pasien yang menjalani skrining mata dalam kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis Tahap II di Rumah Sakit Khusus Mata (RSKM) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (7/8/2026) siang. ANTARA/Sumarwoto
Purwokerto (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggandeng Noor Dubai Foundation dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dalam menggelar bakti sosial operasi katarak gratis tahap II dengan target 500 pasien di Jawa Tengah.
Kegiatan yang digelar di Rumah Sakit Khusus Mata (RSKM) Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jumat, tersebut menyasar masyarakat di Purwokerto dan sekitarnya, termasuk Banjarnegara, Purbalingga, dan Cilacap.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan jumlah kasus katarak di Indonesia yang terdeteksi mencapai sekitar 600 ribu kasus, namun angka tersebut diperkirakan masih jauh lebih besar karena belum seluruh penderita terdiagnosis.
"Jumlah penyakit katarak di Indonesia itu kurang lebih ada 600.000 kasus. Angka itu masih yang terdeteksi, sebenarnya jauh lebih banyak daripada itu," kata Wamenkes Dante usai meninjau skrining mata dalam kegiatan tersebut di RSKM Purwokerto, Jumat siang.
Menurut dia, katarak merupakan penyakit degeneratif yang dapat muncul secara alamiah akibat proses penuaan. Selain usia, diabetes serta penyakit atau kelainan mata juga dapat mempercepat terjadinya katarak.
Wamenkes Dante mengatakan pemerintah memperkuat penanganan katarak melalui pembiayaan operasi bagi pasien yang memenuhi ketentuan melalui BPJS Kesehatan.
Menurut dia, Kemenkes telah membahas kasus-kasus katarak yang membutuhkan operasi dan dapat dibiayai melalui Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
"Langkah konkret yang kita lakukan adalah melakukan pembiayaan terhadap penyakit katarak yang dioperasi. Ini pasti akan terjadi jumlahnya makin lama makin besar, seiring harapan hidup yang makin lama makin lanjut," kata Wamenkes.
Ia mengatakan meningkatnya usia harapan hidup membuat kebutuhan operasi katarak terus bertambah. Namun kapasitas pelayanan di daerah belum merata, karena ada wilayah yang kelebihan kapasitas dan daerah lain masih kekurangan.
Dante mengatakan rasio operasi katarak di Indonesia sekitar 3.000 operasi per satu juta penduduk per tahun. Oleh karena itu pemerintah bersama BPJS Kesehatan akan mendorong pemerataan kapasitas pelayanan antardaerah.
Selain operasi, Kemenkes melakukan deteksi dini melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan pemeriksaan visus atau ketajaman penglihatan.
Wamenkes Dante mengatakan jika ditemukan perubahan, pasien akan dievaluasi lebih lanjut oleh dokter mata, terutama kelompok usia lanjut (lansia).
Dalam kesempatan itu CEO Noor Dubai Foundation Manal Omran Taryam Al Shamsi mengatakan pencegahan kebutaan tidak hanya melalui pengobatan, juga pemberdayaan agar masyarakat dapat kembali mandiri, belajar keterampilan baru, dan bekerja.
Menurut dia, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi sekitar 10-12 dokter residen untuk belajar dan mendapatkan pengalaman praktik langsung bersama dokter senior.
Sementara itu Duta Besar (Dubes) Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia Abdulla Salem Al Dhaheri mengatakan kegiatan tersebut menjadi bukti hubungan positif antara UEA dan Indonesia.
Ia mengatakan program operasi katarak tersebut merupakan kerja sama kedua setelah kegiatan serupa sebelumnya dilaksanakan di Kalimantan dan pihaknya berencana melanjutkan ke wilayah lain.
"Hubungan antara Uni Emirat Arab dan Republik Indonesia sangat kuat dan kami akan selalu hadir untuk masyarakat Indonesia," kata Abdulla.
Baca juga: Banyumas ditargetkan menjadi pusat pendidikan di Jawa Tengah
Pewarta: Sumarwoto
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.