Elephants

Kemdiktisaintek dorong RS pendidikan jadi pusat solusi kesehatan

September 14, 2026

Kemdiktisaintek dorong RS pendidikan jadi pusat solusi kesehatan

Senin, 14 September 2026 19:16 WIB

Image Print

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan. ANTARA/HO-Kemdiktisaintek

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong rumah sakit (RS) pendidikan menjadi solusi dari tantangan kesehatan masyarakat yang kompleks.

Melalui keterangan di Jakarta, Senin, Wamendiktisaintek menyoroti temuan Badan Pusat Statistik (BPS) yang membuktikan adanya biaya pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sepanjang 2025 mencapai Rp108 triliun dengan claims ratio di atas 100 persen.

"Yang patut kita renungkan, lebih dari seperempat dana itu habis untuk penyakit katastropik yang sebagian besar sebenarnya dapat dicegah. Di sinilah rumah sakit pendidikan dengan ilmunya seharusnya memberikan jawaban, bukan sekadar menampung pasiennya," katanya.

Oleh sebab itu, Wamen Fauzan mendorong rumah sakit pendidikan bertransformasi dari teaching hospital menjadi academic health ecosystem yang mengintegrasikan pendidikan, pelayanan, riset, dan inovasi.

"Rumah sakit pendidikan memerlukan transformasi supaya menjadi pusat keunggulan akademik, pusat riset yang hasilnya sampai ke pasien, pusat pengembangan teknologi dan sumber daya manusia kesehatan, sekaligus pusat pelayanan bermutu yang mampu berdiri secara profesional, berkelanjutan, dan humanis," ujarnya melanjutkan.

Menurut Fauzan, kemandirian juga menjadi bagian penting dari transformasi. Rumah sakit perlu mengembangkan sumber nilai melalui layanan unggulan, riset, teknologi, dan pendidikan berkelanjutan tanpa meninggalkan fungsi sosial.

Ia juga menekankan agar rumah sakit pendidikan juga perlu menjadi laboratorium hidup, tempat persoalan pelayanan dikembangkan menjadi riset dan hasilnya kembali kepada pasien dalam bentuk teknologi, produk, maupun model layanan.

"Universitas punya knowledge, rumah sakit punya clinical problem, industri punya kemampuan produksi. Kalau tiga ini kita satukan, kita punya functional innovation. Maka rumah sakit pendidikan jangan lagi hanya bertanya berapa anggaran yang diberikan kepada kita, tapi harus mulai bertanya berapa nilai yang bisa kita ciptakan," ucap Wamendiktisaintek Fauzan.

Diketahui, Kemdiktisaintek telah meningkatkan program studi spesialis dan subspesialis dari 366 menjadi 526 dalam satu tahun terakhir dengan melibatkan sekitar 350 rumah sakit mitra.

Sementara sebanyak 11 provinsi yang sebelumnya belum memiliki program studi spesialis kini mulai membuka program tersebut, termasuk NTT, Maluku, dan Papua.

Pewarta : Sean Filo Muhamad
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026