Ayvalik -
Wilayah Spanyol, Prancis hingga Yunani mengalami kebakaran hutan, dan kini Turki juga mengalaminya. Area hutan di Provinsi Balikesir terbakar hingga akhirnya tiga desa di sekitar Ayvalik harus dievakuasi.
Pemerintah Provinsi Balikesir melaporkan lima orang terluka dalam kebakaran tersebut. Mereka terdiri dari tiga petugas pemadam kebakaran, seorang petugas kehutanan, dan seorang warga sipil.
"Mereka saat ini menjalani perawatan di rumah sakit di Ayvalik. Kondisi mereka tidak mengancam jiwa," ungkap keterangan resmi pihak pemerintah, seperti dikutip dari France24, Sabtu (1/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengendalikan kebakaran, otoritas mengerahkan enam pesawat pengebom air, tujuh helikopter, 56 mobil pemadam, tiga meriam air, 920 personel pemadam kebakaran, serta 60 relawan. Upaya pemadaman dipusatkan di tiga wilayah, yakni Ayvalik, Burhaniye, dan Gomec.
Tiga desa di sekitar Ayvalik telah dikosongkan sebagai langkah antisipasi. Sebanyak 720 ekor ternak juga dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Ayvalik merupakan kota wisata di pesisir Laut Aegea yang berada tepat di seberang Pulau Lesbos, Yunani.
Menteri Pertanian, Turki Ibrahim Yumakli, mengatakan petugas masih bekerja tanpa henti untuk mengatasi kebakaran yang terjadi di berbagai wilayah. "Kami terus memerangi kebakaran hutan siang dan malam," tulis Yumakli melalui akun media sosialnya.
Ia mengatakan sejak Rabu telah terjadi 169 kebakaran hutan di seluruh Turki. Dari jumlah tersebut, 163 titik api berhasil dipadamkan sepenuhnya.
Namun, angin kencang membuat sejumlah lokasi kembali terbakar, termasuk di Fethiye, salah satu destinasi wisata di pesisir barat daya Turki.
Menurut stasiun televisi di sana, NTV, angin dengan kecepatan 50-60 kilometer per jam memicu api kembali menyala di dekat Desa Bagyuzu, sekitar 30 kilometer dari Ayvalik. Sementara itu, tayangan TRT memperlihatkan seorang warga menggendong seekor kambing untuk menyelamatkannya dari kobaran api di kawasan Fethiye.
Kementerian Pertanian Turki juga mengirimkan pesan peringatan kepada warga yang tinggal di wilayah selatan dan barat negara itu agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan. Hingga kini, pemerintah belum mengumumkan luas area yang terbakar maupun jumlah bangunan yang terdampak.
Turki sebelumnya sempat dilanda kebakaran hutan lebih awal pada 2025 akibat kekeringan. Namun, hujan dan salju yang turun sepanjang musim dingin membantu mengurangi risiko kebakaran pada awal tahun ini.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah juga menutup akses ke kawasan hutan yang paling rawan sejak dimulainya musim liburan musim panas.
Para peneliti dari Imperial College London dan jaringan ilmuwan World Weather Attribution sebelumnya telah mengingatkan bahwa dunia berpotensi menghadapi musim kebakaran hutan yang lebih ekstrem pada tahun ini. Perubahan iklim akibat aktivitas manusia dan potensi menguatnya fenomena El Nino disebut menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko kebakaran di berbagai negara.
(upd/wsw)