Elephants

Kampung Go Green yang Mendunia, Lele di Selokan Jadi Sorotan

August 13, 2026

Jakarta -

Soekarno pernah berkata, "Gantungkan cita-citamu setinggi langit". Kalimat itu pula yang dipegang oleh Taufiq Supriadi, Ketua RT 08 RW 04, Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur dalam berusaha mewujudkan impiannya menjadi orang yang bermanfaat dan memberikan sumbangsih kepada masyarakat juga negara.

Tak memiliki dana yang besar, Taufiq dan warga RT 08 bahu membahu membangun kampung mereka menjadi go green. Lengkap dengan kemandirian pangan lewat budidaya ikan lele dan gurame di selokan, hingga ternak ayam tanpa bau di kandang.

Hari ini, Rabu (12/8/2026), kami berkunjung ke rumah Pak RT, menyaksikan langsung kisah kesuksesan mereka yang viral di media sosial. Di titik Maps yang kami gunakan, tertera bahwa kami telah berada di lokasi 'Pencegah Krisis Planet (Planetary Crisis Prevention)'. Hanya beberapa menit saya duduk, muncul sosok berbatik membawa laptop.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Halo, saya Taufiq," ucapnya seraya tersenyum, mempersilakan kami untuk duduk kembali.

Taufiq tampil sederhana. Kami duduk lesehan sembari mendengarkan awal mula terbentuknya RT yang kisahnya terdengar hingga mancanegara. Satu yang Taufiq yakin, bahwa di mulai dari RT maka negara akan maju pesat.

"Kalau RT kuat, saya yakin negara akan hebat. Kami buktikan 2 tahun 9 bulan terakhir. Warga bergerak. Ini 'Wakil Menteri Teknologi Informasi' RT 8. Baru lulus SMA," ujar Taufiq sambil mengenalkan Bisma, social media specialist khusus RT 08.

Menggagas RT Ramah Lingkungan

Kisah dimulai ketika Taufiq mencalonkan diri untuk menjadi ketua RT di wilayahnya. Sadar akan tanggung jawab yang ia emban, sejak awal pun Taufiq sudah menyiapkan program matang.

Berbeda dengan poster pencalonan ketua RT pada umumnya, program Taufiq terlihat begitu serius dan mendalam. Ada empat hal yang dicanangkan oleh Dr Taufiq Supriadi SE, MT, CSFA, CertDA, GRCE ketika maju ke pemilihan ketua RT. Poin tersebut adalah optimaliasi pengelolaan sampah, tanggap banjir dan lingkungan, digitalisasi RT, hingga mandiri pangan dan ekonomi.

Poster visi misi Taufiq Supriadi saat mencalonkan diri jadi ketua RT 08.Poster visi misi Taufiq Supriadi saat mencalonkan diri jadi ketua RT 08. Foto: Aisyah Kamaliah/detikINET

Dari banyaknya gelar yang dimilikinya, Taufiq merupakan lulusan S2 Institut Teknologi Bandung (ITB) bidang Geodesi. Dia juga menyandang gelar CPCC sebagai Certified Professional in Climate Change-CPPCCIBS dan CIPS itu Certified International Planetary Health Specialist. Ilmu-ilmu inilah yang menjadi bekalnya menjadi seorang Survival Architecture Indonesia.

Taufiq peduli ketika melihat kondisi lingkungan penduduk yang sudah padat dan full beton. Dia berharap solusi hadir untuk mewujudkan ketahanan pangan, energi, dan masa depan yang positif bagi anak-anak di masa mendatang. Dari sana, ia maju menjadi ketua RT, didukung oleh sang istri, Eva.

"Saya ingatkan kita hidup di planet Bumi. Betul? Bumi Bahasa Inggris-nya (earth) ada RT-nya apa enggak? Bumi kalau enggak ada RT-nya jadi bumi. Makanya saya jadi Ketua RT karena bakal bisa menghidupkan Bumi," kelakarnya tapi penuh arti.

Taufiq percaya dari lorong sempit harus lahir solusi besar. Kalau satu RT bisa berubah, maka besar kemungkinan bisa berubah. RT 08 Malaka Jaya pun berhasil membuktikannya selama 2 tahun 9 bulan terakhir.

"Sepuluh negara besar sudah duduk di karpet ini. Berarti Indonesia bisa jadi besar bukan dari gedung tinggi, tapi dari lingkungan yang dijaga. Berarti Indonesia kan masih punya harapan, kita cuma butuh keteladanan," tuturnya. Negara yang dimaksud antara lain Amerika, Belanda, Arab Saudi, Vietnam, China, Jepang, Korea Selatan, Singapura, sampai Australia. Mereka datang untuk mempelajari apa yang menjadi kunci kesuksesan RT 08 RW 04 di Malaka Jaya.

RT 08 Malaka Jaya.Penghargaan yang diterima Taufiq saat kunjungan ke Beijing, China, berkat undangan langsung dari pemerintah China dan stasiun TV nasional mereka, China Central Television (CCTV). Foto: Aisyah Kamaliah/detikINET

Kisah Lele di selokan

Ini dia yang viral, detikers. Lele yang hidup di selokan namun nutrisinya setara dengan ikan salmon. Nah, untuk membangun lele yang ada di selokan sepanjang 42 meter ini, Taufiq perlu melakukan negosiasi dengan warga.

Tentu saja awalnya ada saja yang tidak setuju, namun Taufiq berhasil menegaskan manfaat dari program tersebut. Terbukti, kini ikan-ikan yang dipelihara berhasil dikonsumsi oleh warga sendiri dan sebagiannya lagi dijual. Hasil penjualan ikan ini pun kembali lagi untuk kepentingan RT.

"Ada 500 ekor lele di sini, guramenya sekitar 15 di selokan ini dan di kaca ada 20 ekor," kata Taufiq. Dia membuka selokan itu sambil menunjukkan ikan-ikan tersebut. Saat diberi makan, lele-lele itu melompat menyambut pelet. Ikan ini diberi makan sehari dua kali, warga bergotong royong memberi pakan secara bergantian.

RT 08 Malaka Jaya.Lele di dalam selokan. Foto: Aisyah Kamaliah/detikINET

Masuk ke dalam gang yang di depannya ada gapura, kami berjalan menyusuri jalan. Terlihat pipa-pipa yang dimanfaatkan untuk menyaring air hujan, akuarium ikan berisi lele dan gurame, serta tempat sampah terpisah yang tersedia di setiap sudut jalan.

Kami sempat terpaku melihat ikan-ikan di kaca akuarium. Ikannya terlihat gendut, padahal masih belum masa panen. Bahkan, menurut Taufiq, ukuran per kilogramnya jika sudah matang bisa jadi hanya tujuh ekor.

Makanannya bukan sembarang pakan, mereka makan dari maggot yang datangnya dari pengelolaan sampah organik RT 08 RW 04 Malaka Jaya. Ditambah lagi makanan bernutrisi dari hasil tanam penduduk.

"Iya (ukurannya besar -- red), karena makannya cuma pelet dengan daun pepaya doang. Saya nggak doyan lele, begitu di tempat saya lelenya makannya pelet dengan daun pepaya, saya jadi doyan lele. Daun papaya juga dari sini, jadi harus bergerak," ungkapnya.

Lele dan ikan ini bisa dikonsumsi oleh warga, terutama untuk kelompok ibu hamil, lansia, dan balita. Mereka hanya perlu meminta ke pengurus, ikan pun akan diberikan. Begitu pula telur ayam, mereka bebas memanfaatkan hasil yang ada tanpa harus membayar apapun.

"Ayamnya bertelur setiap 25 jam sekali. Telurnya kita makan. Di belakang ada 15 ayam, di atas 3 ayam, di RW depan saya kasih 100," akunya.

Oh iya detikers, yang menarik, kandang ayam ini benar-benar tidak bau. Semua karena alas kandang yang dirancang sedemikian oleh Taufiq.

RT 08 Malaka Jaya.Saat detikINET datang, ada satu butir telur di kandang. Foto: Aisyah Kamaliah/detikINET

"Tempat terbuka, ada lorong, angin bagus, kami belajar bagaimana memelihara ayam agar nggak bau di tempat. Kemudian ada mesin pencacah untuk menghancurkan sampah daun yang dicampurkan ke komposting alas kandang ayam. Kuncinya di alas kandang ayam," terangnya.

Mandiri dan Berdaya

Tak peduli berapa banyak dana yang dibutuhkan untuk membangun RT mereka, Taufiq dan warga terus berpikir kreatif. Selain dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan besar yang peduli dengan impian RT 08 menjadi RT percontohan global, RT mereka pun mandiri.

Hasil dari budidaya ikan misalnya. Ikan tersebut tak cuma dibagikan kepada ibu hamil, lansia dan balita, melainkan dijual juga. Begitu pula telur ayam dari ternak mereka yang dihargai Rp 3.000 per butirnya. Pemasukan ini kemudian dicatat sebagai kas RT dan digunakan untuk membangun RT. Selain itu, ada juga UMKM yang didirikan, seperti UMKM hasil olahan ikan.

"Ini kan jadinya ada UMKM. UMKM-nya, Alhamdulillah, makin ke sini makin banyak yang datang. Terus demand-nya makin banyak. Jadi, Alhamdulillah, makin membuka lapangan pekerjaan," kata Arshad, warga RT 08.

Di RT 08, terdapat kios UMKM yang menjual ikan lele frozen yang dimarinasi, abon lele, nugget lele, hingga otak-otak lele. Ada juga kue-kuean seperti lidah kucing dan nastar yang telurnya diambil dari telur hasil peternakan RT 08.

Kami sempat berkunjung ke kios UMKM makanan RT 08. Lele marinasi dibanderol dengan harga Rp 25.000, sementara kue-kue kering dihargai mulai Rp 5.000 saja.

Selain itu, Pak RT Taufiq juga kerap menjadi pembicara, didampingi oleh pemuda dari RT 08. Dari sana, sebagian besar dana masuk ke kas RT dan sisanya dibagikan kepada pengurus yang berpartisipasi dan mencurahkan tenaga serta pikiran mereka.

(ask/fay)


TAGS

LIHAT LAINNYA