Elephants

Jejak DN Aidit di Pusaran 30 September

September 30, 2026

Liputan6.com, Jakarta - Malam Kamis Kliwon, 30 September 1965. Suasana Jakarta sebetulnya tenang-tenang saja, tak ada petunjuk bahwa beberapa jam lagi sebuah peristiwa kelam akan membalikkan sejarah bangsa ini. Enam jenderal dan seorang perwira muda gugur dalam pusaran konflik yang dipicu rumor rencana kudeta oleh Dewan Jenderal.

Selama berdekade-dekade, tuduhan utama sebagai dalang peristiwa itu mengarah pada Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ketuanya, DIPA Nusantara Aidit. Namun jika ditarik ke belakang, di mana sebenarnya Aidit berada saat peristiwa berdarah itu mulai bergerak?

Dalam bukunya, Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI, sejarawan Peter Kasenda menggambarkan gambaran rinci suasana malam itu. Sekitar pukul sembilan malam lewat sedikit, Aidit sedang berada di rumahnya. Ia asyik berbincang serius dengan Hardoyo, Ketua CGMI—organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan PKI.

Obrolan mereka tampak tegang. Beberapa kali mereka terpaksa menahan napas karena anak Aidit, Ilham, terlihat mondar-mandir di ruang tamu. Tak lama kemudian, Hardoyo pamit. Aidit mengantarnya sampai ke teras, lalu kembali masuk, mengunci pintu depan, dan menuntun putranya ke kamar.

"Ham, larut malam begini kamu belum juga tidur," panggil Aidit hangat sambil menggandeng tangan anaknya.

Kebiasaannya, jika tak ada tamu, Aidit akan berganti pakaian santai lalu mengurung diri di ruang kerja. Di sana ia biasa membaca atau menulis sampai subuh diiringi alunan musik klasik. Tapi malam itu berbeda.

Sebuah mobil Jeep merapat di depan rumahnya. Dua orang berseragam militer turun dan mengetuk pintu. Istri Aidit, dr. Soetanti, menyambut mereka dengan wajah gusar.

"Ini sudah malam!" tegurnya keras.

"Maaf, Bu, tapi ini darurat. Kami harus pergi segera," sahut salah seorang tamu itu tegas.

Dengan perasaan jengkel, Soetanti masuk memanggil suaminya. Ketika Aidit keluar, kedua tamu itu langsung menyampaikan pesan singkat,

"Segeralah bersiap, Bung. Waktu kita terbatas!"

Aidit bergegas ke kamar, memasukkan beberapa potong pakaian dan buku ke dalam tas. Istrinya sempat berkali-kali menahan agar ia tak pergi, tetapi Aidit tetap melangkah keluar menembus kegelapan malam. Momen itu menjadi kali terakhir keluarganya melihat Aidit secara langsung. Sejak malam itu, ia hilang kontak.