Elephants

Jalur Laut Makin Berbahaya, Dunia Bangun Pipa Minyak Ribuan Kilometer

August 6, 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di Timur Tengah kembali menegaskan pentingnya jaringan pipa minyak sebagai jalur alternatif saat rute pelayaran utama terganggu.

Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, negara-negara kawasan kini berlomba memperluas infrastruktur tersebut meski biaya pembangunan dan tantangan investasinya sangat besar.

Salah satu warisan dari puluhan tahun konflik di Timur Tengah adalah jaringan pipa minyak yang dibangun untuk mengalihkan jalur ekspor minyak ke rute yang lebih aman.

Pada 1968, setelah Perang Enam Hari memaksa penutupan Canal Suez, Mesir bersama negara-negara Teluk menggagas pembangunan pipa sepanjang 320 kilometer yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania.

Namun, pembangunan pipa Suez-Mediterranean (Sumed) baru dimulai pada 1974, setelah embargo minyak akibat Perang Yom Kippur.

Pada 1977, tahun ketika Sumed mulai beroperasi, Mobil, raksasa minyak asal Amerika Serikat, mengumumkan rencana pembangunan pipa sepanjang 1.200 kilometer yang membentang melintasi Arab Saudi, dari ladang minyak raksasa Ghawar di dekat Teluk Persia menuju Laut Merah. Pembangunan pipa East-West, yang selesai pada 1981, dipercepat setelah pecahnya Perang Iran-Irak pada tahun sebelumnya.

Jumlah kapal tanker lewati Selat HormuzJumlah kapal tanker lewati Selat Hormuz Foto: CNBC

Kini, ketika Selat Hormuz praktis lumpuh, berbagai jaringan pipa yang membentang di Timur Tengah menjadi sangat penting.

Pada 4 Agustus, Aramco, raksasa minyak asal Arab Saudi, menyebut bahwa "infrastruktur strategis", termasuk pipa East-West, telah membantu meredam dampak perang dengan Iran.

Laba operasional perusahaan pada kuartal II melonjak 29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, karena kenaikan harga minyak lebih dari cukup untuk mengimbangi penurunan volume penjualan.

Kondisi tersebut mendorong para pemimpin di Timur Tengah membangun lebih banyak jaringan pipa.

Uni Emirat Arab (UEA) berencana membangun pipa baru yang akan membentang sejajar dengan pipa Habshan-Fujairah, sehingga kapasitasnya menjadi dua kali lipat.

Bulan lalu, Amerika Serikat, Irak, dan Qatar mengumumkan rencana peningkatan kapasitas pipa yang menghubungkan Irak dengan Suriah.

Sementara itu, Chevron, raksasa minyak asal Amerika Serikat, tengah mempertimbangkan pembangunan serangkaian pipa dari Irak menuju Suriah dan Turki. Aramco juga menjajaki peluang investasi pada proyek-proyek tersebut.

Seluruh proyek tersebut akan mempercepat ekspansi jaringan pipa minyak global.

Menurut Global Energy Monitor, lembaga riset energi, sekitar 12.300 kilometer pipa minyak saat ini sedang dibangun, sementara 20.100 kilometer lainnya masih dalam tahap perencanaan.

Jika terealisasi, proyek-proyek tersebut akan memperluas jaringan pipa minyak global yang saat ini telah membentang sekitar 350.000 kilometer (lihat peta).

Pipa minyak dunia, Juni 2026Pipa minyak dunia, Juni 2026 Foto: Economist

Nilai investasi yang dibutuhkan diperkirakan sangat besar. Kabar baiknya, meningkatnya minat investor terhadap aset infrastruktur membuka akses terhadap sumber pendanaan.

Meski begitu, membangun jaringan pipa bukanlah perkara mudah. Proyek semacam ini kerap tersendat akibat proses perizinan yang panjang dan rentan terhadap gejolak geopolitik. Namun, perang Iran justru membuat kebutuhan akan investasi tersebut semakin mendesak.

Vessels anchored at the Strait of Hormuz, as seen from Musandam, Oman, May 25, 2026. REUTERS/Stringer REFILE - CORRECTING INFORMATION FROM Vessels anchored at the Strait of Hormuz, as seen from Musandam, Oman, May 25, 2026. REUTERS/Stringer REFILE - CORRECTING INFORMATION FROM "VESSELS SAILING THROUGH THE STRAIT OF HORMUZ" TO "VESSELS ANCHORED AT THE STRAIT OF HORMUZ". Foto: REUTERS/Stringer

Biaya pembangunan jaringan pipa juga tidak murah.

Pipa berdiameter besar yang mampu mengalirkan sekitar 1 juta barel minyak per hari (barrels per day/bpd) rata-rata membutuhkan biaya sekitar US$5 juta atau sekitar Rp89,6 miliar (US$1 = Rp17.915) per kilometer, atau sekitar US$5 miliar (Rp89,6 triliun) untuk pipa sepanjang 1.000 kilometer.

Namun, jika jalurnya melintasi pegunungan atau medan yang berat, biaya pembangunannya bisa meningkat hingga beberapa kali lipat.

Meski demikian, pilihan alternatif sering kali terbatas.

Mengangkut minyak sejauh 1.000 kilometer melalui truk atau kereta api-jika opsi tersebut tersedia-umumnya memerlukan biaya sekitar lima kali lebih mahal dibandingkan melalui jaringan pipa (Pengangkutan minyak dengan truk di Suriah hanya berkembang karena jaringan pipa di negara tersebut mengalami kerusakan).

Biaya transportasi minyak mentah (US$ per barel)Juli 2026Biaya transportasi minyak mentah (US$ per barel)Juli 2026 Foto: Economist

Transportasi laut memang jauh lebih murah dibandingkan jaringan pipa, tetapi tidak selalu tersedia atau aman. Selain itu, gangguan terhadap pasokan minyak dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar.

"Minyak yang tidak dapat disalurkan tidak memiliki nilai," ujar Rob West dari Thunder Said Energy, lembaga riset energi, kepada The Economist.

Menurutnya, gangguan pasokan sebesar 1 juta barel per hari selama satu tahun berpotensi menimbulkan kerugian hingga sekitar US$30 miliar (Rp537,5 triliun).

Membangun pipa berkapasitas lebih besar umumnya lebih efisien dari sisi biaya. Namun, investasi tersebut dapat menjadi beban jika volume minyak yang dialirkan menurun.

Karena itu, jaringan pipa harus secara konsisten mengalirkan minyak sesuai kapasitas rancangannya.

Kontrak yang digunakan umumnya berupa take-or-pay, di mana pelanggan harus membeli kapasitas minimum atau membayar biaya tetap yang telah disepakati.

Tarifnya biasanya diindeks terhadap harga minyak selama sekitar satu dekade. Dengan mekanisme tersebut, operator memperoleh arus kas yang stabil, layaknya obligasi (bond).

Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia? Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian

Arus kas yang stabil tersebut membuat jaringan pipa menjadi aset yang menarik bagi investor. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan minyak di kawasan Teluk pun menjalin sejumlah transaksi sale-and-leaseback dengan investor.

Melalui transaksi ini, perusahaan melepas sebagian kepemilikan atas jaringan pipa sebagai imbalan pembayaran di muka, tetapi tetap mempertahankan kendali operasionalnya.

Langkah tersebut membantu mengurangi tekanan terhadap neraca keuangan sekaligus membebaskan modal untuk investasi lain. Aramco pun berencana memperbanyak transaksi serupa setelah berhasil memperoleh dana hampir US$40 miliar (Rp716,6 triliun) dalam lima tahun terakhir.

Investasi pada jaringan pipa mampu memberikan imbal hasil tahunan yang stabil, sekitar 6-8%.

Tak heran jika jaringan pipa menjadi incaran berbagai dana investasi infrastruktur swasta. Menurut firma konsultan McKinsey, total aset kelolaan (assets under management/AUM) industri tersebut meningkat empat kali lipat menjadi US$1,6 triliun (Rp28.664 triliun) dalam satu dekade hingga 2025.

Pada Senin (3/8/2026), KKR, perusahaan investasi aset swasta asal Amerika Serikat, menutup penggalangan dana untuk dana infrastruktur terbesar sepanjang sejarahnya dengan nilai US$19 miliar (Rp340,4 triliun).

Ilustrasi Pipa bawah laut. (Dok. Pexels/asad.photo)Ilustrasi Pipa bawah laut. (Dok. Pexels/asad.photo) Foto: Ilustrasi Pipa bawah laut. (Dok. Pexels/asad.photo)

Bulan lalu, bersama Blackstone dan Brookfield, KKR juga menandatangani kesepakatan senilai US$16 miliar (Rp286,6 triliun) dengan perusahaan minyak Kuwait untuk mengakuisisi sebagian kepemilikan jaringan pipa negara tersebut.

Jaringan pipa dinilai lebih aman dibandingkan aset infrastruktur lainnya. Seorang pengelola dana investasi infrastruktur menyebut risikonya lebih ringan.

Menurutnya, serangan terhadap jaringan pipa umumnya dapat diperbaiki dengan relatif cepat, berbeda dengan fasilitas penyimpanan atau terminal minyak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dipulihkan.

Perlindungan asuransi juga dapat mengurangi dampak konflik maupun gangguan lainnya. Selain itu, pemerintah yang ingin menarik investasi terkadang bersedia menanggung sebagian risiko tersebut, ujarnya.

Rintangan Pembangunan Pipa

Membangun jaringan pipa baru tetap bukan perkara mudah. Goldman Sachs mencatat, berdasarkan sampel sembilan proyek jaringan pipa, rata-rata waktu pembangunannya mencapai sekitar 2,5 tahun

. Semakin panjang jaringan pipa, semakin banyak pula izin yang harus diperoleh, sehingga proses pembangunannya kerap memakan waktu lebih lama. Proyek lintas negara bahkan menghadapi tantangan yang lebih besar.

Menurut Global Energy Monitor, sekitar 35.000 kilometer proyek jaringan pipa telah dibatalkan atau ditunda dalam tujuh tahun terakhir.

Salah satunya adalah Keystone XL, jaringan pipa raksasa yang menghubungkan Kanada dan Amerika Serikat, yang dibatalkan oleh pemerintahan Joe Biden karena pertimbangan lingkungan.

Pada 1990-an, Iran, Pakistan, dan India juga sepakat membangun jaringan pipa gas yang menghubungkan ketiga negara tersebut. Namun, India menarik diri dari proyek itu pada 2009. Meski pembangunan jalur Iran-Pakistan dimulai pada 2013, proyek tersebut hingga kini tak kunjung rampung.

Peta jaringan pipa minyak dan gas Timur TengahPeta jaringan pipa minyak dan gas Timur Tengah Foto: The Economist

Bahkan setelah beroperasi, jaringan pipa lintas negara pun tidak lepas dari risiko konflik geopolitik. Misalnya, jaringan pipa Irak yang melintasi Arab Saudi dihentikan operasinya pada 1990 saat Perang Teluk pertama pecah. Jaringan pipa lain yang melintasi Suriah juga ditutup pada 1982 setelah negara itu memihak Iran dalam Perang Iran-Irak.

Meski menghadapi berbagai tantangan, jaringan pipa diperkirakan akan memainkan peran yang semakin penting dalam distribusi hidrokarbon dunia.

Pada 20 Juli 2026, kelompok pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan blokade terhadap Selat Bab al-Mandab di ujung selatan Laut Merah, jalur yang biasanya dilalui kapal tanker pengangkut minyak Arab Saudi dari pipa East-West.

Lalu lintas kapal melalui Selat Bab el-MandebLalu lintas kapal melalui Selat Bab el-Mandeb Foto: CNBC

Menyusul blokade tersebut, Aramco mulai mengalihkan pengiriman minyak dari wilayah timur Arab Saudi menggunakan kapal tanker melalui Laut Merah menuju pipa Sumed.

Namun, jaringan pipa itu sendiri juga telah beroperasi nyaris pada kapasitas maksimal. Karena itu, kebutuhan akan pembangunan jaringan pipa baru diperkirakan akan terus meningkat.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(Salma Laiqa/slm)