Elephants

Israel Terancam Krisis Medis: 1.370 Dokter Hengkang Dipicu Perang dan Politik

September 7, 2026

Liputan6.com, Tel Aviv - Sedikitnya 1.370 dokter meninggalkan Israel sepanjang 2023 hingga 2025. Demikian menurut studi terbaru Universitas Tel Aviv.

Angka tersebut menunjukkan semakin besarnya arus keluar tenaga medis dari Israel di tengah kekhawatiran soal brain drain atau hengkangnya tenaga terampil dari negara itu.

Hasil penelitian tersebut diberitakan surat kabar Israel, Haaretz, pada Minggu (6/9/2026).

Dalam studi itu, dokter dianggap telah meninggalkan Israel jika berada di luar negeri selama lebih dari 270 hari pada tahun pertama setelah pergi. Mereka juga tidak pernah kembali tinggal di Israel selama lebih dari tiga bulan berturut-turut setelahnya.

Salah satu peneliti, Prof. Itay Ater, mengatakan para ekonom sejak 2023 telah memperingatkan bahwa semakin banyak tenaga profesional terampil meninggalkan Israel di tengah gejolak politik dan keamanan.

Menurut Ater, kekhawatiran itu mulai muncul ketika pemerintah mendorong perubahan besar terhadap sistem peradilan.

Arus keluarnya tenaga profesional terampil dari Israel semakin menjadi perhatian setelah serangan 7 Oktober 2023 dan perang yang menyusul.

Para peneliti memberi perhatian khusus pada dokter berusia di atas 45 tahun. Pada usia tersebut, dokter umumnya telah menyelesaikan pendidikan spesialis dan berperan penting dalam membimbing serta melatih dokter yang lebih muda.

Satu dari lima dokter yang meninggalkan Israel selama periode tiga tahun itu berusia di atas 45 tahun. Studi tersebut menyebut kondisi ini sebagai perkembangan yang mengkhawatirkan.

Kepergian dokter cukup besar di sejumlah bidang spesialisasi.

Sebanyak 116 dokter spesialis mata, kulit, serta telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) meninggalkan Israel. Jumlah itu setara dengan 6,2 persen dari seluruh dokter di bidang-bidang tersebut.

Selain itu, 188 dokter bedah atau sekitar 6 persen dari total dokter bedah di Israel, juga meninggalkan negara tersebut.

Menurut studi yang sama, wilayah Tel Aviv mencatat persentase dokter yang pergi paling tinggi, yakni 5,4 persen.

Temuan itu muncul setelah Kementerian Keuangan Israel pekan lalu melaporkan sekitar 24 persen dokter spesialis di rumah sakit umum diperkirakan akan mencapai usia pensiun dalam beberapa tahun mendatang.

Sementara itu, 25 persen dokter spesialis lainnya telah melewati usia pensiun, tetapi masih bekerja di tengah kekurangan tenaga medis.

Ater mengatakan hal yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya jumlah dokter yang telah pergi saat ini, melainkan arah tren tersebut ke depan. Menurut dia, keadaan bisa semakin buruk setelah pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober.

Studi mengenai dokter ini menambah tanda-tanda meningkatnya jumlah warga Israel yang meninggalkan negara tersebut.

Penelitian lain dari Universitas Tel Aviv yang diterbitkan pada Agustus menemukan bahwa 268.509 warga Israel meninggalkan negara itu pada periode 2023 hingga 2025 dan berada di luar negeri setidaknya selama tiga bulan. Lembaga penyiaran publik Israel, KAN, menyebut angka tersebut sebagai rekor.

Sejumlah laporan di Israel mengaitkan meningkatnya jumlah warga yang pergi dengan perang, tingginya biaya hidup, serta krisis politik akibat upaya pemerintah mengurangi kewenangan lembaga peradilan.

Survei Kantar untuk KAN pada Agustus juga menunjukkan bahwa sekitar satu dari lima warga Israel pernah mempertimbangkan untuk pindah ke luar negeri dalam dua tahun terakhir.

Sebanyak 12 persen responden mengatakan hasil pemilu mendatang dapat memengaruhi keputusan mereka untuk tetap tinggal di Israel atau meninggalkan negara tersebut.