Sebelum bertolak ke Iran, al-Zaidi diketahui baru saja bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.
Rincian proposal yang dibawa al-Zaidi belum diketahui secara jelas. Namun, pejabat Iran menyebut proposal tersebut sebagai satu-satunya tawaran yang saat ini diajukan untuk mengakhiri pertempuran.
Teheran kemudian menolak proposal itu karena dinilai belum menyelesaikan persoalan terkait kendali atas Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik AS-Iran.
Iran Soroti Masa Depan Selat Hormuz
Persoalan Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama dalam ketegangan terbaru antara Washington dan Teheran.
Selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan mengganggu pasokan energi global.
Kunjungan al-Zaidi ke Teheran merupakan lawatan resmi pertamanya ke Iran sejak menjabat pada Mei lalu. Ia datang bersama delegasi tingkat tinggi dan bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas hubungan bilateral, perkembangan regional, serta upaya memperkuat keamanan dan stabilitas di kawasan.
Pejabat Iran mengatakan pembicaraan juga mencakup implementasi sejumlah kesepakatan yang sebelumnya telah ditandatangani kedua negara. Teheran dan Baghdad disebut sepakat untuk memperluas kerja sama di bidang perdagangan, energi, transportasi, serta isu-isu regional.
Menurut laporan media Iran, al-Zaidi juga bertemu dengan Kepala Negosiator Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Iran Siapkan Skenario Perang Meluas
Di tengah penolakan proposal gencatan senjata, pejabat Iran dilaporkan mulai mempersiapkan kemungkinan konflik yang lebih luas jika Trump benar-benar menjalankan ancamannya untuk menyerang Teheran dan infrastruktur penting lainnya.
The New York Times melaporkan dua pejabat Iran mengatakan bahwa serangan tambahan AS dapat mendorong Teheran memperluas konflik ke wilayah lain.
Salah satu skenario yang disebut adalah serangan terhadap Tel Aviv. Iran juga dilaporkan dapat meminta kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandab, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Langkah tersebut berpotensi memperluas dampak konflik jauh melampaui wilayah Iran dan Israel serta semakin mengganggu perdagangan internasional.
Serangan AS ke Iran Berlanjut
Sementara itu, Komando Pusat AS atau US Central Command (CENTCOM) menyatakan pasukan Amerika kembali melancarkan serangan terhadap target-target Iran pada Jumat pagi.
Serangan tersebut disebut menjadi gelombang serangan AS ke Iran yang berlangsung selama 13 malam berturut-turut.
Pada Rabu, otoritas Iran menyatakan sedikitnya 53 orang tewas dan 592 lainnya terluka akibat serangkaian serangan AS yang berlangsung hingga saat ini.
Ketegangan meningkat dalam dua pekan terakhir setelah Trump pada 8 Juli mengumumkan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya tercantum dalam nota kesepahaman AS-Iran bulan lalu tidak lagi berlaku.
Sejak saat itu, AS dan Iran terus saling melancarkan serangan. Washington menargetkan sejumlah lokasi di wilayah Iran, sementara Teheran mengklaim telah menyerang fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara di kawasan.
Konflik Ancam Pasokan Energi Dunia
Konfrontasi antara AS dan Iran telah mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dan menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Sejumlah negara juga menghadapi penutupan wilayah udara secara berkala di tengah meningkatnya ancaman serangan terhadap fasilitas dan kepentingan AS di luar kawasan Timur Tengah.
Jika konflik terus berlanjut dan Selat Hormuz benar-benar mengalami gangguan berkepanjangan, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan negara-negara di Timur Tengah. Pasar energi global dan jalur perdagangan internasional juga berpotensi menghadapi tekanan besar.
Sumber: Anadolu