Jakarta, CNN Indonesia --
Iran mengeklaim pasukan militer mereka barhasil meluluhlantakkan fasilitas militer Amerika Serikat di negara-negara Timur Tengah dalam perang 17 hari sepanjang Juli.
Penasihat keamanan pemimpin tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, mengatakan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah memberikan pukulan berat ke pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah dalam perang terbaru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harus menyebut konflik ini sebagai Perang Ketiga atau Perang 17 Hari Muharram, di mana kita juga memberikan pukulan telak ke Amerika," kata Rezaei saat wawancara dengan media Iran pada Senin, dikutip Mehr News.
Dia lalu berujar, "Bagi dunia, perang ini aneh, tetapi bagi kami itu bisa diprediksi."
Rezaei menunjuk pangkalan-pangkalan AS di Irak dan Kuwait sebagai contoh keberhasilan serangan balasan Iran. Karena serangan Iran, Washington harus mengevakuasi dua pangkalan tersebut.
Lebih lanjut, Rezaei memperkirakan Presiden AS Donald Trump akan merobek nota kesepahaman (MoU) Islamabad, menarik diri, dan kembali menggempur Iran.
Trump, menurut dia, tak memenuhi kewajibannya sesuai MoU dan kesepakatan gencatan senjata. AS hanya mematuhi perjanjian tersebut di lima hari pertama.
Rezaei juga menyinggung tindakan baru AS di Selat Hormuz.
"AS mencoba membuat pengaturan baru, membangun koridor di selatan Selat Hormuz dan mengabaikan peringatan Republik Islam Iran, oleh karena itu pasukan menargetkan dua atau tiga kapal agar mereka mematuhi kesepakatan," ujar dia.
AS kembali menggempur habis-habisan Iran pada pertengahan Juli. Teheran lalu membalasnya, dan perang pun kembali pecah.
Sebelum itu tepatnya pada Juni, AS dan Iran padahal meneken MoU berisi penghentian pertempuran serta menghormati kedaulatan masing-masing. Melalui perjanjian itu pula, Selat Hormuz untuk sementara dikendalikan Iran.
Sebelum ada MoU, AS dan Iran bahkan sudah sepakat gencatan senjata pada April dan diperpanjang tanpa batas waktu. Namun, di rentang waktu April hingga Juni, pasukan Washington juga terus menggempur Iran.
(isa/bac)
[Gambas:Video CNN]