Elephants

Investasi Jakarta Tembus Rp173,6 Triliun pada Triwulan II 2026, Tertinggi Senasional

July 22, 2026

Bagikan:

JAKARTA - Realisasi investasi di DKI Jakarta mencapai Rp173,6 triliun hingga triwulan II 2026. Nilai tersebut tumbuh 23,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan kembali menempatkan Jakarta sebagai daerah dengan realisasi investasi terbesar di Indonesia.

Dari total investasi tersebut, sebesar Rp106,5 triliun atau 61,3 persen berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN), sedangkan Rp67,1 triliun atau 38,7 persen merupakan penanaman modal asing (PMA). Capaian itu juga menyumbang 17,2 persen terhadap total realisasi investasi nasional.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, besarnya investasi yang masuk menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi ibu kota masih terjaga.

"Capaian ini menegaskan posisi Jakarta sebagai pusat kegiatan ekonomi nasional sekaligus mencerminkan meningkatnya kepercayaan dunia usaha terhadap prospek ekonomi Jakarta," kata Pramono dalam konferensi pers realisasi APBD Triwulan II di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 22 Juli.

Menurut Pramono, Pemprov DKI berupaya menjaga iklim investasi melalui pendampingan terhadap dunia usaha. Hingga pertengahan tahun ini, pemerintah telah memfasilitasi 251 perusahaan untuk menyelesaikan berbagai kendala investasi dan operasional.

Selain itu, Pemprov DKI juga tengah membuka peluang investasi baru melalui penjajakan kerja sama dengan sejumlah investor.

"Kami juga memfasilitasi 13 potensi kerja sama investasi dengan calon investor yang besar-besar. Kami juga melakukan inisiasi diskusi dengan Danantara terkait investasi hijau sebagai bagian dari percepatan pengembangan pengelolaan sampah menjadi energi listrik," ungkap Pramono.

Pramono menilai pertumbuhan investasi tidak terlepas dari kondisi ekonomi Jakarta yang masih menunjukkan kinerja positif. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jakarta tumbuh 5,59 persen secara tahunan dengan tingkat inflasi 2,78 persen atau lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,34 persen.

Menurutnya, optimisme pelaku usaha menjadi faktor penting yang harus dijaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Hal ini didukung oleh aktivitas dan konsumsi masyarakat serta yang paling penting ini optimisme pelaku ekonomi yang tetap terjaga. Jadi menjaga optimisme ini menjadi sangat penting di tengah kondisi yang seperti ini karena global yang uncertainty. Kalau kemudian nasional dan juga Jakarta optimisme itu bisa terbangun, ini adalah hal yang sangat baik sekali," imbuhnua.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+