Salma Laiqa, CNBC Indonesia
02 September 2026 12:05
Jakarta,CNBC Indonesia - Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia masih bertahan tinggi pada awal September 2026, meski terkoreksi tipis setelah reli dalam dua sesi sebelumnya.
Berdasarkan data Refinitiv, harga CPO berjangka berada di level MYR4.952 atau sekitar Rp21,75 juta per ton pada Rabu (2/9/2026), dengan kurs MYR1 = Rp4.392.). Harganya turun 0,42%.
Pelemahan ini berbanding terbalik dengan perdagangan Selasa (1/9/2026) di mana haganya menguat 1,6% ke MYR4.973 atau sekitar Rp21,84 juta per ton. Namun, posisi CPO masih berada sangat dekat dengan level psikologis MYR5.000 atau sekitar Rp21,96 juta per ton.
Sebelumnya, harga sempat menyentuh MYR5.018 per ton pada 21 Agustus sebelum terkoreksi hingga akhir bulan. Pergerakan awal September menunjukkan CPO masih berusaha kembali menuju level tertinggi tersebut.
CPO Masih Berpeluang Tembus MYR5.000: dari sisi teknikal, Analis Reuters Melihat Tren Kenaikan CPO Belum Selesai.
Dari sisi teknikal, analis komoditas Reuters Wang Tao melihat tren kenaikan CPO masih berpeluang berlanjut. Harga diperkirakan dapat bergerak menuju kisaran MYR5.032-MYR5.083 per ton, setara sekitar Rp22,10 juta-Rp22,32 juta per ton.
Tren kenaikan yang bermula dari MYR4.462 masih bergerak dalam rising channel. Wang Tao melihat MYR5.083 sebagai target realistis, sementara potensi kenaikan yang lebih agresif dapat mencapai MYR5.166 atau sekitar Rp22,69 juta per ton.
Pada grafik per jam, harga juga berpeluang kembali menguji level tertinggi 21 Agustus di sekitar MYR5.031. Sebaliknya, jika turun di bawah MYR4.949, koreksi dapat berlanjut menuju sekitar MYR4.897 per ton.
Fundamental Masih Tarik-Menarik
Tekanan datang dari minyak nabati pesaing. Kontrak sawit Dalian turun 0,93% dan minyak kedelai Chicago melemah 0,59%, sementara CPO bersaing langsung dengan minyak nabati lain di pasar global.
Dari sisi permintaan, ekspor juga masih lemah. Ekspor sawit Malaysia Agustus diperkirakan turun 6,5%-14,9% secara bulanan, sementara AmSpec mencatat volumenya sekitar 1,335 juta ton, turun dari 1,428 juta ton pada Juli. Impor sawit Uni Eropa juga turun 21% secara tahunan menjadi 0,41 juta ton.
Di sisi lain, harga minyak mentah yang naik hampir 1% menjadi penopang karena membuat CPO lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel. Ringgit yang melemah 0,14% terhadap dolar AS juga membuat CPO sedikit lebih murah bagi pembeli asing.
Apa Artinya Bagi Indonesia?
Indonesia mencatat ekspor CPO dan produk olahan sepanjang Januari-Juli sebesar 13,51 juta ton, turun 0,97% secara tahunan. Namun, nilainya justru naik 5,49% menjadi US$14,79 miliar atau sekitar Rp262,85 triliun (US$1 = Rp17.772). Pada Juli saja, ekspor mencapai 2,23 juta ton atau naik 15,44% secara tahunan.
Kondisi tersebut menunjukkan harga CPO yang masih tinggi membantu menjaga nilai ekspor meski volume kumulatif sedikit melemah. Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah juga menjadi penopang karena membuat CPO lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
(Salma Laiqa/slm)