Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan saham hari ini, Kamis (10/9). Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan IHSG terkoreksi 0,12% ke level 6.678 pada perdagangan Rabu (9/9), disertai munculnya tekanan jual.
Secara teknikal Herditya memperkirakan IHSG saat ini berada di akhir wave v dari wave (c). Investor dinilai bisa mencermati potensi kenaikan IHSG menuju area 6.736–6.812.
“Namun demikian, waspadai akan adanya potensi koreksi terdekat ke rentang 6.643–6.653,” tulis Herditya dalam risetnya, Kamis (10/9).
MNC Sekuritas menargetkan area support IHSG berada di kisaran 6.610–6.561, sementara level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.705–6.755.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) akumulasi beli di rentang Rp 151–Rp 156 dengan target harga di Rp 175–Rp 186, sementara level stoploss di bawah Rp 147.
Kemudian PT Timah Tbk (TINS) direkomendasikan trading buy pada area Rp 4.220–Rp 4.470 dengan target harga di Rp 4.720–Rp 4.820, dan stoploss di bawah Rp 4.120.
Sentimen IHSG
Phintraco Sekuritas menyoroti tekanan IHSG terutama gara-gara lonjakan harga minyak Brent hingga menembus US$ 100 per barel akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Secara teknikal, Phintraco menyebut IHSG masih bertahan di atas MA5. Indikator Stochastic RSI juga berpotensi membentuk golden cross di area pivot. Namun, histogram positif MACD mulai menyempit. Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak sideways di kisaran 6.600–6.700 pada perdagangan Kamis (10/9).
Dari dalam negeri, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia naik menjadi 118,5 pada Agustus 2026 dari 116,8 pada Juli 2026. Kenaikan ini menjadi yang pertama dalam empat bulan terakhir, ditopang membaiknya penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan prospek ekonomi ke depan.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik menjadi 109,4 pada Agustus 2026 dari 107,9 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) meningkat menjadi 127,6 dari 125,7.
“Sementara itu data penjualan ritel Indonesia diperkirakan turun 3.3% YoY di Juli (10/9), setelah turun 3% YoY di Juni 2026,” tulis Phintraco Sekuritas.
Dari sektor otomotif, penjualan mobil di Indonesia melonjak 32,4% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 81.756 unit pada Agustus 2026, level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Namun, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 33,3% yoy.
Kenaikan penjualan mobil ditopang penyelenggaraan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 pada 29 Juli hingga 9 Agustus 2026, yang mendorong penjualan kendaraan selama Juli dan Agustus.
Sementara itu, penjualan sepeda motor tumbuh 3,18% yoy menjadi 596.461 unit pada Agustus 2026. Pertumbuhannya melambat dari 8,3% yoy pada Juli 2026 di tengah kenaikan inflasi.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Elnusa Tbk (ELSA).