IHSG berpotensi sideways di tengah wait and see arah kebijakan BI
Rabu, 19 Agustus 2026 11:55 WIB
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (14/8/2026). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/sgd
Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu berpotensi bergerak sideways di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap arah kebijakan Bank Indonesia (BI).
IHSG dibuka melemah 41,65 poin atau 0,65 persen ke posisi 6.408,18. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,15 poin atau 0,02 persen ke posisi 631,18.
"IHSG diperkirakan akan bergerak sideways di kisaran 6,400-6,500 pada perdagangan Rabu," ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Dari dalam negeri, pelaku pasar bersikap wait and see terhadap hasil pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, yang akan diumumkan pada Rabu siang ini.
Konsensus memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, seiring laju inflasi domestik yang masih berada di kisaran target BI serta di tengah upaya meningkatkan stabilitas rupiah dan memacu pertumbuhan ekonomi.
Kemudian, deposit facility rate dan lending facility diperkirakan akan tetap masing-masing pada level 4,75 persen dan 6,5 persen. Sementara laju pertumbuhan kredit diperkirakan meningkat menjadi 13 persen year on year (yoy) pada Juli 2026 dari sebelumnya 12,67 persen (yoy) pada Juni 2026.
"Investor diperkirakan juga akan mencermati penjelasan Bank Indonesia mengenai arah-arah kebijakan selanjutnya," ujar Ratna.
Dari mancanegara, harga minyak mentah ditutup menguat terbatas di tengah pernyataan Iran yang akan mengambil sikap lebih ofensif dan Selat Hormuz akan tetap ditutup, serta keputusan Amerika Serikat (AS) untuk tidak memperpanjang gencatan senjata.
Sementara itu, imbal hasil obligasi di berbagai negara terus meningkat seiring kekhawatiran investor terhadap harga minyak yang dapat bertahan di level tinggi dan memicu kembali kenaikan laju inflasi.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat ke level tertinggi dalam beberapa dekade, lalu, imbal hasil obligasi Jepang dengan tenor 10 tahun juga mencapai level tertinggi dalam tiga dekade.
Kemudian, imbal hasil obligasi Jerman tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2011, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 30 tahun mencapai titik tertinggi sejak 2008.
Saham-saham sektor teknologi yang sensitif terhadap suku bunga menjadi yang paling terdampak dari kenaikan imbal hasil global tersebut. Pada saat sama, penerbitan obligasi dalam jumlah besar oleh perusahaan-perusahaan besar di sektor teknologi untuk mendanai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) semakin memperparah kekhawatiran terkait utang
Bursa saham Eropa mayoritas melemah pada Selasa (18/8/2026), di antaranya Euro Stoxx 50 melemah 0,94 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,07 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,80 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 0,82 persen.
Bursa Wall Street AS kompak melemah pada Selasa (18/8/2026), di antaranya indeks S&P 500 melemah 0,69 persen ke level 7.691,76, indeks Nasdaq Composite melemah 1,68 persen ke 29.490,91, serta Dow Jones Industrial Average melemah 0,22 persen ke 53.343,40.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 2,61 persen ke 65.702,00, indeks Shanghai menguat 1,83 persen ke 3.917,4, indeks Kospi melemah 5,42 persen ke 6.497,41, indeks Hang Seng melemah 0,17 persen ke 25.428,81, dan indeks Straits Times melemah 0,24 persen ke 5,687,26.
Pewarta : Muhammad Heriyanto
Editor:
Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026