Elephants

IDAI beri rekomendasi pencegahan dampak abu vulkanik pada anak

September 7, 2026
Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya

Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan sejumlah rekomendasi guna mencegah dampak kesehatan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau, mulai dari mengungsikan anak ke tempat aman, cara membersihkan abu, hingga menyiapkan obat-obatan.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso di Jakarta, Senin, mengatakan abu vulkanik bukanlah debu biasa. Material ini terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik, berukuran sangat halus dengan permukaan tajam dan abrasif. Ketika terhirup, partikel-partikel ini dapat menggores dan mengiritasi saluran pernapasan.

Abu vulkanik juga mengandung gas-gas iritan seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO) yang dapat memperparah iritasi dan memicu peradangan pada sistem pernapasan anak.

Oleh karena itu, kata dia, dalam situasi darurat seperti ini, keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama di atas segalanya.

Baca juga: Kemenkes: 3,3 juta lansia berisiko terdampak abu erupsi Anak Krakatau

IDAI memberikan sejumlah rekomendasi sebagai berikut:

1) Mengungsikan anak menjauhi lokasi yang terkena dampak letusan.
2) Tetap tinggal di dalam rumah dengan kondisi tertutup rapat bila kondisi udara di lingkungan buruk, yaitu lebih dari 100 pada Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), yang dapat dilihat di situs pemantau kualitas udara.
3) Jauhkan anak saat membersihkan abu.
4) Saat membersihkan rumah, jauhkan anak. Jika tidak memungkinkan, gunakan lap atau kain basah, atau basahi lantai/ objek yang hendak dibersihkan dengan air agar debu tidak beterbangan saat dibersihkan dengan kain atau lap.
5) Matikan alat yang menghisap udara luar masuk rumah, seperti AC; atur mode air recirculation/closed vent.
6) Jangan nyalakan kipas angin karena justru akan meniupkan partikel debu yang sudah mengendap di permukaan furnitur atau lantai ke udara, dan akan terhirup.
7) Gunakan masker khusus anak pada anak yang berusia lebih dari 2 tahun dan pastikan terpasang dengan baik, ajarkan cara memakainya.
8) Berikan pelindung mata pada anak, dapat berupa kacamata anak.
9) Kenakan pakaian tertutup untuk mengurangi paparan langsung pada kulit sensitif anak.
10) Siapkan obat-obatan rutin bila anak punya riwayat asma/alergi saluran napas.
11) Hindarkan anak dari polusi asap tambahan di dalam rumah, seperti asap rokok, asap dapur.
12) Pastikan anak cukup minum untuk mencegah dehidrasi.
13) Segera datang ke rumah sakit bila terdapat gejala sesak napas yang ditandai dengan laju napas meningkat, ada tarikan dinding dada ke dalam, dan saturasi oksigen di bawah 94 persen dengan oksimeter jari.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung sejak 4 September 2026 dan berstatus Siaga (Level III) telah menyebabkan penyebaran abu vulkanik yang meluas hingga ke wilayah Jabodetabek, Banten, Lampung, dan sebagian Jawa Barat.

Baca juga: Badan Geologi: Abu vulkanik Anak Krakatau tersebar ke lima provinsi

Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan aktivitas vulkanik masih tinggi dan tren erupsi belum menunjukkan penurunan. Masyarakat, khususnya para orang tua, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan, terutama bagi anak-anak sebagai kelompok yang paling rentan.

"Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa dan masa depan anak-anak kita. Di tengah ancaman abu vulkanik yang nyata, kita wajib mengutamakan perlindungan mereka dengan tindakan preventif yang tegas dan cepat. Jangan menunggu sampai gejala muncul, karena setiap tarikan napas anak kita saat ini adalah investasi untuk kesehatannya di masa depan," kata iprim.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI Wahyuni Indawati menambahkan paparan abu vulkanik dapat memicu berbagai gangguan pernapasan akut.

"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," ucapnya.

Baca juga: Terdampak erupsi Anak Krakatau, 8 penerbangan Kupang-Jakarta batal

Anak dengan kondisi tertentu, seperti bayi, dengan riwayat displasia bronkopulmonal atau anak dengan penyakit jantung bawaan juga masuk dalam kelompok berisiko tinggi.

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.