Jakarta (ANTARA) - BPJS Kesehatan mengatakan, dibutuhkan keseimbangan antara inovasi teknologi medis, efektivitas biaya, serta kebijakan pembiayaan yang berbasis bukti melalui Health Technology Assessment (HTA), guna memastikan kelangsungan pembiayaan penyakit kardiovaskular di Indonesia.
Direktur Utama BPJS Kesehatan dr. Prihati Pujowaskito mengatakan di Jakarta, Kamis, meningkatnya beban penyakit jantung memberikan konsekuensi besar terhadap pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Data BPJS Kesehatan menunjukkan biaya pelayanan penyakit jantung mencapai sekitar Rp12,1 triliun dengan sekitar 15 juta kasus pelayanan.
"Penerapan inovasi harus memberikan manfaat klinis yang nyata sekaligus menjaga keberlanjutan sistem pembiayaan nasional. Dengan demikian, masyarakat tetap memperoleh akses terhadap terapi terbaik tanpa membebani sistem kesehatan secara berlebihan," ujar Prihati dalam Annual Scientific Meeting of the Indonesian Heart Association (ASMIHA) ke-35.
Menurutnya, urgensi tersebut semakin relevan mengingat penyakit jantung masih menjadi salah satu penyakit katastrofik dengan beban pembiayaan terbesar dalam Program JKN.
Baca juga: KSP mendorong penguatan BPJS Kesehatan menuju Indonesia Emas 2045
Mengutip data dari Kementerian Kesehatan, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia, di mana serangan jantung dan stroke menjadi penyebab utama kematian di Indonesia, merenggut hampir 800 ribu nyawa setiap tahunnya. Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi tantangan baru berupa meningkatnya mobilitas pasien yang memilih mencari layanan kesehatan ke luar negeri.
Kondisi ini menunjukkan transformasi layanan jantung nasional tidak lagi hanya bergantung pada kemajuan teknologi dan kompetensi klinis, tetapi juga pada pemerataan tenaga spesialis, keberlanjutan pembiayaan, kualitas pengalaman pasien, hingga kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan dalam negeri.
Baca juga: LPA tanggulangi semua tagihan BPJS dua santri korban pembakaran
Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia dr. Renan Sukmawan mengatakan, tantangan tersebut bukan lagi semata-mata berkaitan dengan kemampuan klinis. Menurut keduanya, kompetensi dokter jantung Indonesia telah mampu bersaing dengan standar global.
Menurutnya, pengalaman pasien secara menyeluruh (patient experience) menjadi faktor yang semakin menentukan dalam membangun kepercayaan masyarakat.
"Kualitas pelayanan tidak berhenti pada tindakan medis. Transparansi komunikasi, pelayanan yang humanis, proses yang mudah dipahami, serta pengalaman pasien sejak pertama datang hingga selesai menjalani perawatan merupakan bagian penting dalam membangun kembali trust masyarakat terhadap layanan kesehatan Indonesia," katanya.
Ketua The 35th ASMIHA 2026 dr. Amir Aziz Alkatiri mengatakan, forum tersebut mempertemukan pemerintah, organisasi profesi, akademisi, penyedia layanan kesehatan, hingga tokoh masyarakat untuk membahas arah transformasi ekosistem kardiologi Indonesia secara menyeluruh.
Pewarta : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026