Elephants

Hari Anak Nasional 2026, 12 Aspirasi Anak Indonesia Siap Dikawal hingga Jadi Kebijakan

July 23, 2026

Mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", HAN tahun ini menegaskan pentingnya investasi pada generasi penerus bangsa.

Menurut Arifah, anak-anak saat ini merupakan calon pemimpin Indonesia di masa depan. Karena itu, mereka harus memperoleh ruang seluas-luasnya untuk belajar, berkembang, berkreasi, dan mewujudkan cita-cita.

"Ketika kita hadir untuk anak, kita sedang menyiapkan generasi penerus bangsa yang berkualitas," ujarnya.

Ia menegaskan, HAN bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pengingat bagi seluruh elemen bangsa untuk memperkuat dukungan terhadap tumbuh kembang anak.

Keluarga, sekolah, masyarakat, dunia usaha, media, pemerintah daerah, kementerian, hingga lembaga negara memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan anak.

Pada puncak peringatan HAN ke-42, Forum Anak menyampaikan 12 poin Suara Anak Indonesia yang mewakili aspirasi anak dari 38 provinsi.

Aspirasi tersebut disusun melalui proses partisipatif mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.

Dua belas poin tersebut mencakup berbagai isu strategis, antara lain pendidikan berkualitas dan inklusif, pencegahan kekerasan dan perundungan, kesehatan fisik dan mental, perlindungan anak di ruang digital, peningkatan partisipasi anak dalam pembangunan, penguatan peran keluarga, pelestarian lingkungan hidup, serta pemenuhan hak anak penyandang disabilitas.

"Suara Anak Indonesia tidak hanya kami dengar, tetapi juga kami kawal. Kami akan mendampingi anak-anak menyampaikan langsung rekomendasi mereka kepada kementerian dan lembaga terkait agar setiap aspirasi mendapatkan perhatian dan tindak lanjut," kata Arifah.

Selain penyampaian aspirasi, peringatan HAN tahun ini juga diisi dengan permainan tradisional berbasis kearifan lokal dan pameran robotik karya anak Indonesia sebagai wadah pengembangan kreativitas, bakat, dan karakter.

Menurut Arifah, permainan tradisional menjadi alternatif positif di tengah tingginya penggunaan gawai oleh anak-anak.

"Kita tidak bisa hanya melarang anak bermain gawai. Kita perlu menghadirkan alternatif kegiatan yang positif dan menyenangkan. Permainan tradisional mengajarkan kebersamaan, sportivitas, dan nilai karakter yang penting bagi perkembangan anak," ujarnya.

Ia juga mengapresiasi pameran robotik yang dinilai menunjukkan potensi besar anak Indonesia di bidang sains dan teknologi.

Baca Juga: Dituding Serahkan Aset Berutang ke Sarwendah, Kuasa Hukum Ruben Onsu: Itu Pilihan Dia Sendiri