Bagikan:
JAKARTA - Lonjakan harga minyak diperkirakan mendongkrak laba perusahaan energi besar Amerika Serikat pada kuartal kedua. Namun, kenaikan harga bensin justru menjadi masalah politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilu sela November.
Dikutip dari laporan Anadolu Agency, Sabtu, 11 Juli, harga minyak mentah yang tinggi menopang proyeksi pendapatan ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips. Pada saat yang sama, harga bensin menambah beban anggaran rumah tangga di Amerika Serikat.
Pemerintahan Trump menghadapi dua kepentingan yang bertolak belakang. Perusahaan energi besar diperkirakan membukukan laba kuat, sementara Gedung Putih berusaha menahan inflasi dan menjaga harga bensin tetap terkendali.
Berdasarkan perkiraan London Stock Exchange Group atau LSEG, ExxonMobil diproyeksikan mencatat laba bersih 15,7 miliar dolar AS pada kuartal kedua. Angka itu hampir tiga kali lipat dibandingkan laba kuartal pertama.
Proyeksi tersebut ditopang harga minyak mentah yang tinggi selama konflik Amerika Serikat-Israel-Iran serta margin pengolahan yang lebih besar. Margin pengolahan merupakan selisih antara harga minyak mentah dan nilai produk jadi seperti bensin atau solar.
Chevron diperkirakan membukukan laba bersih 9,9 miliar dolar AS, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kuartal pertama. ConocoPhillips juga diproyeksikan meraih keuntungan lebih tinggi berkat kinerja produksi yang kuat.
BACA JUGA:
Perusahaan jasa ladang minyak juga diperkirakan mencatat hasil lebih baik. SLB dinilai dapat menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari siklus investasi baru yang didorong pertumbuhan teknologi digital dan pembangunan pusat data.
Halliburton juga berpeluang diuntungkan oleh kapasitas layanan yang semakin terbatas di Amerika Utara.
Kenaikan harga minyak mentah mulai merembet ke pompa bensin dan menekan anggaran rumah tangga. Kondisi itu berpotensi menjadi isu penting dalam pemilu sela yang akan menentukan kendali Kongres.
Pada 24 Juni, Trump mengatakan penurunan harga minyak mentah belum sepenuhnya dirasakan konsumen. Ia kemudian meminta Departemen Kehakiman Amerika Serikat memeriksa persoalan tersebut.
Trump menilai perusahaan minyak besar tidak cukup cepat meneruskan penurunan biaya minyak mentah kepada konsumen. Menurut dia, warga Amerika masih membayar harga bahan bakar terlalu tinggi dan harga bensin seharusnya turun lebih cepat.
Ketegangan geopolitik dan sanksi yang lebih ketat terhadap Iran tetap menopang harga minyak. Meski begitu, harga minyak Brent masih jauh di bawah level yang tercatat pada April dan Mei.
Analis energi dan ekonomi Primary Vision Network Osama Rizvi mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa kondisi pasar saat ini layak disebut menghasilkan “keuntungan yang didorong perang”.
Ia menilai 2026 menjadi tahun yang sangat menguntungkan bagi industri minyak, tetapi konsumen ikut menanggung biayanya. Rizvi juga menyoroti melemahnya tren ketenagakerjaan dan tingkat kepercayaan konsumen yang berada pada level sangat rendah.
Menurut Rizvi, harga bensin tinggi menjadi risiko politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu sela.
“Presiden Amerika Serikat memahami bahwa dalam tahun pemilu, mereka tidak boleh menghadapi dua hal, yakni harga bensin yang tinggi dan kantong jenazah,” kata Rizvi.
Ia mengatakan istilah “kantong jenazah” berkaitan dengan kemungkinan Trump memperluas konflik ke Iran. Sementara harga bensin menunjukkan berapa lama Amerika Serikat mampu mempertahankan permusuhan.
Rizvi menambahkan persediaan minyak dan produk olahan mulai menipis. Pasar produk olahan juga menghadapi kekurangan, sedangkan selisih antara harga produk seperti bensin dan minyak mentah mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun.
Di tengah tekanan terbuka itu, hubungan Gedung Putih dengan industri energi ternyata tetap kuat.
Analis pasar minyak independen Gaurav Sharma mengatakan kekhawatiran harga minyak melonjak hingga 175 sampai 200 dolar AS per barel pada awal konflik tidak terbukti. Pasokan Amerika Serikat yang kuat menjadi salah satu penahannya.
“Harga minyak di atas 100 dolar AS per barel langsung menguntungkan perusahaan Amerika Serikat karena pembeli Asia mengantre membeli minyak mentah ringan berkadar sulfur rendah dari AS,” kata Sharma kepada Anadolu Agency.
Ia memperkirakan Trump akan meningkatkan tekanan terhadap perusahaan energi bila harga bensin tetap tinggi menjelang pemilu. Gesekan antara Gedung Putih dan industri pun diperkirakan berlanjut.
Namun, Sharma menilai ketegangan di ruang publik tidak mencerminkan hubungan di belakang layar.
“Hubungan Gedung Putih dan sektor energi Amerika Serikat tidak pernah sebaik ini,” ujarnya.
Sharma mengatakan Amerika Serikat berada dalam posisi kuat sebagai pengekspor utama minyak dan pengekspor LNG terbesar di dunia. Negara itu juga tengah menjalankan ekspansi energi terbesar dalam satu generasi.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+