Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
26 July 2026 15:45
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga batu bara termal kembali menguat dalam sepekan terakhir setelah sempat menyentuh level terendah empat bulan pada akhir Juni. Data Refinitiv menunjukkan kontrak Newcastle (NCFMc2) ditutup di posisi US$135,4 per ton pada 24 Juli 2026, naik 5,17% dibanding penutupan 10 Juli yang berada di US$128,75 per ton.
Kenaikan berlangsung bertahap sepanjang pekan. Harga bergerak dari US$133,35 per ton pada 17 Juli menjadi US$133,75 pada 20 Juli, lalu bertahan di kisaran US$134-135 per ton hingga akhir pekan. Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam sekitar satu bulan terakhir.
Penguatan ini terutama dipicu oleh gangguan pasokan dari Indonesia, eksportir batu bara termal terbesar di dunia.
Cuaca kering menghambat aktivitas pengangkutan batu bara melalui Sungai Barito di Kalimantan. Jalur sungai tersebut menjadi salah satu urat nadi distribusi batu bara menuju pelabuhan ekspor. Penurunan muka air membuat tongkang tidak dapat beroperasi dengan kapasitas normal, sementara beberapa perusahaan tambang dilaporkan menetapkan kondisi force majeure pada sebagian volume pengiriman.
Gangguan logistik tersebut memunculkan kekhawatiran keterlambatan ekspor dalam jangka pendek. Pasar kemudian memasukkan risiko pasokan itu ke dalam harga sehingga kontrak batu bara bergerak naik meski belum disertai peningkatan permintaan yang kuat.
Dukungan tambahan datang dari pasar energi global. Harga minyak melonjak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan minyak biasanya memperkuat sentimen pada kelompok komoditas energi karena meningkatkan persepsi risiko terhadap pasokan energi dunia. Aliran dana ke sektor energi pun ikut menopang harga batu bara.
Meski demikian, ruang kenaikan masih tertahan oleh kondisi pasar China.
Permintaan impor dari negara konsumen batu bara terbesar di dunia itu masih lemah. Persediaan batu bara di pembangkit listrik dan pelabuhan berada pada level tinggi sehingga perusahaan utilitas memilih menunda pembelian baru. Aktivitas pembelian yang hati-hati membuat kebutuhan impor belum meningkat meskipun harga mulai pulih.
Dalam jangka menengah, pelaku pasar juga mulai memperhatikan perkembangan di India, salah satu negara dengan pertumbuhan konsumsi batu bara tercepat di dunia. Laporan Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) yang terbit pada 22 Juli menilai ketergantungan India terhadap impor batu bara kokas berpotensi menghadapi tantangan pasokan dalam beberapa tahun mendatang.
IEEFA menjelaskan Australia, pemasok batu bara kokas terbesar dunia, terus memangkas proyeksi ekspor hingga awal dekade berikutnya. Sejumlah produsen menghadapi kenaikan biaya operasi, rasio pengupasan (strip ratio) yang semakin tinggi, serta penutupan tambang. Tambang Ashton milik Yancoal, misalnya, dijadwalkan berhenti beroperasi pada 2028 karena kendala teknis dan risiko operasional. Pemerintah New South Wales juga telah menyatakan tidak akan menyetujui pembukaan tambang batu bara greenfield baru.
Kondisi tersebut mendorong India mempercepat diversifikasi bahan baku industri baja. Penggunaan baja berbasis besi tua (scrap steel) melalui electric arc furnace diperkirakan terus meningkat, sementara teknologi direct reduced iron (DRI) berbasis hidrogen mulai diposisikan sebagai alternatif untuk mengurangi konsumsi batu bara kokas impor. Pergeseran ini belum memengaruhi harga batu bara termal dalam perdagangan harian, tetapi memberikan gambaran bahwa permintaan batu bara untuk industri baja berpotensi berubah dalam jangka panjang.
Tekanan dari sisi permintaan juga terlihat di Eropa.
Laporan Montel menyebut operator tongkang di Sungai Rhine memangkas muatan hingga 75% karena permukaan air mendekati rekor terendah. Secara teori kondisi tersebut dapat mengganggu distribusi batu bara menuju pembangkit listrik di Jerman dan sekitarnya.
Namun, dampaknya terhadap perdagangan internasional belum mendorong permintaan baru. Utilitas di kawasan Amsterdam-Rotterdam-Antwerp (ARA) justru memilih mengandalkan stok yang sudah tersedia. Persediaan batu bara di terminal ARA mencapai sekitar 4 juta ton, tertinggi dalam enam pekan. Keputusan itu mengurangi kebutuhan membeli kargo spot selama biaya pengangkutan sungai masih mahal akibat pembatasan muatan tongkang.
Data perdagangan juga menggambarkan bahwa reli batu bara masih bersifat pemulihan, bukan memasuki tren kenaikan baru. Berdasarkan kontrak CFD yang melacak harga acuan batu bara termal, harga pada 24 Juli berada di sekitar US$130,6 per ton, turun 8,8% dibanding sebulan sebelumnya. Secara tahunan, harga masih lebih tinggi sekitar 14,8%.
Dengan kondisi tersebut, arah harga batu bara dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada dua faktor. Pertama, pemulihan distribusi ekspor Indonesia setelah gangguan di Sungai Barito mereda. Kedua, perubahan pola pembelian dari China yang hingga kini masih menahan impor karena tingkat persediaan domestik tetap tinggi.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Add
as a preferred
source on Google