Guru Indonesia cerdas jadi harapan baru di jantung Papua
Kamis, 3 September 2026 09:29 WIB
Bupati Jayawijaya Atenius Murib (jas hitam berdasi) didampingi Plt Sekda Kabupaten Jayawijaya Tinggal Wusono, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya Kaleb Asso, Pengurus Yayasan Indonesia Cerdas berfoto bersama dengan 90 tenaga guru Yayasan Indonesia Cerdas usai melakukan pertemuan di Ruang Bupati Jayawijaya. ANTARA/Yudhi Efendi.
Wamena (ANTARA) - Pendidikan masih menjadi harapan dan kerinduan besar bagi anak-anak Papua di daerah pelosok yang terkendala akses infrastruktur, teknologi, sumber daya manusia (SDM), dan keamanan, dibandingkan dengan wilayah perkotaan.
Konsep pembangunan Tanah Papua ke depan difokuskan kepada tiga hal, yakni Papua Cerdas, Papua Sehat dan Papua Produktif. Ketiganya saling melengkapi satu dengan lainnya, sehingga terbentuk program dalam menyejahterakan orang asli Papua (OAP) dalam segala bidang.
Sesuai data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, jumlah tenaga guru di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mencapai 3.259 hingga 3.291 orang, termasuk 90 tenaga guru dari Yayasan Indonesia Cerdas.
Jumlah sekolah di Kabupaten Jayawijaya mencakup 122 SD, 36 SMP, 13 SMA dan enam SMK dengan rincian SD Sederajat 122 (69 negeri dan 53 swasta). SMP Sederajat 36 (18 negeri dan 18 swasta) serta SMA sederajat 13 (lima negeri dan delapan swasta) dan SMK enam (satu negeri dan lima swasta).
Kabupaten Jayawijaya merupakan daerah yang berada tepat di “jantung” Tanah Papua karena keberadaannya yang terletak persis di pusat wilayah yang telah terbagi dalam enam provinsi tersebut.
Kabupaten Jayawijaya memiliki 328 kampung dan empat kelurahan dari 40 distrik. Meski saat ini menjadi pusat Ibu Kota Provinsi Papua Pegunungan, tetapi masih banyak wilayah daerah itu yang membutuhkan peningkatan infrastruktur, teknologi, SDM, dan keamanan.
Kurangnya fasilitas sarana prasarana pendukung pelayanan pendidikan, seperti rumah guru, tidak adanya jaringan internet, kurangnya pengamanan, sehingga membuat guru-guru yang telah berstatus aparatur sipil negara (ASN) tidak nyaman berada di tempat tugas.
Menyikapi kondisi itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya berupaya mencari solusi untuk dapat meningkatkan pelayanan pendidikan di daerah setempat dengan mengontrak tenaga guru dari sebuah yayasan.
Pemkab Jayawijaya dan satu yayasan telah melakukan kerja sama di sektor pendidikan selama 10 tahun terakhir dan tahun ini di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Jayawijaya Atenius Murib-Ronny Elopere, kerja sama itu dilanjutkan.
“Kami telah melakukan perjanjian kerja sama lanjutan bersama Yayasan Indonesia Cerdas untuk memperkuat pelayanan pendidikan,” kata Bupati Jayawijaya Atenius Murib.
Dengan adanya kerja sama pendidikan tersebut, yayasan mengirim 90 tenaga guru untuk memberikan dukungan pelayanan pendidikan di 137 SD dan SMP di wilayah tersebut.
Sebanyak 50 tenaga guru telah dikirim yayasan sejak tahun 2025, dan pada Juni-Juli 2026 ditambah lagi 40 tenaga guru sehingga jumlahnya bertambah menjadi 90 orang.
Sejak 10 tahun lalu, kerja sama antara Pemkab Jayawijaya dan yayasan telah dilakukan, tetapi dari ratusan tenaga guru yang dikirim saat itu banyak yang telah diangkat atau berubah status menjadi ASN maupun pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Maka ditambah lagi dengan guru tambahan 90 orang dari yayasan, sejak 2025 hingga saat ini.
Bupati Jayawijaya mengaku bersyukur sekali ada dukungan tenaga guru dari yayasan untuk mengabdi dan memberikan ilmu bagi generasi muda daerah tersebut.
Tinggalkan tugas
Penambahan tenaga guru dari yayasan dikarenakan banyak guru yang berstatus ASN tidak pernah berada di tempat tugas, sehingga layanan pendidikan tidak berjalan baik, khususnya bagi SD dan SMP di wilayah pinggiran Kabupaten Jayawijaya.
Para siswa di daerah itu tidak memperoleh pelayanan pendidikan bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bulan. Dengan situasi seperti itu, sangat berpengaruh terhadap kualitas SDM generasi muda di daerah itu.
Bupati Jayawijaya Atenius Murib menilai guru-guru dari yayasan itu sangat luar biasa meski bukan orang asli Papua (OAP), tetapi dapat betah berada di tempat tugas.
Dengan adanya tenaga guru dari yayasan, orang nomor satu di Kabupaten Jayawijaya itu meminta supaya masyarakat dapat menjaga dan melindungi mereka untuk kepentingan masa depan generasi muda di daerah itu.
Indonesia Cerdas
Yayasan Indonesia Cerdas pertama meletakkan kakinya di Tanah Papua, tepatnya di wilayah Papua Pegunungan, saat itu masih berstatus wilayah Papua, pada kurun waktu 2013-2014.
Kerja sama di wilayah Papua itu diawali dengan dukungan kerja sama dengan Kabupaten Lanny Jaya, Mamberamo Tengah, dan Tolikara, namun ketiga kabupaten itu telah menghentikan kerja sama setelah beberapa tahun berjalan. Pada 2016-2017, Kabupaten Jayawijaya melakukan kerja sama dengan yayasan itu dan bertahan hingga saat ini.
Ketua Umum Yayasan Indonesia Cerdas Prof Fransiskus Irwan Widjaja mengatakan pelayanan pendidikan itu sama seperti ajaran yang Tuhan Yesus Kristus kepada umatnya. Dasar inilah yang dibekalkan kepada guru-guru yang dikirim ke Kabupaten Jayawijaya untuk melayani anak-anak didik. Guru-guru tersebut dilatih untuk berbagi hidup dengan masyarakat di daerah tugasnya, seperti Jayawijaya.
Menurut dia, setiap guru yang terpilih dan dikirim ke Papua Pegunungan, khususnya Kabupaten Jayawijaya, harus dapat mencintai daerah itu, masyarakatnya, dan cuacanya, sehingga mereka bertahan hingga saat ini.
Konsep pelayanan pendidikan di Papua harus mencintai daerah itu sepenuh hati supaya betah berada di daerah penugasan. Hal yang ditanamkan, ke Papua, bukan untuk mencari hidup atau numpang hidup, tetapi berbagi hidup.
Sebagaimana tercantum dalam Yohanes 13:13, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan". Tuhan Yesus Kristus memberikan amanat agung, maka pergilah dan jadikanlah semua bangsa sebagai muridmu.
Guru itu sama dengan lima jabatan atau karunia jawatan dalam gereja yang tercantum dalam Kitab Efesus 4:11, yaitu rasul, nabi, penginjil, gembala, dan pengajar.
Semua nilai itu ditanamkan dalam pelatihan guru, sama dengan hamba Tuhan, sehingga itu membuat mereka betah berada di tempat tugas dalam jangka waktu lama.
Tokoh masyarakat adat Kabupaten Jayawijaya Herman Doga menilai kebijakan pemerintah daerah dalam menambah tenaga guru kontrak dari yayasan merupakan hal positif dalam mendukung peningkatan SDM generasi muda daerah tersebut.
Langkah ini, menurutnya, harus didukung oleh seluruh masyarakat di 328 kampung dan empat kelurahan dari 40 distrik di Kabupaten Jayawijaya.
Pesannya, masa depan anak-anak di Jayawijaya ada pada tenaga guru, maka keberadaan mereka harus dilindungi dan dijaga keselamatannya.
Dengan adanya tenaga guru yang mengajar pada sekolah di kampung-kampung, maka orang tua tidak perlu menyekolahkan anak-anaknya ke wilayah Kota Wamena.
Karena itu, masyarakat harus mensyukuri kehadiran tenaga guru untuk membawa perubahan bagi generasi muda daerah ini ke depan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Guru Indonesia cerdas jadi harapan baru di jantung Papua
Pewarta : Yudhi Efendi
Editor:
Hendrina Dian Kandipi
COPYRIGHT © ANTARA 2026