Bandarlampung (ANTARA) - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan bahwa pemerintah daerah akan berfokus pada upaya meningkatkan produktivitas pertanian di daerahnya untuk menjaga serta mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
"Pertumbuhan ekonomi kita tumbuh di atas rata-rata nasional, dengan pertumbuhan 5,29 persen di triwulan II 2026. Harapannya di akhir tahun ini di sektor penopang ekonomi Lampung yakni sektor pariwisata dan pertanian bisa terus menopang pertumbuhan," ujar Rahmat Mirzani Djausal di Bandarlampung, Rabu.
Ia mengatakan untuk mempertahankan serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi, Pemerintah Provinsi Lampung akan memfokuskan upaya peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan pariwisata, dan penguatan hilirisasi komoditas unggulan.
"Dari sisi pertanian, tahun ini kita lebih fokus pada peningkatan produktivitas. Jadi harganya bagus dan produktivitasnya juga tinggi, itu akan menjadi dorongan bagi pertumbuhan ekonomi," katanya.
Dia menjelaskan Provinsi Lampung memiliki potensi besar di sektor pertanian. Komoditas unggulan Lampung meliputi padi dengan produksi 3,2 juta ton dan luas tanam 596.017 hektare, jagung produksi 1,2 juta ton dengan luas 194.488 hektare, ubi kayu produksi 7,5 juta ton dengan luas 223.221 hektare.
Kopi produksi 127 ribu ton dengan luas 144.096 hektare, lada produksi 14,6 ribu ton dan luas 44.386 hektare, nanas produksi 698 ribu ton dan luas 7.149 hektare, dan pisang produksi 2 juta ton dengan luas 10 ribu hektare.
"Potensi tersebut menjadi modal untuk memperkuat industri pengolahan dan meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah, dengan terus meningkatkan produktivitas untuk menjaga keberlanjutan produksi. Pada triwulan II 2026 sektor pertanian tetap menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah sehingga pertanian perlu terus dijaga produktivitasnya," ucap dia.
Ia melanjutkan pemerintah daerah melalui program Desaku Maju berupaya mendukung produktivitas pertanian sekaligus penguatan ekonomi desa.
Program itu mencakup penyediaan pupuk hayati cair (PHC), mesin bed dryer untuk pengeringan hasil pertanian, pelatihan vokasi bagi penduduk desa usia produktif, penguatan kelembagaan ekonomi melalui BUMDes dan koperasi, serta dukungan pembangunan jalan desa.
"Dukungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, memperbaiki mutu hasil pertanian, memperkuat kelembagaan ekonomi, dan memperlancar distribusi komoditas," tambahnya.
Menurut dia, pemerintah daerah akan berupaya menjadikan pertanian sebagai sumber nilai tambah yang lebih besar bagi petani, pelaku usaha dan masyarakat di desa. Selain peningkatan produktivitas komoditas pertanian, juga dilakukan hilirisasi.
"Kita memiliki desa-desa yang menghasilkan berbagai komoditas unggulan, tetapi hasil produksinya masih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya nilai tambah lebih banyak dinikmati di tempat pengolahan serta pemasaran, sementara petani sebagai produsen belum memperoleh manfaat yang optimal," kata dia,
Ia mengatakan dengan adanya hal tersebut pemerintah daerah terus mendorong penguatan ekonomi dari bawah atau bottom up economy, dengan menempatkan masyarakat dan desa sebagai bagian penting dalam rantai produksi hingga pengolahan komoditas.
"Dan di sektor hilirisasi ini, penting sekali menghadirkan kegiatan pengolahan komoditas di daerah penghasil seperti di desa-desa, oleh karena itu kami berupaya menghadirkan itu melalui program skema pinjaman tanpa bunga untuk mengembangkan berbagai pengolahan komoditas mini di desa-desa," ujar dia.
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor:
Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.