Gubernur Jateng menyatakan penanganan sampah butuh aksi bersama
Selasa, 11 Agustus 2026 18:31 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat menerima audiensi pengurus World Cleanup Day (WCD) Jateng, di Semarang, Selasa (11/8/2026). (ANTARA/HO-Pemprov Jateng)
Semarang (ANTARA) - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi menyatakan penanganan sampah di wilayah tersebut membutuhkan aksi bersama-sama, baik pemerintah, masyarakat, komunitas, dan dunia usaha.
"Yang paling pokok adalah kesadaran. Makanya, kegiatan ini menjadi momentum yang sangat baik. Saya setuju, nanti kita dukung," kata Gubernur Ahmad Luthfi saat menerima audiensi pengurus World Cleanup Day (WCD) Jateng di Semarang, Selasa.
Menurut dia, sejumlah daerah di Jateng telah melakukan penanganan sampah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah masing-masing, seperti pengembangan Refuse-Derived Fuel (RDF) di Cilacap dan Banyumas.
Karena itu ia mendorong agar daerah-daerah lain di Jateng memperkuat pengelolaan sampah secara terpadu.
Dalam kesempatan itu Gubernur Ahmad Luthfi menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan rangkaian World Cleanup Day 2026 di Jateng. Gerakan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menangani persoalan sampah.
Ia berharap gerakan WCD tidak berhenti pada kegiatan bersih-bersih dalam satu momentum, tetapi dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Pelaksanaannya juga diharapkan menjangkau lebih banyak daerah dan melibatkan bupati, wali kota, serta seluruh pemangku kepentingan.
Sementara itu Leader WCD Jateng Septiany Punti Dewi mengatakan rangkaian WCD tahun kedelapan ini akan dilaksanakan pada 17 Agustus hingga 28 Oktober 2026, dengan mengangkat tema "Bebersih Pemuda-Pemudi untuk Memerdekakan Sampah".
“World Cleanup Day dilaksanakan di lebih dari 200 negara dan Indonesia menjadi salah satunya. Kebetulan tahun ini merupakan tahun kedelapan. Alhamdulillah, Jawa Tengah selalu mendapatkan peringkat pertama untuk jumlah relawan terbanyak,” katanya.
Menurut dia, capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dinas lingkungan hidup, komunitas, relawan, hingga masyarakat.
Koordinator Program WCD Jateng Purnawirawan menambahkan salah satu kegiatan yang telah berjalan adalah program Zero Waste School atau Sekolah Bebas Sampah di Kabupaten Kudus.
"Kami juga menyasar para guru karena mereka harus bisa memberikan contoh kepada anak-anak. Sekolah sebagai tempat pembelajaran perlu menanamkan kesadaran kepada peserta didik. Harapannya, kebiasaan tersebut kemudian diterapkan di rumah," katanya.
Menurut dia, tantangan terbesar dalam pengelolaan sampah adalah pola pikir sebagian masyarakat yang menganggap persoalan sampah sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Karena itu selain edukasi yang berkelanjutan, kata dia, penerapan regulasi dan sanksi dinilai perlu diperkuat sehingga masyarakat dapat terdorong untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan sejak dari sumbernya.
Baca juga: Perkuat publikasi ilmiah, UIN Walisongo koordinasi bersama Editor in Chief
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.