Denpasar (ANTARA) - Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali menempuh diversifikasi pasar wisatawan asing untuk menjaga kualitas pariwisata dan tidak bergantung negara sumber.
“Diversifikasi pasar merupakan langkah penting agar semakin berkualitas dan berkelanjutan,” kata Ketua GIPI Bali Ida Bagus Agung Partha Adnyana di Denpasar, Senin.
Beberapa pasar internasional yang menunjukkan pertumbuhan tren positif kedatangan wisatawan di antaranya Jepang, Taiwan dan Rusia.
Berdasarkan data yang dikumpulkan Imigrasi Ngurah Rai, Bali, per Juni 2026, sebanyak 623.592 wisatawan asing berkunjung di Bali atau naik 3,5 persen dibandingkan periode sama 2025 mencapai 602.634 orang.
Australia semakin mengukuhkan posisinya sebagai pasar utama dengan pertumbuhan 8,5 persen dari 148 ribu menjadi 161 ribu orang.
Adapun wisatawan berdasarkan asal negara yang berada di 10 besar selain Australia yaitu India, China, Amerika Serikat, Inggris, Singapura, Korea Selatan, Prancis, Malaysia, dan Selandia Baru.
Kondisi itu menjadi momentum untuk menjaga pasar yang sedang bertumbuh sekaligus memperkuat kembali pasar-pasar tradisional melalui peningkatan konektivitas penerbangan, promosi yang lebih tepat sasaran, serta kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah dan pelaku industri pariwisata, katanya menambahkan.
Selain itu, ia mengatakan GIPI menekankan perhatian untuk meningkatkan nilai ekonomi yang diterima masyarakat Bali melalui wisatawan yang tinggal lebih lama, membelanjakan uangnya lebih banyak di usaha lokal, serta mengikuti aktivitas yang memberikan nilai tambah bagi destinasi.
Saat ini, lanjutnya, ukuran kualitas wisatawan asing tak hanya dari sisi jumlah tapi lama tinggal, belanja dan pemerataan manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal dan keberlanjutan destinasi.
“Bali tidak hanya mengejar pertumbuhan jumlah kunjungan, tetapi juga kualitas wisatawan,” katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan sebelumnya dalam Bali Fiscal Insight pada Selasa (23/6), menjelaskan bahwa pengeluaran wisatawan asing di Bali pada 2025 naik Rp2,11 juta per malam atau meningkat Rp60 ribu dibandingkan 2024 yang mencapai Rp2,05 juta.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan belanja wisman secara nasional yang mencapai Rp2,02 juta.
Meski jumlah belanja wisman itu tampak naik, namun kondisi itu dipengaruhi karena menguatnya dolar AS, karena pada 2024, kurs yang digunakan untuk mengukur pengeluaran wisman di Bali adalah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia sebesar Rp15.850 per dolar AS.
Sedangkan pada 2025, kurs sudah berubah seiring penguatan dolar AS yang saat itu mencapai Rp16.478.
BPS juga menghitung rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan yang tujuan utamanya ke Bali berdasarkan jenis pengeluaran yaitu paling banyak untuk akomodasi mencapai Rp10,18 juta atau menurun dibandingkan 2024 mencapai Rp10,53 juta.
Kemudian makan dan minum sebesar Rp4,92 juta atau turun dibandingkan 2024 mencapai Rp5,51 juta.
Sedangkan penambahan belanja terbesar terjadi pada pengeluaran untuk hiburan mencapai Rp2,36 juta, lebih tinggi dari 2024 mencapai Rp2,26 juta.
Sementara itu, rata-rata lama kunjungan wisman di Bali pada 2025 adalah 12 hari atau menurun satu malam dibandingkan 2024 mencapai 13 hari.
Pewarta: Redaksi
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.