Elephants

Gan Hai Viral, Tren Berburu Kerang dan Kepiting di Pantai yang Tuai Kritik

July 30, 2026

Jakarta -

Tren gan hai atau berburu seafood di pantai sedang viral. Namun, aksi mencari kerang dan kepiting ini menuai sorotan karena dinilai merusak ekosistem.

Tren berburu seafood di pantai yang dikenal dengan sebutan gan hai tengah ramai di media sosial.

Aktivitas ini memperlihatkan sekelompok orang mencari kerang, kepiting, hingga hewan laut lainnya saat air laut surut. Kemudian makanan laut itu dimasak dan dikonsumsi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski terlihat menyenangkan, tren tersebut kini menuai kekhawatiran karena dinilai dapat mengganggu kelestarian ekosistem pesisir.

Belakangan ini, sejumlah video di platform Douyin dan Xiaohongshu memperlihatkan orang-orang membawa ember, jaring, serta sekop untuk mencari hasil laut di kawasan pantai Singapura.

Tren Berburu Kerang dan Kepiting di Pantai yang Tuai KritikTren Berburu Kerang dan Kepiting di Pantai yang Tuai Kritik Foto: STOMPS

Aktivitas tersebut kemudian viral setelah unggahan di Facebook pada 13 Juli menampilkan sekelompok orang berburu biota laut di kawasan Pantai Changi, lapor STOMP (27/7).

Dalam video yang beredar, terlihat sedikitnya 7 ember berisi berbagai hasil tangkapan laut.

Setelah selesai mencari kerang dan hewan laut lainnya, hasil tangkapan tersebut dibawa ke sebuah restoran bernama Havelock Palace untuk dimasak dan disantap bersama.

Unggahan itu memicu perdebatan di media sosial. Pengunggah mengaku tidak mempermasalahkan aktivitas mencari hasil laut di kawasan pesisir.

Namun, ia menyoroti frekuensi kedatangan kelompok tersebut dan banyaknya biota laut yang diambil dalam setiap kunjungan.

Ia juga menyoroti banyaknya kerang kipas (fan clam) yang dipanen. Spesies tersebut diketahui masuk dalam Daftar Merah satwa terancam di Singapura.

Tren Berburu Kerang dan Kepiting di Pantai yang Tuai KritikHasil buruan seafood kemudian dimasak dan dikonsumsi. Foto: STOMPS

Berdasarkan video yang beredar, kelompok itu diduga mengambil sedikitnya 30 ekor kerang kipas sebelum merayakan hasil tangkapan mereka di restoran.

Dalam unggahannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian alam.

"Sumber daya alam Singapura sangat terbatas. Baik warga lokal maupun asing, semua harus menghormati lingkungan dan melakukan pencarian hasil laut secara bertanggung jawab. Ambillah secukupnya dan sisakan agar alam bisa pulih kembali," tulisnya.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan kreator konten lingkungan Biogirl MJ. Menurutnya, persoalan ini bukan hanya berkaitan dengan satu restoran, melainkan pola pikir orang-orang yang mengikuti tren tersebut hanya demi hiburan.

Lantas, bagaimana asal-usul gan hai itu sendiri hingga menjadi trend?

Istilah gan hai sendiri berasal dari bahasa Mandarin yang berarti "mengejar laut". Aktivitas ini dilakukan saat air laut surut sehingga dasar pantai dan lumpur terbuka.

Pada momen tersebut, para pencari biasanya mengumpulkan kerang, remis, kepiting, maupun biota laut lain yang bersembunyi di balik pasir atau bebatuan

Tradisi ini sebenarnya telah lama dikenal di wilayah pesisir China sebagai cara masyarakat memperoleh bahan makanan.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, gan hai berubah menjadi tren rekreasi yang semakin populer berkat media sosial dan mulai diikuti masyarakat di berbagai negara, termasuk Singapura.

Terkait legalitasnya, Dewan Taman Nasional Singapura (NParks) menjelaskan bahwa aktivitas mengambil satwa liar tidak diperbolehkan di sejumlah kawasan pesisir yang berada di bawah pengelolaan mereka, seperti Sisters' Islands Marine Park, Sungei Buloh Wetland Reserve, Labrador Nature Reserve, serta Chek Jawa di Pulau Ubin.

Sementara itu, kawasan intertidal Changi tidak berada di bawah kewenangan NParks.

Direktur National Biodiversity Centre NParks, Dr. Karenne Tun, mengingatkan bahwa habitat pesisir merupakan ekosistem yang rapuh dan penting bagi kehidupan laut.

"Mengambil satwa liar dari habitatnya, termasuk di kawasan intertidal, dapat merusak keanekaragaman hayati dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Setiap spesies memiliki peran penting sehingga dampaknya bisa meluas terhadap lingkungan," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2

(raf/adr)