Elephants

Gak Main-Main, Tambang Tembaga RI Ini Jadi Barometer Dunia!

August 21, 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia ternyata memiliki sebuah tambang yang menjadi barometer pertambangan dunia. Tambang yang dimaksud yaitu tambang Grasberg di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, yang dikelola PT Freeport Indonesia.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menyebut, penilaian ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, saat tambang terbuka (open pit) beroperasi, tambang Grasberg ini merupakan tambang open pit tembaga terbesar nomor 2 di dunia. Tak ayal, PTFI merupakan produsen tembaga nomor 2 terbesar di dunia dan produsen terbesar nomor 1 di dunia.

Meski, sejak akhir 2019 tambang terbuka (open pit) Grasberg sudah dihentikan dan kini sudah beralih pada tambang bawah tanah.

"Grasberg atau Freeport Indonesia ini oleh dunia internasional tuh dilihat sebagai salah satu barometer pertambangan tembaga. Pertama pada saat open pit mine itu adalah tambang tembaga nomor dua terbesar di dunia, tambang terbuka nomor dua terbesar di dunia. Kita sebagai produsen tembaga juga nomor dua terbesar di dunia sebagai produsen emas nomor satu terbesar di dunia," papar Tony di Tembagapura, Papua Tengah, dalam program Mining Zone CNBC Indonesia, dikutip Jumat (21/8/2026).

Dengan besarnya produksi dari tambang Grasberg ini, tak ayal Freeport turut menjadi perhatian dunia. Dia mengatakan, setiap gangguan operasional di Grasberg berdampak langsung pada naik-turunnya harga komoditas di pasar internasional.

Contohnya, seperti terjadinya insiden longsor pada tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025 lalu, yang berdampak pada dihentikannya sementara operasional tambang. Imbasnya, harga komoditas tembaga di pasar global terkerek naik karena kekurangan pasokan dari tambang Freeport ini.

Oleh karena itu, dia pun menekankan pentingnya kepastian perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PTFI setelah 2041. Pasalnya, ini akan berdampak pada kepastian pasokan tembaga dunia di masa depan.

"Jadi ini menimbulkan harapan di dunia internasional, bukan saja bagi investor yang tertarik untuk invest baik secara langsung di PTFI maupun melalui Freeport-McMoRan dalam membeli saham stock-nya dan lain sebagainya. Dan tentu saja ini ada juga pihak-pihak yang berkepentingan untuk memastikan ada nggak tembaga nanti 15 tahun dari sekarang," tuturnya.

"Karena begitu kita berhenti produksi ini pasti akan menggoyangkan pasar juga, pasar dunia ya, pada saat kita terjadi insiden di bulan September dan kita putuskan bahwa kita berhentikan seluruh operasi kita fokus mencari korban yang masih belum ditemukan itu terjadi gejolak sedikit," imbuhnya.

Saat ini, perusahaan tengah fokus pada pemulihan kapasitas produksi ke level 100% serta pengembangan tambang bawah tanah yakni Blok Kucing Liar yang memerlukan investasi total Rp 72 triliun.

Blok baru tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan 7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas guna menjaga level produksi stabil di angka 240.000 ton bijih per hari.

"Harapannya tentu saja adanya kepastian karena konservasi pertambangan itu kalau misalnya masih ada sumber daya di bawahnya yang nggak bisa sebaiknya itu diteruskan," jelasnya.

PTFI juga mengoperasikan fasilitas pemurnian tembaga single line terbesar di dunia di Gresik, Jawa Timur. Melalui integrasi hulu dan hilir tersebut, Indonesia diharapkan dapat mengamankan cadangan mineral strategis untuk mendukung industri kendaraan listrik dan energi terbarukan global.

"Tembaga ini adalah logam masa depan ini sekarang hampir seluruh dunia tuh berlomba-lomba mencari tembaga karena mereka juga berlomba-lomba untuk membangun renewable power plant," tandasnya.

(wia) [Gambas:Video CNBC]