Rabu, 19 Agustus 2026 - 17:49 WIB
VIVA – Para produsen pertanian di seluruh Uni Eropa (UE) mengingatkan adanya potensi gagal panen hingga krisis pangan setelah gelombang panas ekstrem berturut-turut melanda Benua Biru sepanjang musim panas ini. Para ekonom memperkirakan kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dalam beberapa bulan mendatang.
Baca Juga
Juni dan Juli tercatat sebagai dua bulan terpanas sepanjang sejarah pencatatan di Eropa Barat, menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa. Lembaga tersebut juga memperingatkan risiko gelombang panas ekstrem yang berkepanjangan dan dapat berdampak pada sebagian besar wilayah Eropa hingga Agustus dan September.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di Prancis, salah satu produsen biji-bijian terbesar di Uni Eropa, cadangan air tanah di sebagian besar wilayah negara itu telah mengalami penurunan signifikan pada awal Agustus, berdasarkan survei geologi nasional.
Baca Juga
Prince de Bretagne, salah satu koperasi petani terbesar di Brittany, pekan lalu memperingatkan terjadinya krisis sayuran yang disebut sebagai "bersejarah". Koperasi tersebut memperkirakan hasil panen kacang polong turun 40 persen, brokoli 60 persen, dan artichoke antara 50 hingga 100 persen pada musim panas ini.
Eric Legras, Presiden Unilet, asosiasi utama produsen sayuran kalengan dan beku di Prancis, mengatakan gelombang panas ekstrem juga melanda wilayah utara dan barat daya Prancis.
Baca Juga
Ia menggambarkan situasi tersebut sebagai krisis yang "luar biasa". Di sektor peternakan, para pelaku usaha juga memperingatkan meningkatnya defisit produksi pakan ternak menjelang musim dingin, seperti dikutip dari Russia Today.
Komite Nasional Prancis untuk Promosi Telur memperkirakan gelombang panas telah menurunkan produksi telur sekitar satu juta butir per hari. Peternakan unggas juga melaporkan tingkat kematian ternak yang tinggi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sementara itu, di Italia utara, salah satu kawasan penghasil beras utama di Eropa, kekurangan air berdampak serius pada lahan pertanian. Coldiretti, asosiasi petani terbesar di Italia, melaporkan bahwa sejumlah sawah bahkan mengalami kerusakan total akibat kekeringan, dengan tanaman padi mengering dan mati.
Petani di Spanyol juga melaporkan penurunan signifikan pada hasil panen serealia serta kekurangan pakan ternak. Di Jerman, Asosiasi Petani pada Selasa memperingatkan bahwa produksi biji-bijian diperkirakan turun 7 persen atau 3,3 juta ton, dibandingkan tahun lalu.
Halaman Selanjutnya
Wilayah selatan Jerman menjadi salah satu daerah yang paling terdampak dan bahkan berpotensi mengalami gagal panen total. Di Polandia, media bisnis Puls Biznesu memperkirakan pada bulan lalu bahwa kekeringan berkepanjangan dapat membuat negara tersebut semakin bergantung pada impor pangan.