Elephants

Film mengenai perjuangan hidup produksi Denny Sumargo siap menyapa penonton 3 September

August 17, 2026

Film mengenai perjuangan hidup produksi Denny Sumargo siap menyapa penonton 3 September

Senin, 17 Agustus 2026 20:39 WIB

Image Print

Denny Sumargo (kanan), Fanny Kondoh (tengah), dan Caitlin Halderman (kiri) pada acara Meet and Greet film Baby Udon di Solo, Jawa Tengah, Senin (17/8/2026). ANTARA/Aris Wasita

Solo (ANTARA) - Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata mengenai perjuangan hidup, keteguhan cinta, dan kepasrahan kepada Sang Pencipta berjudul Baby Udon produksi Denny Sumargo siap menyapa penonton pada tanggal 3 September.

Film garapan rumah produksi Sumargo Films yang bekerja sama dengan LYTO Pictures ini menyajikan alur emosional yang dekat dengan dinamika kehidupan masyarakat.

Kisah ini berfokus pada perjalanan seorang wanita bernama Fanny yang memimpikan pernikahan impian. Impian tersebut terwujud saat ia menikahi pria berkebangsaan Jepang yang memilih menjadi mualaf. Namun, perjalanan rumah tangga mereka diuji oleh berbagai cobaan berat, mulai dari dinamika menantikan momongan, ujian keguguran, hingga vonis penyakit kanker ganas yang menggerogoti sang suami.

Aktris Caitlin Halderman yang dipercaya memegang peran utama mengungkapkan proyek ini memberi tantangan emosional yang mendalam dibandingkan dengan peran-peran yang pernah ia jalani sebelumnya.

“Layer-nya sangat banyak. Saya harus menyampaikan semua rasa yang dirasakan selama sembilan tahun ini ke dalam satu film. Ini bukan hal yang gampang,” ujar Ketlin dalam sesi konferensi pers di Solo, Jawa Tengah, Senin.

Sementara itu, Fanny Kondoh selaku pemilik cerita asli mengungkapkan alasannya mempercayakan kisah hidupnya kepada Denny Sumargo dan tim. Baginya, karya ini bukan sekadar mengejar tren, melainkan sebuah bentuk warisan berharga.

“Ini bukan cerita sekadar viral, tapi sebuah karya dari hati. Ini lebih dari sekadar film, tapi legacy buat anak saya,” tutur Fani.

Dari sisi teknis, Denny Sumargo menjelaskan penceritaan film ini tetap menjaga keaslian peristiwa nyata, seperti momen setelah menikah saat pasangan tersebut harus memilih lokasi pemakaman, hingga perjuangan menghadapi penyakit.

Denny mengungkapkan keteguhan Fanny dalam menghadapi gelombang duka merupakan jejak langkah berharga yang patut menjadi dokumentasi penguat bagi siapa pun yang tengah berjuang.

“Ini satu cerita yang kalau enggak difilmkan, kayaknya kita semua akan menyesali bahwa ada satu cerita sebagus ini yang tidak menjadi sebuah dokumentasi cerita film,” katanya.

Pengembangan cerita (dramatisasi) hanya dilakukan secara minim pada aspek latar tempat serta penguatan karakter pendukung demi menjaga keutuhan rasa penceritaan.

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.