Hervin Saputra
| 25 September 2026, 18:36 WIB

Presiden FIFA, Gianni Infantino, saat menghadiri salah satu pertandingan Piala Dunia 2026. X/PolymarketSport
AKURAT.CO, FIFA akan berada dalam dilema jika Gianni Infantino akhirnya terpilih kembali sebagai presiden dalam pemilihan pada Maret mendatang. Sangat mungkin terjadi “perang dingin” di tubuh induk organisasi sepakbola dunia tersebut.
Pandangan ini disampaikan salah satu pejabat elite sepakbola dunia yang tak menyebutkan namanya. Menurut sumber ini, akan menjadi pertanyaan soal bagaimana sepakbola akan dioperasikan jika sejumlah negara-negara anggota berpengaruh tetap menentang Gianni Infantino.
“Apa yang jelas saat ini, bahwa dia (Infantino) tidak akan pergi ke mana-mana,” kata sumber tersebut kepada Reuters dipetik dari New Strait Times. “Perang ‘panas-dingin’ adalah masalah yang sangat nyata untuk FIFA dan sepakbola dunia.”
Potensi perang dingin ini muncul melihat bahwa Gianni Infantino yang telah memutuskan untuk mencalonkan diri kembali sebagai Presiden FIFA periode 2027-2031 berpeluang menang dalam pemilihan di Rabat, Maroko, tahun depan.
Baca Juga: Respons Gianni Infantino, Presiden UEFA Tegaskan Hilangnya Kepercayaan Tak Bisa Dipulihkan
Hal tersebut terindikasi dengan dukungan sejumlah negara di Afrika, Amerika Selatan, Oseania, dan sebagian Asia. Pria berkebangsaan Swiss berusia 56 tahun tersebut juga sudah bergerak melakukan safari politik ke negara-negara tersebut untuk menggalang dukungan.
Semua berawal dari proposal penjualan saham Piala Dunia melalui FIFA Forward Enterprise (FFE) yang diajukan Infantino pasca Piala Dunia 2026. Proposal itu membuat berang sejumlah anggota tidak saja karena dianggap melanggar batas independensi FIFA juga karena diputuskan secara sepihak.
Pendongkelan dengan memaksa Infantino mundur dengan sendirinya oleh sejumlah anggota tak berhasil. Sementara konstelasi menjelang Kongres FIFA Maret nanti masih terpecah dan belum solid.
Infantino sendiri berusaha melunakkan situasi dengan membuka pembicaraan mengenai pembatasan kewenangan atau pengaturan lebih rinci soal pengambilan keputusan di level tertinggi FIFA.
Namun, hal tersebut tampaknya tak mengubah sikap para penentangnya. Presiden Konfederasi Sepakbola Eropa (UEFA), Aleksander Ceferin, misalnya, telah menegaskan bahwa hilangnya kepercayaan terhadap Infantino tak bisa dipulihkan lagi.
“Proyek (FFE) yang memecah-belah persatuan dunia sepakbola mungkin sudah dihancurkan, tetapi kepercayaan yang sudah dirusaknya tidak bisa dikembalikan,” kata Ceferin.