Jakarta (ANTARA) -
Dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial konsultan Farid Agung Rahmadi menyampaikan bahwa menyebut anak yang mengalami gangguan belajar spesifik seperti disleksia sebagai pemalas atau anak bodoh bisa memicu masalah emosional pada anak yang bersangkutan.
"Jangka panjangnya bahkan bisa menjadi gangguan cemas bahkan depresi. Hal ini terjadi karena gagal berulang," kata dr. Farid Agung Rahmadi, M.Si.Med., Sp.A, Subsp. T.K.P.S.(K) dalam seminar daring yang diikuti dari Jakarta pada Selasa.
Dalam seminar mengenai disleksia pada anak diadakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia, dia mengatakan bahwa anak dengan gangguan belajar spesifik seperti disleksia hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar.
"Jadi jangan buru-buru kita menyebut anak sebagai anak pemalas, bahkan anak bodoh. Justru kita harus mengenali pola kesulitannya," katanya.
Ia mengemukakan bahwa anak-anak dengan disleksia berpeluang mengalami kegagalan berulang saat belajar dan hal itu dapat menurunkan kepercayaan diri mereka.
Karena kesulitan belajar, dia mengatakan, anak-anak dengan disleksia bisa berusaha menghindari tugas akademik, marah ketika diminta belajar, dan mencari alasan untuk tidak masuk sekolah karena merasa tertekan ketika belajar di sekolah.
Baca juga: Kenali tanda-tanda disleksia semasa anak belajar membaca
Dokter Farid menekankan pentingnya dukungan dari orang-orang sekitar dalam upaya untuk membantu anak-anak dengan disleksia mengatasi kesulitan belajar pada bidang tertentu.
Ia menyarankan orang tua berusaha memahami kesulitan mereka, memahami perasaan mereka, serta membantu mereka meningkatkan kemampuan belajar dan menemukan kekuatan mereka di bidang yang lain.
Menurut dia, anak dengan gangguan belajar spesifik dapat memiliki kecerdasan umum normal atau bahkan tinggi, tetapi mengalami hambatan pada bidang akademik tertentu.
"Cari kekuatan anak di bidang lain supaya itu menjadi kebanggaan bagi anaknya." katanya.
Orang tua bisa berkonsultasi dengan tenaga profesional yang dapat membantu menilai kesulitan belajar spesifik anak dan merekomendasikan intervensi yang sesuai dengan kondisi anak.
Baca juga: Kenali penyebab dan gejala anak yang mengalami diskalkulia
Baca juga: Anak pintar bernilai akademik rendah mungkin hadapi gangguan belajar
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.