Moskow (ANTARA) - Lebih dari 800.000 orang di Yaman kehilangan akses bantuan kemanusiaan akibat eskalasi konflik, kata Program Pangan Dunia (WFP) pada Rabu (14/10).
"Eskalasi konflik di Yaman telah memutus akses bantuan penyelamat jiwa untuk 800.000 orang. Pergeseran garis depan pertempuran, penutupan jalan, situasi yang semakin tidak aman sangat membatasi akses bantuan di Kota Taiz dan wilayah lain yang terdampak konflik," demikian menurut pernyataan WFP.
Disebutkan bahwa distrik-distrik di kota terbesar ketiga Yaman itu telah menampung jumlah pengungsi internal terbanyak sejak awal krisis.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) awal pekan ini menyebutkan lebih dari 217.000 orang meninggalkan rumah mereka menyusul eskalasi konflik.
"Hilangnya akses ini sangat mengkhawatirkan, mengingat Taiz merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan pangan tertinggi di negara tersebut, di mana 10 dari 16 distrik di sana, sebelumnya sudah berada di level Darurat (IPC 4)," katanya.
Lebih dari 18 juta orang di Yaman menghadapi krisis pangan akut dan sekitar 2,2 juta anak di bawah usia lima tahun menderita malnutrisi akut, termasuk 500.000 anak yang mengalami malnutrisi akut parah, menjadi kondisi yang paling mengancam jiwa.
Pada saat yang sama, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengungkapkan rumah sakit di Yaman kewalahan menangani lonjakan korban luka.
Menurutnya, sistem layanan kesehatan yang sudah rentan kini menghadapi krisis parah obat-obatan, tenaga medis, serta keterbatasan kapasitas untuk memberikan perawatan khusus.
"Semua garis depan pertempuran menyaksikan lonjakan kasus korban akibat senjata yang belum pernah terjadi sebelumnya. Marib, Taiz, dan Pesisir Laut Merah mencatat jumlah korban terbanyak," kata ICRC.
"Rumah sakit dan fasilitas kesehatan benar-benar kewalahan. Beberapa fasilitas di garis depan mencatat lebih dari 700 pasien baru dalam sepekan saja. Kedatangan korban dalam jumlah besar kini semakin sering terjadi," lanjut ICRC.
Bentrokan militer antara kelompok Houthi dan pasukan Pemerintah Yaman dukungan Arab Saudi kembali terjadi pada pertengahan Juli setelah jeda selama empat tahun.
Houthi menuduh Riyadh melancarkan serangan terhadap bandara di Sanaa saat sebuah pesawat dari Iran, yang mengangkut delegasi para pemimpin Houthi, sedang mendarat.
Sejak saat itu, kelompok pemberontak telah menguasai seluruh pesisir barat Laut Merah dan kota-kota dekat Selat Bab al-Mandab, sementara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melancarkan operasi untuk merebut kembali ibu kota Sanaa dari kelompok Houthi.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Pewarta: Asri Mayang Sari
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.