Depok (ANTARA) - Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) menyatakan perikanan, pariwisata, dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi tumpuan kawasan Transmigrasi Barelang.
Hal tersebut terungkap setelah menggelar focus group discussion (FGD) bersama pemangku kepentingan dan pelaku ekonomi lokal di Kantor Koperasi Produsen Transmigrasi (KOPTRANS).
Ketua Ekspedisi Patriot UI Daerah Transmigrasi Barelang Dr. Vishnu Juwono dalam keterangannya, Minggu menekankan bahwa tujuan akhir pendampingan bukan sekadar terlaksananya pelatihan, melainkan terbentuknya kemandirian ekonomi masyarakat.
Program pemerintah, menurutnya, harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk membangun kemampuan usaha yang dapat bertahan ketika kebijakan maupun prioritas pemerintah berubah.
"Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana pendampingan dan pelatihan itu bisa menghasilkan barang dan jasa yang memang dibutuhkan oleh masyarakat di sekitarnya sehingga bisa mendapatkan pendapatan yang konsisten," jelas Dr. Vishnu.
Ia juga mendorong pelaku usaha menerapkan pengelolaan keuangan sederhana; menghitung pendapatan dan biaya, menyisihkan dana kas, hingga menyiapkan modal pengembangan usaha.
Menurutnya, bantuan pemerintah dapat menjadi pemicu awal, tetapi keberlanjutan usaha bertumpu pada kemampuan masyarakat mengelola pendapatan secara mandiri.
Dalam konteks pariwisata, Dr. Vishnu mendorong Pokdarwis membangun jejaring dengan pelaku usaha perjalanan wisata di Batam.
Sehingga, kawasan REC dapat masuk dalam pilihan destinasi wisata yang ditawarkan. Potensi mangrove, pengalaman wisata perikanan, kuliner lokal, kerajinan, dan produk UMKM dapat dikemas menjadi satu paket wisata.
“Pariwisata itu sebetulnya mengintegrasikan, menggabungkan antara perikanan, kuliner, maupun UMKM; batik, kerajinan pesisir, dan potensi lainnya” ujarnya.
FGD tersebut akan menjadi basis pemilihan pendampingan yang akan diterapkan selama beberapa bulan kedepan, dengan tujuan agar lebih intensif dan berbasis kebutuhan.
Tim Ekspedisi Patriot Barelang diharapkan tidak hanya membantu pada tahap pelatihan, tetapi juga mendampingi masyarakat sampai produk, layanan, kelembagaan, dan model bisnis benar-benar berjalan.
Satu benang merah menonjol dari ketiga sektor tersebut pelatihan sudah banyak digelar, tetapi belum berujung pada produk dan layanan yang siap dipasarkan.
Camat Galang Danang Prilasandi, Lurah Sembulang, Staf Ahli Kementerian Transmigrasi Yudo Pramono, pengurus KOPTRANS dan Koperasi, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Kelompok Wanita Tani (KWT), pelaku UMKM, serta perwakilan masyarakat.
Kehadiran unsur pemerintah, koperasi, dan pelaku usaha sekaligus dalam satu forum memungkinkan persoalan dibahas dari hulu ke hilir.
Camat Galang, menilai perikanan sebagai sektor yang memiliki prospek besar. Menurutnya, pasar hasil tangkapan nelayan sebenarnya telah tersedia, bahkan sebagian produk telah menembus luar daerah dan pasar ekspor.
Pasar hasil tangkapan nelayan telah tersedia, Hambatannya justru di sisi hulu; keterbatasan alat tangkap dan kapasitas produksi.
"Kalau pasarnya sudah jelas, bahkan kita malah kekurangan dari segi produksi. Masukannya bagaimana alat-alat mereka bisa ditambah supaya mereka lebih banyak produksi," ujar Danang.
Ia juga mendorong diversifikasi hasil tangkapan. Menurutnya, nelayan tak perlu bergantung pada tenggiri semata, melainkan dapat menyesuaikan alat tangkap dengan musim dan komoditas lain seperti bawal, kepiting, dan lobster.
Di sisi lain, sektor pariwisata dinilai memiliki potensi strategis karena dapat mengintegrasikan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat. Gagasan pengembangan kawasan sebagai kampung wisata menjadi salah satu aspirasi yang muncul dalam FGD.
Pewarta: Feru Lantara
Editor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.