Elephants

Ekonom HSBC Lihat Bayang-Bayang Krisis Asia 1997 di Ekonomi Saat Ini - Makro Katadata.co.id

September 2, 2026

Kondisi keuangan Asia dinilai menunjukkan sejumlah kemiripan yang mencolok dengan situasi sebelum krisis 1997. Goncangan ekonomi kala itu ditandai dengan kejatuhan nilai tukar, pelarian modal, hingga kegagalan perbankan yang menyeret sejumlah negara ke dalam resesi. 

Pendapat ini disampaikan Kepala Ekonom HSBC Frederick Neumann dalam sebuah catatan pada 31 Agustus 2026. Mengutip CNBC, Neumann menyebut, terdapat sejumlah indikator yang mengingatkan pada periode menjelang krisis Asia 1997. Beberapa di antaranya, yakni  imbal hasil obligasi AS yang melonjak, yen Jepang yang melemah, dan optimisme di sektor teknologi.

Dalam catatannya, Neumann juga menyoroti kenaikan imbal hasil US Treasury sebagai salah satu kesamaan utama dengan kondisi sebelum krisis 1997. Sebagai gambaran, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun meningkat dari sekitar 5% pada Oktober 1993 menjadi sekitar 8% pada November 1994.

Bahkan pada April 1997, imbal hasil oblgasi AS masih tinggi dan berada di kisaran 7%. Adapun imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun saat ini telah meningkat dari level terendah sekitar 0,5% pada Agustus 2020 menjadi sekitar 4,79%.

"Memang, kenaikan tersebut berlangsung selama enam tahun. Namun, hanya pada tahun ini, imbal hasil telah melonjak sekitar 80 basis poin dari 3,9% pada Februari," ujar Neumann. 

Departemen Keuangan AS pada bulan lalu juga mengumumkan rencana untuk menargetkan obligasi tenor 10 hingga 30 tahun dalam program pembelian kembali atau buyback. Pemerintah AS berencana setidaknya menggandakan batas maksimum operasi buyback dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar.

Pelemahan Yen Jadi Sorotan

Pergerakan yen Jepang juga menjadi faktor yang dinilai memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang krisis 1997. 

Pada April 1995, yen diperdagangkan di sekitar 80 yen per dolar AS. Dua tahun kemudian, pada April 1997, yen telah melemah hingga sekitar 130 yen per dolar AS atau terdepresiasi sekitar 55%.

Kondisi serupa terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Yen melemah sekitar 57% dari level terendah sekitar 103 yen per dolar AS pada Januari 2021 hingga mencapai 163 yen per dolar AS pada Juli.

Yen kemudian menguat setelah adanya intervensi bersama yang jarang terjadi antara pemerintah AS dan Jepang. Saat ini, yen berada di sekitar 160 per dolar AS dan pasar kembali mencermati kemungkinan intervensi berikutnya.

Selain faktor mata uang dan imbal hasil obligasi, optimisme teknologi juga menjadi kesamaan lain. Menjelang krisis 1997, perkembangan internet memicu optimisme besar di pasar terhadap sektor teknologi.

Kini, situasi serupa muncul melalui ledakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Nasib Kawasan Asia 

Meski menemukan sejumlah kesamaan, Neumann menegaskan bahwa perbedaan antara kondisi Asia pada 1997 dan 2026 jauh lebih besar. 

Perbedaan utama terletak pada posisi negara-negara Asia dalam arus modal global. Pada 1990-an, sebagian besar negara Asia merupakan pengimpor modal. Negara-negara tersebut menerima investasi dari luar negeri lebih besar dibandingkan investasi yang mereka tanamkan di luar negeri.

Di sisi lain, tingkat tabungan domestik saat itu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan belanja.

"Biaya pendanaan dalam dolar AS yang meningkat dan yen yang bergejolak sehingga membuat investor khawatir menjadi katalis utama tekanan di kawasan tersebut," kata Neumann. 

Kondisinya kini berbeda. Negara-negara Asia telah berubah menjadi eksportir modal. Dengan posisi tersebut, kenaikan biaya pendanaan AS maupun pelemahan yen tidak lagi menjadi sumber tekanan utama seperti pada 1990-an.

Namun, Neumann mengingatkan bukan berarti Asia sepenuhnya kebal terhadap guncangan ekonomi global. 

Menurut dia, kerentanan terbesar Asia saat ini justru berasal dari ketergantungan terhadap permintaan produk teknologi, khususnya perangkat keras yang berkaitan dengan industri AI di AS.

Ledakan ekspor produk elektronik terkait AI selama ini telah menopang pertumbuhan ekonomi sejumlah negara Asia, termasuk Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura.

"Alih-alih menghadapi kerentanan finansial seperti pada 1990-an, Asia kini menghadapi kerentanan permintaan," ujar Neumann.

Dia memperingatkan, kenaikan imbal hasil obligasi AS dan biaya pendanaan yang semakin tinggi dapat menekan pertumbuhan industri perangkat keras AI.