Liputan6.com, Caracas - Bank Dunia menyatakan gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela pada akhir Juni lalu menyebabkan kerusakan fisik dengan nilai mencapai sekitar US$ 19,6 miliar atau sekitar Rp 351,9 triliun (kurs 17.955 per dolar AS). Besarnya kerugian tersebut menunjukkan beratnya tantangan yang harus dihadapi negara itu dalam proses pemulihan pascabencana.
Dikutip dari Al Jazeera, Jumat (24/7/2026), dalam pernyataannya, Bank Dunia menyebut 47 persen dari total kerusakan terjadi pada bangunan tempat tinggal. Sementara itu, 27 persen kerusakan menimpa infrastruktur dan 26 persen sisanya terjadi pada bangunan nonhunian.
"Gempa bumi telah mengganggu kehidupan masyarakat, merusak infrastruktur penting, dan menciptakan tantangan baru bagi proses pemulihan Venezuela," ujar Wakil Presiden Bank Dunia untuk Amerika Latin dan Karibia, Susana Cordeiro Guerra,
"Pemulihan yang efektif harus diawali dengan data yang dapat dipercaya," tambahnya.
Pemerintah Venezuela sebelumnya memperkirakan gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang negara itu pada 24 Juni telah menewaskan sedikitnya 5.000 orang dan melukai hampir 17.000 orang. Selain itu, sekitar 18.000 orang masih kehilangan tempat tinggal ketika negara tersebut berupaya bangkit dari dampak kehancuran di tengah kesulitan ekonomi yang berkepanjangan.
Bahkan sebelum bencana terjadi, Bank Dunia memperkirakan sekitar 76 persen penduduk Venezuela hidup dalam kemiskinan akibat bertahun-tahun salah kelola ekonomi dan sanksi berat yang dijatuhkan Amerika Serikat.
"Tanpa tambahan investasi yang memadai dalam waktu dekat, dampak negatif terhadap kapasitas produksi dan taraf hidup masyarakat akan memperlambat proses pemulihan," kata Cordeiro Guerra.
Bank Dunia menjelaskan bahwa estimasi kerugian tersebut disusun untuk memberikan gambaran kepada pemerintah Venezuela maupun pihak-pihak yang ingin membantu proses pemulihan mengenai besarnya tantangan yang harus dihadapi.
Laporan tersebut disusun menggunakan metode Global Rapid Damage Estimation (GRADE). Hasilnya menunjukkan wilayah La Guaira dan Distrito Capital menjadi daerah yang mengalami dampak paling parah.