
Alejandro Garnacho sempat meninggalkan Manchester United tanpa menunjukkan penyesalan. Kini, beberapa bulan berselang, nada bicaranya mulai berubah.
Winger asal Argentina itu mengaku masih menyimpan kenangan indah bersama Setan Merah. Pengakuan tersebut muncul ketika performanya di Chelsea belum mampu memenuhi ekspektasi yang sempat mengiringi kepindahannya ke Stamford Bridge.
Karier yang Melambat Setelah Tinggalkan Old Trafford
Saat Manchester United melepas Garnacho ke Chelsea pada bursa transfer musim panas lalu dengan nilai sekitar Rp880 miliar, banyak pihak menilai harga tersebut terlalu murah untuk pemain muda yang dianggap memiliki masa depan cerah.
Namun situasinya berbeda sekarang. Chelsea justru diperkirakan akan kesulitan mendapatkan kembali nilai transfer sebesar itu apabila memutuskan menjual sang pemain pada musim panas ini.
Nama Garnacho bahkan mulai dikaitkan dengan klub Serie A, AS Roma. Meski tetap menjadi salah satu klub besar Italia, rumor tersebut dianggap sebagai langkah mundur jika dibandingkan dengan posisinya saat masih mengenakan seragam Manchester United.
Sebelum hengkang, pemain berusia 22 tahun itu nyaris mencatatkan torehan dua digit gol dan assist dalam tiga musim beruntun bersama United. Banyak yang percaya potensinya masih bisa berkembang lebih jauh.
BACA JUGA:
Sebaliknya, musim perdananya di Chelsea hanya menghasilkan delapan gol dan empat assist. Catatan itu memang tidak buruk, tetapi belum menunjukkan perkembangan yang diharapkan dari pemain yang sudah mendapat pengalaman cukup banyak di Premier League.
Tiga Insiden yang Mengubah Segalanya
Hubungan Garnacho dengan pelatih Ruben Amorim disebut memburuk setelah beberapa kejadian yang terjadi dalam waktu berdekatan.
Ia sempat dicoret dari skuad saat derby Manchester, kemudian berjalan langsung ke lorong stadion setelah ditarik keluar ketika menghadapi Ipswich Town. Situasi memanas lagi usai final Liga Europa ketika Garnacho melontarkan komentar yang memicu polemik.
Serangkaian insiden tersebut akhirnya membuat Amorim memilih mengakhiri kerja sama dengan sang winger.
Dari “Tidak Menyesal” Kini Akui Masih Cinta United
Ketika pertama kali bergabung dengan Chelsea, Garnacho menjawab singkat saat ditanya apakah ia menyesali cara perpisahannya dengan Manchester United.
“Tidak,” jawabnya saat itu.
Beberapa bulan kemudian, pandangannya mulai berubah.
Garnacho mengakui dirinya sempat frustrasi karena kehilangan tempat sebagai pemain inti di Manchester United. Menurutnya, saat masih berusia 20 tahun ia merasa harus selalu bermain di setiap pertandingan.
Ia juga mengakui bahwa sebagian kesalahan berasal dari dirinya sendiri.
Meski demikian, Garnacho menegaskan tidak memiliki masalah dengan Manchester United, rekan setim, maupun orang-orang di dalam klub. Baginya, perpindahan itu hanyalah bagian dari perjalanan karier.
Saat kembali ditanya mengenai pernyataan “tidak menyesal” tersebut, Garnacho menjelaskan bahwa jawaban singkat itu diberikan untuk menghindari polemik pada konferensi pers pertamanya sebagai pemain Chelsea.
Ia bahkan mengakui kepergiannya dari Old Trafford tetap meninggalkan rasa emosional.
Garnacho mengatakan dirinya mencintai Manchester United karena klub itulah yang membawanya dari Spanyol ke akademi hingga akhirnya menembus tim utama. Selama empat hingga lima tahun di sana, ia merasa selalu mendapat dukungan dari klub maupun para suporter.
Meski memilih melanjutkan karier di tempat lain, Garnacho menegaskan bahwa ia hanya menyimpan kenangan baik bersama Manchester United.
Bakat Garnacho tidak pernah diragukan, tetapi pemain muda juga dituntut menjaga sikap dan konsistensi.
Pengakuannya yang kini lebih terbuka menunjukkan adanya kedewasaan, meski ia masih harus membuktikan di lapangan bahwa kariernya belum memasuki fase menurun.
Dapatkan berita dengan ulasan mendalam, serta kabar terbaru hanya di Gilabola.com.
- TAGS
- Alejandro Garnacho
- Chelsea
- Manchester United