Bandung (ANTARA) - Anggota DPRD Jawa Barat Daddy Rohanady mengungkapkan sebanyak 26 Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jabar direncanakan untuk dimasukkan ke dalam holding Sanggabuana dengan tanpa peleburan perusahaan anggota di dalamnya.
Daddy menerangkan 26 BUMD Jabar yang masuk ke Sanggabuana, hasil penilaian dengan kriteria tertentu dari total 37 BUMD yang dimiliki Provinsi Jawa Barat, dikurangi Bank BJB yang terdaftar sebagai perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI).
"Kan kita punya total 37 BUMD. Satu dikeluarin Bank BJB. Berati 36, itu diambil 26. Yang dianggap sehat sampai batas cukup sehat," kata Daddy ditemui di Bandung, Selasa.
Dia menyebutkan, penilaian BUMD tersebut sehat, bukan dalam artian kondisi eksisting saat ini bisa memberi dividen atau bagi hasil, tapi berdasar penilaian lembaga Burhanuddin Abdullah Center (BACenter) sebagai konsultan.
Anggota Komisi IV DPRD Jabar itu menjelaskan sekitar satu atau dua bulan lalu pihaknya menggandeng BACenter. Dan pihak BACenter melalui Burhanuddin Abdullah (mantan Gubernur Bi), sendiri berpesan jangan hanya melihat perusahaan hari ini sakit, namun harus dilihat entitas itu memiliki peluang cukup baik, namun terhambat semisal karena kurang pendanaan.
Dia mencontohkan Agronesia yang memiliki anak usaha pengolahan karet Inkaba (Industri Karet Bandung) yang sejatinya memiliki peluang besar, tapi memang tidak bisa maju karena mesin yang ada sudah berusia tua.
"Kan itu karena mesinnya seadanya ya akhirnya begitu, padahal kalau kita gali mungkin lebih bagus. Itulah kelompok 26, perusahaan yang masih punya peluang untuk memperoleh cuan dalam artian bagus sehingga bisa memberi dividen," ujarnya.
Meski disatukan dalam Sanggabuana, Daddy mengatakan bukan berarti 26 BUMD tersebut dilebur dengan dilakukan restrukturisasi direksi.
"Tidak seperti itu, Nah, ini diharapkan mirip-mirip danantara. Mereka mencoba buka jaring internasionalnya, cari investasi untuk perusahaan yang masih kurang modal dengan prospek bagus, mereka yang carikan. Tujuan akhirnya adalah memberikan dividen menjadi bagian dari pendapatan asli daerah," ucapnya.
Selain urusan optimalisasi BUMD yang tergabung di dalamnya, Daddy mengatakan Sanggabuana juga dibebani untuk menyehatkan 10 BUMD yang tidak masuk holding dengan jangka waktu yang ditentukan oleh pihak holding.
"Jadi tidak dilepas, tapi nanti disehatkan dan akan dievaluasi dengan kita minta komitmen jangka waktu yang ditentukan oleh holding. Jika sehat bisa ditambah modalnya. Jika pada akhirnya tetap tidak sehat ya bubarkan saja kalau menjadi beban," katanya.
Holding Sanggabuana ini, tambah Daddy, ditargetkan mulai awal tahun 2027, dengan penyertaan modal Rp125 miliar dari APBD.
"Dan saat ini telah berjalan dengan konsultan untuk proses pemilihan direksi serta komisaris. Kita sedang lakukan Jabar Got Talent istilahnya," tutur dia.
Pewarta: Ricky Prayoga
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.