Padang (ANTARA) - Upaya mendorong pemanfaatan energi terbarukan berbasis masyarakat terus dilakukan Universitas Negeri Padang (UNP).
Salah satunya melalui implementasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) off-grid di Masjid Nurul Wujud, Kelurahan Baringin, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatera Barat yang dilaksanakan pada 12–13 September 2026.
Program bertajuk “Transformasi Masjid Mandiri Energi melalui Implementasi PLTS Off-Grid Guna Menekan Biaya Operasional di Masjid Nurul Wujud” tersebut, merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang tidak hanya berfokus pada pemasangan teknologi energi surya, tetapi juga pada peningkatan kapasitas pengurus masjid dalam mengelola energi secara mandiri dan berkelanjutan.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim pengabdian lintas departemen di lingkungan Fakultas Teknik UNP, yang diketuai oleh Dwiprima Elvanny Myori, S.Si., M.Si., dengan anggota Krismadinata, S.T., M.T., Ph.D., Dr. Asnil, S.Pd., M.Eng., Dwi Sudarno Putra, S.T., M.T., Ph.D., Dr. Junil Adri, S.Pd., M.Pd.T., dan Dr. Fivia Eliza, S.Pd., M.Pd.
Tim ini turut melibatkan dua mahasiswa Program Studi Teknik Listrik UNP, serta bekerja sama dengan mitra Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Baringin, yang diwakili oleh Jamal Febrianto, S.H.
Masjid Nurul Wujud selama ini tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang berbagai aktivitas masyarakat, seperti kegiatan pendidikan Al-Qur'an, pengajian, dan kegiatan sosial.
Tingginya aktivitas tersebut menjadikan kebutuhan listrik sebagai salah satu bagian penting dalam mendukung operasional masjid.
Berdasarkan identifikasi awal dalam program, kebutuhan listrik masjid berada pada kisaran 280–300 kWh per bulan, dengan biaya listrik sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.
Ketergantungan sepenuhnya terhadap jaringan listrik PLN juga membuat operasional masjid berpotensi terganggu ketika terjadi pemadaman.
Melalui program ini, tim pengabdian menghadirkan sistem PLTS off-grid yang dirancang untuk mendukung kebutuhan listrik pada beban prioritas masjid, khususnya penerangan dengan beban maksimum 750 Watt selama lima jam operasional per hari.
Sistem yang dirancang mencakup modul photovoltaic, inverter, baterai, MPPT solar charge controller, sistem proteksi, serta perangkat pendukung instalasi.
Spesifikasi teknis dalam rancangan mencakup tiga unit panel surya monokristalin masing-masing 450 Wp (total 1.350 Wp) yang dirangkai tiga seri, dua buah baterai 12V berkapasitas 200 Ah yang dirangkai seri, inverter pure sine wave 1.000 Watt yang mengonversi tegangan 24 VDC menjadi 220 VAC, serta MPPT solar charge controller berkapasitas 60 A.
Tidak Sekadar Memasang Panel Surya
Ketua Tim Pengabdian, Dwiprima Elvanny Myori, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa program tersebut dirancang dengan pendekatan yang lebih luas. Teknologi PLTS tidak hanya dipasang, tetapi juga disertai dengan proses edukasi dan pendampingan kepada pengurus masjid.
“Tujuan kegiatan ini bukan hanya memasang panel surya, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Karena itu, pengurus masjid juga diberikan pemahaman mengenai pengoperasian, pemeliharaan, keselamatan instalasi, serta monitoring energi,” ujar Dwiprima Elvanny Myori.
Dalam pelaksanaannya selama dua hari tersebut, kegiatan mencakup sosialisasi, pelatihan, implementasi teknologi, pengujian sistem, pendampingan, serta evaluasi.
Pengurus masjid juga diarahkan untuk memiliki SOP pengoperasian, dan pemeliharaan serta melakukan pencatatan terhadap produksi dan konsumsi energi.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengelola dan menjaga keberlanjutan sistem yang telah dibangun.
Target Kurangi Ketergantungan terhadap Listrik PLN
Implementasi PLTS ini ditargetkan mampu menghasilkan energi minimal 2 kWh per hari, serta mengurangi konsumsi listrik dari PLN minimal 20 persen. Program juga menargetkan penghematan biaya listrik sedikitnya Rp80 ribu per bulan.
Selain penghematan biaya, keberadaan sistem energi surya diharapkan meningkatkan keandalan operasional masjid, terutama dalam mendukung beban-beban prioritas ketika terjadi gangguan pasokan listrik.
Untuk memastikan keberlanjutan program, tim pengabdian juga mendorong pembentukan tim kecil pengelola energi masjid yang bertugas melakukan pemantauan, pemeliharaan, dan pencatatan penggunaan energi secara berkala.
Menjadi Contoh Pemanfaatan Energi Bersih Berbasis Komunitas
Program ini diharapkan tidak berhenti pada manfaat langsung bagi Masjid Nurul Wujud. Keberadaan sistem PLTS juga dapat menjadi sarana edukasi bagi jamaah dan masyarakat mengenai pemanfaatan energi terbarukan.
Masjid dapat menjadi ruang pembelajaran yang memperlihatkan secara langsung bagaimana energi matahari dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari.
Melalui pendekatan tersebut, Masjid Nurul Wujud diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu contoh pemanfaatan energi bersih berbasis komunitas, sekaligus menjadi model yang dapat direplikasi pada fasilitas publik lainnya.
Kegiatan ini juga mendukung agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya Sustainable Development Goals (SDGs) 7 tentang energi bersih dan terjangkau, SDGs 11 tentang kota dan komunitas berkelanjutan, serta SDGs 13 tentang penanganan perubahan iklim.
