Elephants

Dolar AS Jadi Sorotan, Rupiah Diprediksi Bergerak di Rp 17.900-Rp 17.950

October 15, 2026

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp 17.900 hingga Rp 17.950 per USD pada perdagangan berikutnya. Sementara itu, untuk perdagangan sepanjang pekan ini, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 17.780 hingga Rp 18.060 per USD.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp 17.950, Ini 3 Faktor Pemicunya

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.900-Rp 17.950," ujar Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (14/10/2026).

Pada perdagangan Rabu (14/10/2026), rupiah ditutup melemah tipis 3 poin ke level Rp 17.903 per USD, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.900 per USD. Sebelum penutupan, rupiah sempat melemah hingga 20 poin.

Dari eksternal, pasar masih mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas administrasi milik perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, di Dhahran menambah kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan pasokan energi global.

Selain itu, situasi di Selat Hormuz turut menjadi perhatian pasar. Selat tersebut merupakan jalur strategis perdagangan minyak dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan ini berpotensi memengaruhi harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Perkembangan tersebut perlu dicermati karena perubahan harga energi dapat memengaruhi ekspektasi inflasi global. Bagi negara pengimpor energi, kenaikan harga minyak juga berpotensi menambah tekanan terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan valuta asing.

Di sisi lain, pelaku pasar menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS untuk September 2026. Data tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Inflasi utama AS diperkirakan naik 0,6% secara bulanan atau month-to-month (MoM), lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus 2026. Sementara itu, inflasi tahunan diproyeksikan meningkat menjadi 3,7% dari sebelumnya 3,4%.

Baca Juga: Little Siam PIK2 Gelar Lomba Nasi Goreng Nanas ala Thailand, Hadiah Jutaan Rupiah Menanti

Apabila inflasi AS tercatat lebih tinggi daripada perkiraan, ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter The Fed dapat berubah. Suku bunga AS yang bertahan tinggi berpotensi mempertahankan daya tarik aset berbasis dolar, sehingga menambah tantangan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sebaliknya, apabila inflasi lebih rendah daripada ekspektasi, pasar dapat menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter AS lebih terbuka. Meski demikian, arah rupiah tetap akan dipengaruhi perkembangan geopolitik, arus modal, serta kondisi pasar keuangan domestik.