Jakarta -
Usai Hyrox Jakarta beberapa waktu lalu, besar kemungkinan bahwa tren Hyrox di Indonesia akan meroket. Namun, yang ditakutkan dari fenomena ini adalah orang-orang yang mendaftar hanya karena takut ketinggalan tren atau FOMO (fear of missing out).
Spesialis kedokteran olahraga dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO mengatakan bahwa Hyrox bukan sekadar lomba lari atau latihan di gym biasa.
dr Andi yang juga menjadi medical lead di Hyrox Jakarta 2026 lalu, menambahkan bahwa intensitas yang tinggi membuat peserta berisiko mengalami berbagai cedera, terutama bagi mereka yang tidak mengetahui seberapa kuat tubuhnya.
"Cedera yang paling ringan adalah kram ya. Kemarin (di Hyrox Jakarta) banyak banget yang kram, di antara lari itu kram, di antara narik, dorong, atau angkat, atau lempar itu kram," kata dr Andi saat Sunset Talk detikSore, Senin (13/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi banyak juga cedera, sampai heat stroke, sampai kemarin juga ada gangguan irama jantung," sambungnya.
Sebagai informasi, heat stroke adalah kondisi kegawatdaruratan saat suhu tubuh melonjak drastis hingga mencapai 40 derajat celsius atau lebih. Keadaan ini terjadi ketika sistem pengaturan suhu tubuh gagal akibat paparan panas ekstrem. Ini merupakan kondisi medis serius yang membutuhkan pertolongan segera
Hyrox memang memiliki tantangan-tantangan yang bisa dikatakan berat. Kompetisi kebugaran ini menggabungkan lari sejauh 8 kilometer dengan delapan stasiun latihan fungsional dan peserta harus menyelesaikannya dalam waktu secepat-cepatnya.
"Meskipun itu di ruang indoor dan AC, si penyelenggara itu punya standar ya. Suhunya itu nggak boleh di atas 22 derajat celsius," katanya.
"Tapi, masih ada juga yang heat stroke," tutupnya.
Halaman 2 dari 2
Simak Video "Video Viral Pria Umur 81 Taklukkan Hyrox Jakarta, Latihannya Nggak Main-main"
[Gambas:Video 20detik]
(dpy/up)