Jakarta (ANTARA) - Guru besar di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Faisal Yunus, Ph.D., Sp.P(K) mengingatkan bahwa tuberkulosis (TB) dapat menyerang siapa saja, karenanya semua orang perlu mewaspadai penularan penyakit tersebut.
"Dulu kan kita mengatakan TB itu orang miskin, orang kurus, orang ekonomi lemah. Sekarang tidak, orang tinggal di Menteng, orang tinggal di Pondok Indah bisa kena TB. Ada di mana-mana," katanya kepada ANTARA pada Sabtu.
"Penularan TB dapat terjadi di berbagai tempat ketika masyarakat berinteraksi, mulai dari pusat perbelanjaan, pasar, perkantoran, hingga transportasi umum," ia menambahkan.
Tuberkulosis disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini bisa menular saat bakteri penyebab TB yang tersebar di udara dihirup oleh orang lain.
Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Kementerian Kesehatan, bakteri penyebab TB bisa tersebar ke udara ketika penderita tuberkulosis batuk atau bersin dan memercikkan dahak atau cairan.
Sekali batuk pasien TB dapat mengeluarkan sampai 3.500 kuman M. tuberculosis. Jumlah bakteri yang dikeluarkan saat bersin bisa berkisar 4.500 sampai satu juta.
Kalau terhirup, bakteri bisa masuk ke saluran pernapasan, menuju ke paru-paru, dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Tubuh orang yang terpapar bakteri penyebab tuberkulosis bisa menunjukkan reaksi sekitar enam sampai 14 minggu setelah infeksi.
Gejala TB utamanya batuk terus-menerus, bisa batuk berdahak atau tidak berdahak.
Orang yang terinfeksi bakteri penyebab tuberkulosis juga bisa mengalami demam dan meriang dalam jangka panjang, sesak nafas dan nyeri dada, penurunan nafsu makan dan berat badan, dan berkeringat pada malam hari meski tidak melakukan kegiatan.
Baca juga: Dokter: Pasien TB perlu pakai masker untuk cegah penularan di rumah
Prof. Faisal menyampaikan bahwa orang umumnya tidak bisa mengetahui apakah ada orang di sekitarnya yang terserang TB. Jadi, lebih baik melakukan upaya pencegahan untuk menekan peluang terpapar kuman penyebab TB.
Menurut dia, upaya pencegahan antara lain bisa dilakukan dengan memakai masker ketika merasa sakit atau ada orang yang menunjukkan gejala sakit di sekitarnya.
Dia juga menyampaikan pentingnya menjaga daya tahan tubuh. Ketahanan tubuh bisa dijaga dengan menerapkan pola makan sehat bergizi seimbang, rutin melakukan aktivitas fisik, mencukupkan istirahat, dan mengelola stres.
Prof. Faisal meminta warga tidak merespons penularan TB dengan kekhawatiran berlebihan.
Apabila mendapati penderita tuberkulosis di lingkungan sekitar, ia melanjutkan, maka sebaiknya mengecek riwayat kontak anggota keluarga dengan orang yang bersangkutan.
"Kalau ada orang penyakit TB, maka diselidiki di keluarganya ada tidak," katanya.
Anggota keluarga yang punya riwayat kontak dengan pasien tuberkulosis disarankan dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan agar bisa mendapatkan penanganan yang diperlukan.
Baca juga: Waspadai batuk yang berlangsung dua pekan lebih
Baca juga: Pemerintah DKI Jakarta gencarkan pencegahan tuberkulosis
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.