Elephants

Doa saat Akan Liburan ke Tempat Wisata, agar Tetap Mendapatkan Keberkahan

September 13, 2026

Sebelum berangkat menuju tempat wisata, umat Islam dianjurkan membaca doa perjalanan. Doa ini merupakan bentuk permohonan kepada Allah SWT agar perjalanan diberikan kemudahan, keselamatan, dan keberkahan.

Baca Juga: Hukum Suami dan Istri Tidur Terpisah dalam Islam, Bolehkah?

Doa perjalanan yang diajarkan Rasulullah SAW antara lain:

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ ۝ وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ

Artinya: "Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Mahasuci Zat yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami." (QS. Az-Zukhruf: 13–14).

Doa tersebut dibaca ketika seseorang menaiki kendaraan untuk melakukan perjalanan. Setelah itu, seseorang juga dapat melanjutkan dengan doa perjalanan yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan dan ketakwaan serta amal yang Engkau ridai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya bagi kami." (HR. Muslim).

Selain membaca doa, ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar perjalanan wisata tetap menjadi aktivitas yang mendatangkan keberkahan.

Pertama, meluruskan niat. Liburan dapat diniatkan sebagai sarana menyegarkan tubuh dan pikiran agar kembali memiliki semangat menjalankan aktivitas serta ibadah. Dengan niat yang baik, aktivitas yang bersifat mubah dapat memiliki nilai kebaikan.

Kedua, tetap menjaga salat. Kesibukan selama berwisata tidak seharusnya menjadi alasan meninggalkan salat. Jika perjalanan bertepatan dengan waktu salat, seorang Muslim dapat mencari tempat yang memungkinkan untuk menunaikan kewajiban tersebut.

Ketiga, menjaga adab di tempat wisata. Menikmati pemandangan tidak berarti seseorang bebas melakukan apa saja. Wisatawan Muslim tetap dianjurkan menjaga ucapan, pakaian, perilaku, serta menghormati orang lain.

Keempat, menjaga lingkungan. Keindahan alam merupakan salah satu tanda kebesaran Allah SWT. Karena itu, membuang sampah sembarangan, merusak fasilitas, atau melakukan tindakan yang merusak lingkungan sebaiknya dihindari.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا

Artinya: "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki." (QS. Al-A'raf: 56).

Baca Juga: Menag Nasaruddin: MTQ Nasional Cerminkan Persaudaraan Lintas Agama

Kelima, menghindari pemborosan. Liburan tidak harus identik dengan menghabiskan uang sebanyak-banyaknya. Islam mengajarkan umatnya untuk menggunakan harta secara proporsional dan tidak berlebihan.

Keenam, bersyukur atas kesempatan menikmati perjalanan. Ketika sampai di tempat tujuan, seorang Muslim dapat menyadari bahwa kemampuan untuk bepergian, melihat keindahan alam, dan berkumpul bersama keluarga merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Pada akhirnya, keberkahan sebuah perjalanan tidak hanya ditentukan oleh destinasi yang dikunjungi. Cara seseorang menjalani perjalanan juga menjadi bagian penting. Liburan yang disertai doa, niat baik, menjaga ibadah, menghormati sesama, dan menjaga lingkungan dapat menjadi pengalaman yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga bernilai kebaikan.