Kuningan (ANTARA) - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, memfokuskan pengembangan bawang putih pada pengujian model budi daya melalui demplot sebelum diperluas ke areal yang diusulkan.
Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah saat dikonfirmasi di Kuningan, Jumat, mengatakan pengujian dilakukan untuk memastikan kesesuaian agroklimat dan teknik budidaya bawang putih dengan kondisi lahan di daerah tersebut.
Pihaknya mendata total usulan uji budidaya komoditas tersebut sekitar 17 hektare, tetapi pengembangannya bertahap.
“Kita mulai dari demplot 0,2 hektare di kawasan riset Rumah Tani Nusantara untuk menguji kesesuaian agroklimat dan model budi dayanya," katanya.
Ia menyampaikan demplot seluas 0,2 hektare tersebut berada di kawasan riset Rumah Tani Nusantara, Desa Karangsari, Kecamatan Darma, dan menjadi lokasi awal pengujian sebelum pengembangan dilakukan pada lahan yang lebih luas.
Menurut Wahyu, pengujian tidak hanya melihat pertumbuhan tanaman, tetapi mencakup penerapan teknologi, kebutuhan sarana produksi, produktivitas, biaya budidaya, serta prospek keuntungan bagi petani.
"Kami ingin memastikan bagaimana pertumbuhan tanaman, teknologi yang paling sesuai, produktivitasnya, kebutuhan biaya produksinya, sampai apakah usaha ini memberikan keuntungan bagi petani," ujar dia.
Ia mengatakan demplot tersebut direncanakan menjadi bagian dari Gerakan Tanam Bawang Putih pada 19 Agustus 2026, sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi pengembangan komoditas tersebut.
“Dari total usulan calon petani dan calon lokasi (CPCL) sekitar 17 hektare, sekitar tujuh hektare direncanakan berada di kawasan riset Rumah Tani Nusantara,” katanya.
Wahyu menegaskan hasil pengujian demplot akan menjadi dasar untuk menentukan pengembangan berikutnya, sehingga perluasan lahan tidak dilakukan hanya berdasarkan target luasan.
"Kita tidak sedang mengejar angka 17 hektare. Kita sedang membangun model bawang putih yang benar-benar bisa berhasil," katanya.
Ia mengatakan pengembangan bawang putih juga diarahkan untuk membangun ekosistem usaha tani yang mencakup perbenihan, penguasaan teknologi, produktivitas, sarana produksi, pascapanen, hingga kepastian pasar.
"Yang kita bangun bukan hanya tanamannya, tetapi ekosistemnya. Kalau modelnya terbukti sesuai secara teknis dan layak secara ekonomi, baru kita kembangkan secara bertahap ke kawasan yang lebih luas," ujar dia.
Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.