Elephants

Dinkes Kutim catat 118 kasus malaria selama Agustus-September - ANTARA News Kalimantan Timur

September 16, 2026

Sangatta (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencatat 118 kasus malaria selama Agustus-September 2026, dengan Kecamatan Sandaran menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 22 orang.

“Kasus malaria menjadi perhatian karena sejumlah wilayah Kutim memiliki aktivitas masyarakat yang berdekatan dengan kawasan hutan,” ucap Kepala Dinkes Kutim,  Yuwana Sri Kurniawati di Sangatta, Rabu.

Sebanyak 118 kasus malaria tersebut dilaporkan setiap rumah sakit dan fasilitas kesehatan masyarakat kepada Dinkes Kutim dari Agustus hingga September 2026.

Dengan kondisi wilayah Kabupaten Kutai Timur yang masih memiliki hutan yang luas, merupakan salah satu habitat nyamuk penyebab malaria.

Dia mengatakan, akibat kebakaran lahan dan hutan (karhutla) serta pembukaan kawasan perkebunan, membuat nyamuk penyebab malaria beralih ke pemukiman warga.

“Kalau ada pembukaan lahan, sawit misalnya, atau memang hutan yang dibuka untuk perumahan, apalagi itu kan pasti nyamuknya kan lari semua dan orang yang di situ tadi akan tergigit,” ujar Yuwana.

Dinkes Kutim juga menghadapi tantangan dalam menemukan kasus secara lebih cepat. Sebagian masyarakat tidak segera melaporkan atau memeriksakan diri ketika mengalami gejala malaria dan baru mendatangi fasilitas kesehatan setelah kondisi memburuk.

Setiap laporan dari rumah sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan kemudian ditindaklanjuti petugas melalui penelusuran epidemiologi untuk mengetahui lokasi dan kemungkinan sumber penularan.

“Biasanya kan mereka tidak lapor. Tapi begitu sudah sakit, mau tak mau kan ke rumah sakit. Nah nanti dari rumah sakit, kami tindak lanjuti, kami kejar. Dia dapatnya dari mana, kita turun ke lapangan nanti, petugas surveillance epidemiologinya,” katanya.

Penelusuran tersebut juga dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penderita lain di sekitar lokasi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memutus mata rantai penularan malaria.

Yuwana menjelaskan, malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk yang sebelumnya menggigit orang yang telah terinfeksi. Parasit plasmodium kemudian dapat berpindah melalui gigitan nyamuk kepada orang lain.

“Begitu nyamuk ini sudah ngigit  orang yang kena malaria, maka dia ngigit orang lain dipindahkan lah plasmodium-nya tadi. Plasmodiumnya pindah lagi, nular ke orang yang lain,” jelasnya.

Dinkes Kutim mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai malaria, terutama mereka yang tinggal atau beraktivitas di sekitar kawasan hutan dan lokasi pembukaan lahan.

Pewarta: Nyaman Bagus Purwaniawan
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.