Perempuan mengalami trauma psikologis. (ilustrasi). Trauma psikologis merupakan pengalaman yang begitu berat hingga memengaruhi kemampuan seseorang untuk menghadapi keadaan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Istilah "trauma" semakin sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, terutama di media sosial. Pengalaman seperti putus cinta, konflik pertemanan, hingga tekanan pekerjaan, kerap disebut sebagai pengalaman traumatis. Padahal, tidak semua pengalaman yang menyakitkan dapat dikategorikan sebagai trauma psikologis.
Dokter spesialis kedokteran jiwa atau psikiater, dr Megha Agarwal, mengatakan trauma psikologis merupakan pengalaman yang begitu berat hingga memengaruhi kemampuan seseorang untuk menghadapi keadaan. Dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang dan memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan sesuatu, maupun berperilaku.
"Saat ini banyak orang yang putus cinta, dia bilang trauma dengan hubungan. Ada yang mengkritiknya, terus dia bilang itu pengalaman yang traumatis. Itu tentu menyakitkan, tetapi bukan berarti trauma psikologis. Trauma itu adalah pengalaman yang berat sampai memengaruhi kemampuan Anda menghadapi masalah," kata dr Megha dilansir laman Hindustan Times, Ahad (11/10/2026).
Apa bedanya stres dengan trauma? Dokter Megha mengatakan stres berbeda dari trauma psikologis. Tekanan pekerjaan, masalah hubungan, ujian, maupun hari yang buruk dapat menimbulkan stres yang signifikan. Namun belum tentu menyebabkan trauma psikologis.
"Trauma cenderung menimbulkan dampak yang lebih berkepanjangan. Pengalaman traumatis dapat mengubah cara seseorang memandang keamanan, merespons berbagai situasi, serta menjalin hubungan dengan orang lain," kata dia.
Dokter Megha mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan sejumlah gejala awal dari trauma. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain terus mengingat memori buruk dan tidak diinginkan, mengalami mimpi buruk, serta kecenderungan menghindari hal-hal yang mengingatkan pada pengalaman tersebut.