Elephants

Destry Effect Sudah Menyengat Rupiah, Kapan Asing Menyerbu Bursa?

August 10, 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam. Bursa saham ditutup melemah sementara surat berharga negara (SBN) dan rupiah menguat di tengah pengumuman Pjs Gubernur BI yang menjadi satu-satunya calon Gubernur BI yang direkomendasikan oleh presiden Prabowo Subianto.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan sedikit lebih lega walaupun masih akan menghadapi tantangan pada hari ini terutama karena perang yang belum menemukan titik terangnya.

Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Senin (10/8/2026), setelah sempat bergerak di zona hijau pada awal perdagangan.

IHSG ditutup di level 6.365,37, melemah 44,28 poin atau 0,69% dari penutupan perdagangan sebelumnya.

IHSG sempat menguat dan menyentuh level tertinggi 6.462,74 pada perdagangan kemarin. Namun, indeks kemudian berbalik arah hingga mencapai level terendah 6.362,76.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 306 saham menguat, sementara 340 saham melemah dan 317 saham lainnya stagnan.

Total volume perdagangan mencapai 45,46 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp18,19 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat mencapai sekitar 2,61 juta transaksi.

Pada perdagangan kemarin, terpantau asing membukukan net foreign inflow sebesar Rp 829,69 miliar di all market namun mencatatkan net foreign sell di pasar reguler sebesar Rp 875,51 miliar

Sehingga apabila data ditarik secara year-to-date bursa saham mengalami net foreign outflow sebesar Rp 70,46 triliun di all market dan Rp 95,37 triliun di reguler market.

Adapun sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penekan utama pergerakan IHSG kemarin. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) 9,39 poin. Kemudian diikuti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencapai 6,12 poin, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar 3,69 poin.

Lalu PT Barito Pacific Tbk (BRPT) memberikan tekanan sebesar 2,95 poin, sedangkan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) menyumbang tekanan sebesar 2,27 poin.

Saham lain yang turut menjadi pemberat IHSG yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar 2,14 poin, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) sebesar 1,77 poin, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) sebesar 1,39 poin, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (PTRO) sebesar 1,36 poin, dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) sebesar 1,04 poin.

Di sisi lain, sejumlah saham masih mampu memberikan kontribusi positif. PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) menjadi penopang terbesar dengan kontribusi 3,37 poin, disusul PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar 2,37 poin dan PT United Tractors Tbk (UNTR) sebesar 1,76 poin.

Kemudian PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) menyumbang 1,60 poin dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) sebesar 1,41 poin.

Sementara itu tekanan IHSG tercermin dari mayoritas sektor yang berakhir di zona merah.

Sektor utilitas menjadi sektor dengan pelemahan terdalam, yakni 2,61%. Disusul kesehatan yang turun 1,41% dan konsumer primer yang melemah 1,08%.

Sektor teknologi turun 0,72%, bahan baku melemah 0,60%, properti turun 0,36%, dan finansial terkoreksi 0,21%.

Lanjut ke mata uang Garuda, nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan awal pekan dengan penguatan tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Senin (10/8/2026), rupiah terapresiasi 0,75% ke posisi Rp17.750/US$.

Penguatan kemarin sekaligus melanjutkan tren positif rupiah yang berlangsung sejak 5 Agustus 2026 atau dalam empat hari perdagangan secara beruntun.

Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah sudah menguat sejak pembukaan. Pada pagi hari kemarin, rupiah dibuka terapresiasi 0,48% ke posisi Rp17.800/US$, kemudian bertambah kuat hingga penutupan.

Rupiah bergerak di rentang Rp17.730-Rp17.825/US$ sepanjang perdagangan. Posisi penutupan kemarin juga lebih kuat 50 poin dibandingkan level pembukaan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,12% ke posisi 99,656.

Rupiah tetap mampu menguat tajam meski DXY bergerak tipis di zona hijau. Penguatan mata uang Garuda membesar pada siang hari setelah Istana mengumumkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI).

Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan surat kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengenai calon Gubernur BI. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi hanya terdapat satu nama yang diajukan.

"Namanya tunggal, satu nama, Bu Destry Damayanti," kata Prasetyo kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Destry saat ini menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri pada 25 Juli 2026 karena alasan pribadi.

Pengajuan satu nama memberikan kepastian lebih besar mengenai arah pergantian kepemimpinan BI. Kepastian tersebut cukup penting bagi pasar karena berkaitan dengan kesinambungan kebijakan moneter, stabilitas rupiah, dan independensi bank sentral.

Meski demikian, Destry masih harus menjalani proses di DPR sebelum ditetapkan sebagai Gubernur BI definitif.

Sementara dari sisi SBN, imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia mengalami pelandaian hal ini mengindikasikan investor lebih cenderung melakukan pembelian dibandingkan penjualan.

SBN bergerak ke level 7.188% pada perdagangan kemarin, di mana pada hari sebelumnya imbal hasil SBN 10 tahun terpantau ditutup pada level 7.301%