Elephants

Demo Besar Berujung Chaos, Prancis Dikepung Api dan Penjarahan

October 18, 2026

Demonstrasi menentang mahalnya biaya hidup dan penurunan layanan publik di Prancis meluas menjadi kerusuhan, pembakaran, penyerangan, hingga penjarahan toko.

Ricuh saat protes berskala nasional di Prancis menentang biaya hidup, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/REUTERS/Stephanie Lecocq)

Kerusuhan meletus di berbagai kota di Prancis ketika demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan penurunan layanan publik meluas. Demonstrasi yang semula damai berubah menjadi kekerasan, kebakaran hingga penjarahan yang terburuk selama beberapa dekade. (REUTERS/Stephanie Lecocq)

Protes nasional menentang tingginya biaya hidup di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/Manon Cruz)

Ratusan ribu orang awalnya berdemonstrasi secara damai di jalanan di berbagai kota Prancis. Namun terdapat sejumlah kelompok-kelompok massa yang melakukan kekerasan menargetkan gedung-gedung publik, menjarah butik mewah dan supermarket, serta menyerang kendaraan dan petugas polisi. (REUTERS/Manon Cruz)

Ricuh saat protes berskala nasional di Prancis menentang biaya hidup, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/Stephanie Lecocq)

Aksi protes bermula pada bulan lalu, dipicu oleh kondisi sekolah dan kekurangan guru di kawasan pinggiran kelas pekerja, sebelum kemudian meluas menjadi gerakan menentang ketimpangan, pemangkasan belanja publik, serta meningkatnya biaya hidup. (REUTERS/Stephanie Lecocq)

Dampak bentrokan selama hari protes nasional menentang biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar di Prancus, Minggu (18/10/2026). (REUTERS/Manon Cruz)

Sejumlah bangunan di kota-kota Prancis dibakar dan dirusak massa. Di Limoges balai kota dibakar massa, sementara di Marseille para demonstran berpakaian hitam menerobos masuk ke balai kota dan merusak bangunan dengan grafiti anarkis. (REUTERS/Manon Cruz)

Ricuh saat protes berskala nasional di Prancis menentang biaya hidup, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/Stephane Mahe)

Pihak berwenang menyebut sekitar 550.000 orang mengikuti aksi tersebut di seluruh negeri. (REUTERS/Stephane Mahe)

Kerusakan usai ksi unjuk rasa nasional menentang tingginya biaya hidup dan kenaikan harga BBM, di Paris, Prancis, Minggu (18/10/2026). (REUTERS/Benoit Tessier)

Melansir dari AFP, para penjarah berhasil membobol berbagai toko, mulai dari gerai merek mewah kelas atas hingga toko roti. (REUTERS/Benoit Tessier)

Pengunjuk rasa memasuki Balai Kota Marseille usai berhasil membobol dalam aksi unjuk rasa nasional menentang tingginya biaya hidup dan kenaikan harga BBM, di Marseille, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (AFP/VIKEN KANTARCI)

Para pengunjuk rasa yang berpakaian serba hitam juga berhasil menerobos masuk ke balai kota Marseille dan mencoreti bangunan tersebut dengan grafiti anarkis. (AFP/VIKEN KANTARCI)

Pengunjuk rasa memasuki Balai Kota Marseille usai berhasil membobol dalam aksi unjuk rasa nasional menentang tingginya biaya hidup dan kenaikan harga BBM, di Marseille, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (AFP/VIKEN KANTARCI)

Aksi serupa yang menyasar bangunan publik juga terjadi di sejumlah kota lain di Prancis. (AFP/VIKEN KANTARCI)

Dampak bentrokan selama hari protes nasional menentang biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar di Prancus, Minggu (18/10/2026). (REUTERS/Abdul Saboor)

Di Paris, kaca depan sebuah toko produk perawatan kulit hancur, sementara para penjarah melemparkan produk-produk kecantikan kepada puluhan orang yang berkumpul di luar. (REUTERS/Abdul Saboor)

Dampak bentrokan selama hari protes nasional menentang biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar di Prancus, Minggu (18/10/2026). (REUTERS/Manon Cruz)

Menteri Ekonomi Roland Lescure menjanjikan dukungan bagi para pemilik usaha yang mengalami kerugian. "Mereka yang merusak berbagai hal harus menanggung akibatnya, memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan, serta dimintai pertanggungjawaban atas niat mereka untuk menebar kekacauan," ujar Lescure dalam sebuah pernyataan. (REUTERS/Manon Cruz)

Monumen a la Republique dengan rompi kuning, sehari setelah bentrokan pada hari demonstrasi nasional menentang biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar, di Place de la Republique di Paris, Prancis, Minggu (18/10/2026). (REUTERS/Abdul Saboor)

Monumen a la Republique terlihat mengenakan rompi kuning, sehari setelah bentrokan dalam aksi demonstrasi nasional menentang biaya hidup dan kenaikan harga BBM.  (REUTERS/Abdul Saboor)

Ricuh saat protes berskala nasional di Prancis menentang biaya hidup, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/Abdul Saboor)

Jumlah korban luka masih bersifat sementara dan penyelidikan sedang berlangsung untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab. (REUTERS/Abdul Saboor)

REUTERS/Jack Taylor

Perdana Menteri Prancis, Sebastien Lecornu, menyatakan bahwa pemerintah tidak akan "diintimidasi" oleh kekerasan tersebut. Pada bagian depan rompi tertulis: 'Pada tahun 2026, polisi menciderai siswi-siswi sekolah'. (REUTERS/Jack Taylor)

Protes nasional menentang tingginya biaya hidup di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/Jack Taylor)

Ia menuding kelompok "ultra-kiri" dan para kriminal sebagai pihak di balik kerusuhan ini, yang terjadi hanya beberapa bulan menjelang pemilihan presiden tahun depan. (REUTERS/Jack Taylor)

Protes nasional menentang tingginya biaya hidup di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/Manon Cruz)

"Kepada mereka yang jelas-jelas ingin menggunakan kekerasan ini sebagai 'pemanasan' menjelang pemilihan presiden, saya tegaskan: Kami tidak akan membiarkan diri kami diintimidasi. Tidak ada seorang pun yang boleh memaksakan agenda politik mereka melalui kekerasan," tulisnya dalam sebuah unggahan di platform X dikutip dari Reuters. (REUTERS/Manon Cruz)

Ricuh saat protes berskala nasional di Prancis menentang biaya hidup, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/REUTERS/Stephanie Lecocq)

Protes nasional menentang tingginya biaya hidup di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/Manon Cruz)

Ricuh saat protes berskala nasional di Prancis menentang biaya hidup, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/Stephanie Lecocq)

Dampak bentrokan selama hari protes nasional menentang biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar di Prancus, Minggu (18/10/2026). (REUTERS/Manon Cruz)

Ricuh saat protes berskala nasional di Prancis menentang biaya hidup, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/Stephane Mahe)

Kerusakan usai ksi unjuk rasa nasional menentang tingginya biaya hidup dan kenaikan harga BBM, di Paris, Prancis, Minggu (18/10/2026). (REUTERS/Benoit Tessier)

Pengunjuk rasa memasuki Balai Kota Marseille usai berhasil membobol dalam aksi unjuk rasa nasional menentang tingginya biaya hidup dan kenaikan harga BBM, di Marseille, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (AFP/VIKEN KANTARCI)

Pengunjuk rasa memasuki Balai Kota Marseille usai berhasil membobol dalam aksi unjuk rasa nasional menentang tingginya biaya hidup dan kenaikan harga BBM, di Marseille, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (AFP/VIKEN KANTARCI)

Dampak bentrokan selama hari protes nasional menentang biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar di Prancus, Minggu (18/10/2026). (REUTERS/Abdul Saboor)

Dampak bentrokan selama hari protes nasional menentang biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar di Prancus, Minggu (18/10/2026). (REUTERS/Manon Cruz)

Monumen a la Republique dengan rompi kuning, sehari setelah bentrokan pada hari demonstrasi nasional menentang biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar, di Place de la Republique di Paris, Prancis, Minggu (18/10/2026). (REUTERS/Abdul Saboor)

Ricuh saat protes berskala nasional di Prancis menentang biaya hidup, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/Abdul Saboor)

REUTERS/Jack Taylor

Protes nasional menentang tingginya biaya hidup di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/Jack Taylor)

Protes nasional menentang tingginya biaya hidup di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). (REUTERS/Manon Cruz)