Elephants

Dari Rapat hingga Drama Korea: Satu Layar Mengubah Cara Orang Beraktivitas - Gadget Katadata.co.id

September 14, 2026

Pukul sembilan pagi, layar tablet Lita (25 tahun) menyala untuk sesi wawancara kandidat pertama hari itu. Belasan jam kemudian, layar yang sama menyala lagi, kali ini menampilkan drama Korea yang ia tonton sambil merebahkan badan. Bagi perempuan yang bekerja sebagai talent acquisition di perusahaan tambang di Jakarta ini, satu perangkat sudah cukup untuk menampung dua dunia yang jauh berbeda: dunia kerja yang serba cepat, dan dunia hiburan yang jadi pelarian setelah lelah beraktivitas.

Fenomena itu bukan cerita satu orang saja. Ini mencerminkan pergeseran yang lebih besar dalam cara masyarakat Indonesia, khususnya pekerja urban, memperlakukan gawai mereka. Batas antara ‘perangkat kerja’ dan ‘perangkat hiburan’ makin kabur. Satu layar kini dituntut menemani rapat pagi, menampung revisi dokumen di siang hari, sampai menemani maraton drama Korea di malam hari.

Lita lulus kuliah pada 2024 dan sempat menganggur sekitar setahun sebelum diterima bekerja pada Mei 2025. Tiga bulan setelah bekerja, ia merasa butuh perangkat yang ringan, tetapi tetap bisa menopang pekerjaannya. Pilihannya jatuh pada Huawei MatePad berukuran 11,5 inci, cukup ringkas untuk masuk tas, tetapi mumpuni untuk menemaninya berpindah dari kantor ke lokasi rapat di luar kantor.

Hasilnya terasa langsung pada produktivitas kerja. “Sebelumnya hanya sekitar dua sampai tiga wawancara. Sekarang bisa sampai 10,” ujar Lita kepada Katadata.co.id, Senin (14/9).

Perangkat yang sama juga ia pakai untuk tes psikologi kandidat, sekaligus menyalurkan hobi menggambar berkat dukungan pen digital.

Namun Huawei MatePad tidak berhenti berfungsi begitu jam kerja usai. Layar yang lebih lebar dari ponsel membuatnya lebih nyaman dipakai menonton drama Korea Selatan.

Huawei Matepada 11.5 inch

(Huawei)

Pola serupa juga terlihat pada Yashinta, kreator konten yang pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Perangkat elektronik yang ia andalkan sehari-hari yakni laptop, tablet, dan ponsel. Gawai iPhone digunakan untuk mengambil dan mengedit video pendek secara cepat, sementara tablet dipakai untuk menyusun naskah sambil membuka berbagai sumber di internet.

Ia bahkan memakai kecerdasan buatan atau AI seperti Gemini dan Claude sebagai ‘teman diskusi’ untuk menganalisis tema dan mengurasi data, meski tetap mengandalkan sumber resmi. “AI sering keliru dalam menyajikan fakta, sehingga aku lebih memilih untuk membaca sumber resmi di internet,” kata Yashinta kepada Katadata.co.id, Minggu (13/9).

Pengalaman itu sejalan dengan temuan Microsoft Work Trend Index 2026. Sebanyak 33% pekerja Indonesia dalam survei ini dikategorikan sebagai Frontier Professionals, yakni pengguna AI tingkat lanjut. Angka ini lebih dari dua kali rata-rata global sebesar 16%.

Menariknya, 93% pengguna AI di Indonesia menjadikan output AI sebagai titik awal, bukan jawaban akhir. Microsoft menyebut penggunaan AI yang semakin strategis tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kontrol kualitas dan tanggung jawab manusia.

Senior Cloud & AI Platform GTM, Microsoft ASEAN, Fiki Setiyono menyampaikan bahwa temuan itu menunjukkan Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk memimpin fase berikutnya dalam transformasi AI di dunia kerja.

“Yang menonjol bukan hanya kecepatan adopsinya, tetapi juga kedewasaan pekerja Indonesia dalam menggunakan AI, dengan tetap menempatkan penilaian manusia, kendali kualitas, dan tanggung jawab sebagai pusat dari cara kerja mereka,” ujar dia, dikutip dari keterangan pers, pada Juni.

Menurut dia, peluang ke depan bukan sekadar menggunakan AI lebih luas, tetapi memanfaatkannya dengan lebih strategis untuk merancang ulang cara kerja, memperkuat pengambilan keputusan, dan membuka nilai baru bagi organisasi maupun perekonomian digital Indonesia.

Hal itu juga sejalan dengan laporan Google terkait Gemini Asia Tenggara 2026. Sebanyak 82% perintah ke Gemini di Indonesia berasal dari ponsel atau tablet. Satu dari dua perintah Gemini di Indonesia juga menggunakan input multimodal, seperti gambar atau suara selain teks.

Bagi Yashinta, kerja remote justru membuat ritme hidupnya lebih fleksibel yakni rata-rata tiga sampai empat jam sehari, jauh berbeda dari saat ia bekerja di Jakarta yang bisa menuntut lebih dari delapan jam kerja ditambah waktu perjalanan yang panjang. Satu perangkat yang sama menemaninya mengurus anak, menuntaskan pekerjaan klien, sekaligus menyalurkan hobi membuat konten personal tentang slow living di desa.

Layar Besar untuk Kerja dan Hiburan

Tren penggunaan perangkat mobile untuk bekerja sejalan dengan pola kerja Yashinta dan Lita yang tidak lagi bergantung pada satu tempat. Layar pada perangkat mobile tidak hanya menjadi tempat untuk menerima informasi, tetapi juga menjadi ruang untuk mengolah informasi, berdiskusi dengan AI, menyusun naskah, hingga menghasilkan konten.

Batas antara aktivitas kerja dan aktivitas personal juga semakin cair dalam keseharian Yashinta. Ia mengatakan inspirasi untuk konten pekerjaan dapat berasal dari hal-hal yang disukainya, termasuk penyanyi favorit, film yang telah ditonton, karakter film, serta tren yang sedang dibicarakan netizen. Sementara konten personalnya banyak mengambil inspirasi dari kehidupan sehari-hari di desa, seperti kuliner, suasana perdesaan, dan interaksi dengan petani.

Artinya, perangkat yang digunakan untuk bekerja juga menjadi bagian dari ekosistem aktivitas kreatif yang berangkat dari konsumsi informasi dan hiburan.

Pilihan Lita menggunakan tablet untuk menonton drama Korea Selatan juga menunjukkan bahwa ukuran layar dapat menjadi pertimbangan ketika perangkat yang sama digunakan untuk bekerja sekaligus menikmati hiburan.

Riset University College London pada 2016 terhadap 19 peserta menemukan bahwa menonton film pada layar smartphone 4,5 inci menghasilkan tingkat impresi yang lebih rendah dibandingkan layar laptop 13 inci dan monitor 30 inci. Di satu sisi, pandemi Covid-19 juga mengubah cara orang menggunakan perangkat mobile. Ketika bekerja, belajar, berkomunikasi hingga menikmati hiburan banyak dilakukan dari rumah, kebutuhan terhadap gawai yang ringkas tetapi menawarkan pengalaman layar lebih luas ikut meningkat.

Konsumsi layanan digital pun meningkat, sehingga mengubah kebiasaan masyarakat dalam memperoleh informasi dan hiburan, sebagaimana terlihat pada data Badan Pusat Statistik (BPS) di bawah ini:

Kebutuhan terhadap layar yang lebih luas tanpa mengorbankan mobilitas pun terus berkembang. Riset Samsung pada 2026 terhadap pengguna smartphone di lima negara Eropa menunjukkan 85% responden pernah memulai aktivitas di gawai, tetapi kemudian menyelesaikannya di perangkat dengan layar lebih besar.

Sebanyak 29% responden menyebut keterbatasan ruang layar sebagai salah satu kendala, sementara 69% menginginkan fleksibilitas smartphone tipis yang dapat dibuka menjadi layar lebih besar. Menonton, membaca, atau bermain game di layar lebih besar juga menjadi salah satu manfaat foldable yang paling banyak disebut.

Kebutuhan layar besar bahkan lebih terlihat pada aktivitas hiburan. Dalam survei Samsung terhadap 1.062 calon pengguna ponsel lipat di Jepang, menonton video menjadi aktivitas yang paling banyak ingin dilakukan pada layar besar, yakni 52,1% responden, disusul bermain game 37,3% dan membaca e-book 25,2%.

Sementara di Indonesia,  smartphone masih menjadi perangkat utama untuk menonton layanan streaming, sebagaimana terlihat pada survei Jakpat pada November-Desember 2025 di bawah ini:

Harga Gawai Makin Mahal, Pengalaman Sebelum Membeli Jadi Penting

Pada akhirnya, kebutuhan terhadap gawai menjadi semakin besar, sementara ruang gerak konsumen untuk membeli perangkat baru tidak selalu ikut melebar. Harga perangkat yang naik membuat konsumen harus semakin selektif dalam memilih gawai yang mampu mengakomodasi berbagai aktivitas.

Lita misalnya, tidak langsung membeli Huawei MatePad 11,5 inci yang kini menemaninya bekerja dan menonton drama Korea Selatan. Sebelum membeli tablet ini pada akhir 2025, ia terlebih dahulu mengeceknya ke gerai Erafone di Jakarta Barat.

Sepengetahuannya, perangkat Huawei tidak dilengkapi layanan Google. “Aku cek dulu untuk memastikan alat ini bisa atau tidak dipakai untuk bekerja,” kata Lita.

Pertimbangan seperti itu menjadi semakin penting ketika harga perangkat mulai naik, dipicu kelangkaan cip memori global. Berdasarkan data Counterpoint Research, kenaikan harga gawai di Indonesia berkisar 7% hingga 45%, baik model lama maupun produk baru.

Kenaikan harga gadget itu terjadi seiring tekanan pasokan memori global. Produsen memori mengalihkan lini produksi DRAM dan NAND ke cip untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) yang memiliki margin lebih tinggi. Kondisi ini membuat pasokan memori untuk perangkat elektronik konsumen menyusut.

Di Indonesia, dampak kenaikan harga terutama dirasakan segmen entry-level dan kelas menengah. Pengiriman smartphone di Tanah Air turun 9% secara tahunan atau year on year (yoy) pada kuartal I 2026 karena konsumen menunda penggantian gawai.

Tekanan kenaikan harga tersebut membuat konsumen perlu mengubah cara memilih smartphone. Bukan hanya melihat kapasitas RAM atau chipset terbaru, konsumen disarankan memperhatikan daya tahan baterai, konsistensi performa, serta umur pakai perangkat.

Segmen entry-level dengan harga di bawah US$150 atau Rp2,7 juta (kurs Rp17.700 per US$) atau turun 19% yoy. Sebaliknya, segmen premium dengan harga di atas US$600 atau Rp10,6 juta mencatat kontribusi tertinggi terhadap total pengiriman, yakni 8,3%. Segmen ini juga tumbuh 30% yoy.

"Segmen entry-level paling terpukul. Konsumen di segmen ini memilih menunda pembelian atau beralih ke ponsel bekas," kata Senior Analyst Counterpoint Research Shilpi Jain dalam riset Indonesia Smartphone Tracker Q1 2026.

Ia pun menyarankan konsumen tidak hanya membandingkan spesifikasi ketika memilih perangkat. Daya tahan perangkat menjadi salah satu pertimbangan penting karena harga smartphone meningkat.

Ada tiga ukuran yang disebut dapat digunakan konsumen dalam memilih smartphone, yakni daya tahan baterai, konsistensi performa, dan umur pakai. Dari sisi baterai, konsumen disarankan memperhatikan kemampuan perangkat bertahan sepanjang hari serta kondisi kapasitas baterai setelah dua hingga tiga tahun pemakaian.

Untuk performa, konsumen dapat melihat apakah smartphone tetap responsif saat berpindah aplikasi, stabil dalam pemakaian rutin, dan tidak melambat drastis setelah setahun digunakan.

Sementara dari sisi umur pakai, konsumen perlu memperhatikan ketahanan fisik, ketersediaan suku cadang, serta berapa lama produsen memberikan pembaruan sistem dan keamanan.

Calon pembeli juga dinilai perlu memperhatikan berapa lama produsen menjanjikan pembaruan sistem dan keamanan, bukan hanya kapasitas RAM. Konsumen juga dianjurkan memperhatikan bagaimana perangkat bekerja setelah setahun pemakaian serta ketahanan fisiknya.

Kebutuhan mengecek langsung perangkat sebelum membeli, seperti yang dilakukan Lita di gerai Erafone, kini semakin relevan di tengah tekanan harga tersebut. Sejumlah peritel gawai turut merespons dengan menawarkan skema pembayaran yang lebih ringan, seperti cicilan tanpa kartu kredit, agar konsumen tetap bisa mengganti perangkat meski harga naik, sesuatu yang ditawarkan Erafone lewat program tahunannya, Festival Belanja erafone, yang tahun ini bertepatan dengan 30 tahun Erajaya Group.