Elephants

Curhat Atalarik Syach 11 Tahun Hadapi Sengketa Tanah, Minta Pemerintah Tegas

September 23, 2026

Jakarta -

Perjuangan mempertahankan tanahnya selama 11 tahun di Cibinong, Kabupaten Bogor, diakui aktor Atalarik Syach telah memberikan tekanan mental. Rumah dan lahannya kemudian dieksekusi pada Mei 2025.

Atalarik meminta pemerintah serius membenahi persoalan sengketa tanah dan menindak oknum yang merugikan masyarakat.

"Iya, kalau di sini bisa saya tambahkan itu dari Bawas MA, ini adalah bentuk konsekuensinya pemerintah terhadap yang jadi momok pada masyarakat, mafia tanah dan segala macam itu. Saya mewakili masyarakat yang punya iktikad baik dalam membeli suatu produk dan kita sudah dapatkan produk hukumnya, AJB, sertifikat," kata Atalarik di Pengadilan Negeri Cibinong, Bogor, Selasa (22/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Atalarik, masyarakat seharusnya mendapatkan kepastian karena dokumen kepemilikan tanah diterbitkan melalui mekanisme resmi pemerintah.

"Jadi makanya di sini minta pemerintah bukan di kasus saya aja, konsekuen! Dan pemerintah gak usah malu, perbaikin saja oknum-oknum hukumnya yang terlibat di sini," tegasnya.

Atalarik juga menilai persoalan tanah berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Ia sebagai pembeli berharap mendapat perlindungan dan tidak menjadi korban praktik yang disebutnya sebagai mafia tanah.

"Fundamental kekuatan suatu bangsa itu dari rakyat. Rakyat kalau enggak punya tanahnya gimana per individu mempertahankan NKRI istilahnya? Dan mudah-mudahan kita harus dilindungi. Jadi pembeli-pembeli beriktikad baik, yang ingin menguasai tanah dengan iktikad baik itu, jangan sampai mereka terjebak sama oknum-oknum yang katanya mungkin kita dengar ada mafia tanah," ujarnya.

Kuasa hukum Atalarik, Sopyan, mengingatkan masyarakat agar proaktif memastikan keabsahan dokumen dan status tanah sebelum melakukan transaksi. Hal itu guna mengamankan diri dari mafia tanah.

"Pesannya buat masyarakat, tetap aware terkait apa yang kita punya, apalagi terkait masalah lahan. Dicek ke BPN, peduli, dicek dari kelurahan, BPN, semua lihat batas-batasnya benar gak, apa patok apa yang harus dikasih, biar aman dari mafia-mafia nanti," kata Sopyan.

"Stres depresi pernah terjadi, tapi gak dalam waktu yang panjang. Tapi memang tiap-tiap ada momen-momen yang krusial, yang mengerucut, memang mengalami tekanan yang luar biasa terhadap mental itu udah pasti," ungkapnya.

Ia berharap persoalan yang dialaminya bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat sekaligus mendorong perbaikan sistem pertanahan agar warga yang beriktikad baik memperoleh kepastian dan perlindungan hukum.

(fbr/pus)